Kerusuhan Sumbawa - Bali

Kamis, 24 Januari 2013

TAK APA, ITU KATA MEREKA

Saat ricuh itu terjadi, kekhawatiran melanda di dada kami. Teman kami, sahabat kami, terancam kehilangan apa yang mereka punya. Karena Satu alasan yang sebenarnya tidak benar-benar ada sangkut pautnya dengan mereka.

Sms masuk di Hp ku, dari adik kelasku, sebut saja Ayu. “doakan kami. Doakan ayu sama keluarga Ayu selamat yah.”
Ku balas dengan sedikit rasa cemas, “iyah Ayu, semoga diberi ketabahan ya, semoga semua cepat selesai”.
Yah, mungkin semua orang berharap begitu. Mereka yang tertimpa musibah tetap sabar dan tabah. Dan kepada mereka-mereka yang menjarah dan mengamuk, diberi kesadaran.
Berbagai isu , berbagai konflik dan permasalahan muncul. Terserahlah apapun masalah itu, haruskah tana Samawa kehilangan kedamaiannya ?

Tidak terpungkiri, kami menangis. Saat melihat bara api yang marah melalap habis kediaman mereka. Saat massa mulai menjarah, menghancurkan, dan memporak-porandakan tempat mereka. Memusnahkan tempat mereka beribadah , tempat mereka menyembah kepada tuhan mereka. Hati kami mengiris pilu. Betapa tidak, Mungkin saja mereka tak tahu apa-apa. Tak kenal dengan si pembuat masalah. Lalu mereka terkena imbasnya? Memangnya MEREKA salah apa !

Polos wajah mereka, atau wajah-wajah tua dan renta, yang bahkan tak mengerti apa-apa harus rela bersakitan dalam perasaan takut dan terkecam. Tabahkan mereka ya tuhan :/

Bukakan hati mereka yang mungkin sedang khilaf. Hentikan mereka dari perbuatan dosa yang tak terhingga.berikan mereka kesadaran agar mereka tau cara mereka salah. Menyakiti sesama manusia itu berdosa kan Tuhan ? Tidakkah mereka takut akan azabmu ? Karena semua orang tau tuhan, Semua itu, apapun itu, pasti ada pembalasannya kan Tuhan ?

Kami tengok teman kami di pengungsian sana yang sedang harap-harap cemas tentang hari esoknya. “hai, kamu gimana?” tanyaku pada nya. “yah beginilah, apa yang bisa kami perbuat ? “ jawabnya sembari tersenyum padaku, dengan tatapan kosongnya. Jujur perih yang kurasa saat melihatnya, mungkin tak sebanding dengan perih yang sedang ia rasakan. “Rumahmu bagaimana? Selamatkah? “.
“ jangan tanyakan aku put, tanyakan pada mereka. Disini kami sedang bingung dengan apa yang terjadi, kenapa kami bisa disini, dan apa hubungannya semua itu dengan kami ? ah, aku tak tahu bagaimana dengan rumahku. Karena yang kami fikirkan adalah bagaiman kami bisa bertahan dan tetap dekat dengan keluarga kami.”.
Aku hanya tersenyum getir melihatnya. “maaf yah Luh”.
‘maaf untuk apa put? Kalian tidak salah, tapi kami juga tidak salah put. Kalian itu orang Sumbawa, sama seperti kami. Kami juga Orang SUMBAWA. Bukankah itu berarti ini Tana kami juga? Bukannya kita ini bersaudara kann put? Bukannya bersaudara dalam perbedaan itu menyenangkan ?  Kami lahir, tinggal, tumbuh dan beribadah disini, di Sumbawa. Kami merasa menyatu dengan Sumbawa. Kami sangat MENCINTAI SUMBAWA !. Tidakkah Sumbawa mencintai kami put? “.

“aku mengerti luh,kita memang saudara,makanya aku meminta maafmu. Karena mungkin saudara kita sedang khilaf dan tidak berfikir panjang tentang semua ini.” Jawabku.
“sudahlah put, kami juga ingin Sumbawa ini damai. Ini Sumbawa kita besama kan? Kami mencintai Sumbawa put, raga kami menyatu disini. Tidak sayangkah kalian dengan Sumbawa sampai rela membuatnya terlihat tidak damai lagi ?”. Aku mencerna kata-katanya dengan baik. Di berbicara padaku, tapi tatapannya hanya menghadap kebawah.

 Dia tersenyum padaku. “Pulang dari sini kamu mengaji yah? Doakan saudara-saudar mu disini. Kami butuh doa kalian, semoga Tuhan mu mendengar tangisan kami juga. Berdoalah. Kami Tidak apa begini. Ini ujian untuk kami. Tak apa J . semoga semuanya cepat selesai yah. Semoga Sumbawa kita damai lagi. Semoga keselamatan tetap bersama kita. Untuk kami, juga untuk kaLian. Tak apa, Kita ini saudara kan? Tak usah minta maaf lagi. Kami memaafkan kalian. Kami juga minta maaf untuk kesalah apapun itu yang mungkin menjadi pemicu kami bisa berada disini. Sampaikan salam untuk teman yang lain. Beribadahlah dan Doakan kami disini yah”.

Hatiku miris mendengarnya. Akku memeluknya tanpa bisa menahan air mataku. Aku terisak di pundaknya. Tak tahan melihat ketegarannya. Tak sangka mereka masih bisa bilang mereka semua bersaudara setelah apa yang telah orang itu lakukan. Dia hanya mengelus bahuku, dengan kelembutan, sesak yang kurasa saat melihat betapa kesengsaraan dan kecemasan itu tak membuat mereka marah atau dendam. “TAK APA” itu kata mereka :’(


 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS