TAK APA, ITU KATA
MEREKA
Saat ricuh itu
terjadi, kekhawatiran melanda di dada kami. Teman kami, sahabat kami, terancam
kehilangan apa yang mereka punya. Karena Satu alasan yang sebenarnya tidak
benar-benar ada sangkut pautnya dengan mereka.
Sms masuk di Hp
ku, dari adik kelasku, sebut saja Ayu. “doakan kami. Doakan ayu sama keluarga
Ayu selamat yah.”
Ku balas dengan
sedikit rasa cemas, “iyah Ayu, semoga diberi ketabahan ya, semoga semua cepat
selesai”.
Yah, mungkin
semua orang berharap begitu. Mereka yang tertimpa musibah tetap sabar dan
tabah. Dan kepada mereka-mereka yang menjarah dan mengamuk, diberi kesadaran.
Berbagai isu ,
berbagai konflik dan permasalahan muncul. Terserahlah apapun masalah itu,
haruskah tana Samawa kehilangan kedamaiannya ?
Tidak
terpungkiri, kami menangis. Saat melihat bara api yang marah melalap habis
kediaman mereka. Saat massa mulai menjarah, menghancurkan, dan
memporak-porandakan tempat mereka. Memusnahkan tempat mereka beribadah , tempat
mereka menyembah kepada tuhan mereka. Hati kami mengiris pilu. Betapa tidak,
Mungkin saja mereka tak tahu apa-apa. Tak kenal dengan si pembuat masalah. Lalu
mereka terkena imbasnya? Memangnya MEREKA salah apa !
Polos wajah
mereka, atau wajah-wajah tua dan renta, yang bahkan tak mengerti apa-apa harus
rela bersakitan dalam perasaan takut dan terkecam. Tabahkan mereka ya tuhan :/
Bukakan hati
mereka yang mungkin sedang khilaf. Hentikan mereka dari perbuatan dosa yang tak
terhingga.berikan mereka kesadaran agar mereka tau cara mereka salah. Menyakiti
sesama manusia itu berdosa kan Tuhan ? Tidakkah mereka takut akan azabmu ?
Karena semua orang tau tuhan, Semua itu, apapun itu, pasti ada pembalasannya
kan Tuhan ?
Kami tengok teman
kami di pengungsian sana yang sedang harap-harap cemas tentang hari esoknya.
“hai, kamu gimana?” tanyaku pada nya. “yah beginilah, apa yang bisa kami
perbuat ? “ jawabnya sembari tersenyum padaku, dengan tatapan kosongnya. Jujur
perih yang kurasa saat melihatnya, mungkin tak sebanding dengan perih yang
sedang ia rasakan. “Rumahmu bagaimana? Selamatkah? “.
“ jangan tanyakan
aku put, tanyakan pada mereka. Disini kami sedang bingung dengan apa yang
terjadi, kenapa kami bisa disini, dan apa hubungannya semua itu dengan kami ?
ah, aku tak tahu bagaimana dengan rumahku. Karena yang kami fikirkan adalah
bagaiman kami bisa bertahan dan tetap dekat dengan keluarga kami.”.
Aku hanya
tersenyum getir melihatnya. “maaf yah Luh”.
‘maaf untuk apa
put? Kalian tidak salah, tapi kami juga tidak salah put. Kalian itu orang
Sumbawa, sama seperti kami. Kami juga Orang SUMBAWA. Bukankah itu berarti ini
Tana kami juga? Bukannya kita ini bersaudara kann put? Bukannya bersaudara
dalam perbedaan itu menyenangkan ? Kami
lahir, tinggal, tumbuh dan beribadah disini, di Sumbawa. Kami merasa menyatu dengan
Sumbawa. Kami sangat MENCINTAI SUMBAWA !. Tidakkah Sumbawa mencintai kami put?
“.
“aku mengerti
luh,kita memang saudara,makanya aku meminta maafmu. Karena mungkin saudara kita
sedang khilaf dan tidak berfikir panjang tentang semua ini.” Jawabku.
“sudahlah put,
kami juga ingin Sumbawa ini damai. Ini Sumbawa kita besama kan? Kami mencintai
Sumbawa put, raga kami menyatu disini. Tidak sayangkah kalian dengan Sumbawa sampai
rela membuatnya terlihat tidak damai lagi ?”. Aku mencerna kata-katanya dengan
baik. Di berbicara padaku, tapi tatapannya hanya menghadap kebawah.
Dia tersenyum padaku. “Pulang dari sini kamu
mengaji yah? Doakan saudara-saudar mu disini. Kami butuh doa kalian, semoga
Tuhan mu mendengar tangisan kami juga. Berdoalah. Kami Tidak apa begini. Ini
ujian untuk kami. Tak apa J . semoga semuanya cepat selesai yah.
Semoga Sumbawa kita damai lagi. Semoga keselamatan tetap bersama kita. Untuk
kami, juga untuk kaLian. Tak apa, Kita ini saudara kan? Tak usah minta maaf
lagi. Kami memaafkan kalian. Kami juga minta maaf untuk kesalah apapun itu yang
mungkin menjadi pemicu kami bisa berada disini. Sampaikan salam untuk teman
yang lain. Beribadahlah dan Doakan kami disini yah”.
Hatiku miris
mendengarnya. Akku memeluknya tanpa bisa menahan air mataku. Aku terisak di
pundaknya. Tak tahan melihat ketegarannya. Tak sangka mereka masih bisa bilang
mereka semua bersaudara setelah apa yang telah orang itu lakukan. Dia hanya
mengelus bahuku, dengan kelembutan, sesak yang kurasa saat melihat betapa
kesengsaraan dan kecemasan itu tak membuat mereka marah atau dendam. “TAK APA”
itu kata mereka :’(



