“ANALISA PROGRAM MATA NAJWA DI METRO TV”

Rabu, 13 Januari 2016

Televisi merupakan salah satu media massa sebagai penyalur informasi dan hiburan. Televisi  merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi masyarakat di era moderen seperti ini. Selain sebagai sarana penyampaian informasi, edukasi, dan hiburan, televisi juga bahkan digunakan sebagai propaganda dalam politik. Banyak sekali jenis program acara yang ditawarkan televisi, salah satunya yang saya sukai adalah Program talk show “Mata Najwa” yang disiarkan di Metro Tv. Sebagai salah satu televisi nasional di Indonesia yang memiliki mayoritas program berbentuk informai dan edukasi dan minim hiburan, talk show Mata Najwa merupakan program yang menjadi gebrakan yang baik untuk metro tv.  Segmentasi pemirsa yang cenderung berasal dari kalangan atas, membuat Mata Najwa menjadi salah satu tayangan edukasi yang elegan dan bermanfaat bagi para penggiat infomasi dan politik.
Mata Najwa merupakan talk show yang pertama kali disiarkan pada 25 November 2009 dan dibawakan oleh seorang jurnalis senior di Metro Tv, yaitu Najwa Shihab. Najwa Shihab yang notabenenya adalah anchor dari program berita lain di Metro tv, mendapat tantangan untuk membawakan program menggunakan namanya sendiri, dan menciptakan karakter di dalam sebuah program sebagai identitas program tersebut. Program tersebut mengangkat isu-isu terkait dengan fenomena sosial, budaya, ekonomi dan politik yang sedang hangat diperbincangkan di tengah masyarakat dengan menghadirkan beberapa narasumber untuk diwawancarai pendapatnya mengenai kasus tertentu. Sejumlah narasumber yang pernah hadir di Mata Najwa, diantaranya adalah BJ Habibie,  Jusuf Kalla, Menteri BUMN Dahlan Iskan, dan Joko Widodo semasa masih menjadi gubernur DKI Jakarta. Dan program ini sudah banyak mendapatkan berbagai penghargaan dan award dari dalam bahkan luar negeri. Menurut saya, hal ini membuktikan kredibilitas acara ini tidak diragukan lagi.
Mata Najwa yang ditayangkan setiap Rabu, dari jam 8 malam hingga setengah sepuluh malam ini dianggap telah sukses dalam menayangkan setiap episodenya. Hal ini dikarenakan karakter Najwa yang dibawakan pada program ini menjadi menarik untuk disimak, misalnya sikap dan tampilan yang elegan dari Najwa, kelugasan, sikap kritis, cara bicara yang cepat,dan  tajam dalam mengulik informasi dari narasumber  membuat kita akan betah berlama-lama untuk diam di depan televisi dan menyimak tayangan tersebut. Tapi kesuksesan acara tersebut tidak hanya dari karakter acara yang dibawakan oleh Najwa, tapi juga dari pengemasan acara yang dinamis dan dibuat sesuai dengan topik yang sedang hangat diperbincangkan di masyarakat. Karena hal itulah, Mata Najwa mampu bertahan menghadapi persaingan dari program acara sejenis yang bahkan diikuti oleh televisi-televisi lain. 
            Selain itu, alasan saya menyukai program Mata Najwa adalah bagaimana Najwa membawakan berita politik yang berat menjadi ringan untuk dibahas. Sebagai orang yang tergolong anak muda, minat saya terhadap berita atau politik  atau talkshow politik tidaklah begitu tinggi dibanding minat saya acara atau program tv hiburan lainnya. Misalnya saja program acara talkshow pada pagi hari di TV One atau semacam Indonesia Lawyer Club. Mata Najwa berbeda karena karakter dari Najwa sebagai prsenter dan pemandu acara amat sangat ditonjolkan. Menurut saya sendiri, Najwa adalah jurnalis senior yang sangat menginspirasi dan membuat saya tertarik dan membuat saya lebih melek terhadap politik. Apalagi, saat sesi talkshow dengan narasumber, terkadang Najwa Shihab dengan amat spontan bertanya dan membuat nrasumber menjadi salah tingkah.
            Namun seperti yang kita tahu, televisi juga dapat dijadikan propaganda politik oleh tangan-tangan penguasa kita.  Sering kali program acara seperti ini bahkan dianulir sebagai sarana pembentuk opini publik yang sangat besar kekuatannya. Apalagi dengan jumlah penonton yang tergolong banyak, Mata Najwa menjadi alat propaganda poltik yang pas jika ada “idealisme” lain yang ikut campur didalam talkshow tersebut—selain idealisme untuk sarana edukasi tentunya. Bahkan, saya pernah berpikir saat Pemilihan Presiden tahun lalu, bagaimana acara Mata Najwa memilih perspektif untuk diangkat. Mengingat saat itu Metro tv dan Tv One sedang mengalami perang media yang sama-sama memegang kuat idealis pemiliknya, yaitu Surya Paloh dan Abu Rizal Bakri.  Apakah acara Mata Najwa akan ikut menjadi media dengan tuntutan idealisme pemiliknya ? Ternyata tidak. Hal itu membuat saya lega. Karena saat itu, Mata Najwa menghadirkan berbagai narasumber dari dua kubu dan sama-sama seimbang tanpa memojokan satu pihak. Lagi-lagi ini membuktikan bahwa kredibilitas  Mata Najwa dapat diacungi jempol. Karena pada saat yang sama,saat euforia pemilihan presiden,  program acara di televisi lain hanya akan menghadirkan narasumber dari satu pihak saja atau kadang narasumber dari kedua pihak tapi dialog yang dibuat akan memojokkan pihak yang satunya saja. Dan saya berharap, semoga saja Mata Najwa akan terus mengedepankan misinya, sebagai sarana edukasi dan alat untuk membuat masyarakat sadar akan politik tidak digunakan tangan penguasa nakal untuk melakukan propaganda politik. Saya rasa mungkin setiap orang akan memiliki pandangan yang berbeda, tetapi seperti yang saya jelaskan diatas, itulah beberapa hal yang mebuat saya menyukai program acara Mata Najwa. Dan semoga program acara tv lain akan ikut mempertimbangkan kredibilitas dan membawa amanat dan sudut pandang rakyat dalam mengupas masalah politik yang ada dan tidak terlalu keras menganut idealisme pemiliknya. Sekian.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS