Televisi
merupakan salah satu media massa sebagai penyalur informasi dan hiburan.
Televisi merupakan kebutuhan yang sangat
penting bagi masyarakat di era moderen seperti ini. Selain sebagai sarana
penyampaian informasi, edukasi, dan hiburan, televisi juga bahkan digunakan
sebagai propaganda dalam politik. Banyak sekali jenis program acara yang ditawarkan
televisi, salah satunya yang saya sukai adalah Program talk show “Mata Najwa”
yang disiarkan di Metro Tv. Sebagai salah satu televisi nasional di Indonesia
yang memiliki mayoritas program berbentuk informai dan edukasi dan minim
hiburan, talk show Mata Najwa merupakan program yang menjadi gebrakan yang baik
untuk metro tv. Segmentasi pemirsa yang
cenderung berasal dari kalangan atas, membuat Mata Najwa menjadi salah satu
tayangan edukasi yang elegan dan bermanfaat bagi para penggiat infomasi dan
politik.
Mata
Najwa merupakan talk show yang pertama kali disiarkan pada 25 November 2009 dan
dibawakan oleh seorang jurnalis senior di Metro Tv, yaitu Najwa Shihab. Najwa
Shihab yang notabenenya adalah anchor dari program berita lain di Metro tv,
mendapat tantangan untuk membawakan program menggunakan namanya sendiri, dan
menciptakan karakter di dalam sebuah program sebagai identitas program
tersebut. Program tersebut mengangkat isu-isu terkait dengan fenomena
sosial, budaya, ekonomi dan politik yang sedang hangat diperbincangkan di
tengah masyarakat dengan menghadirkan beberapa narasumber untuk diwawancarai
pendapatnya mengenai kasus tertentu. Sejumlah narasumber
yang pernah hadir di Mata Najwa, diantaranya adalah BJ Habibie, Jusuf Kalla, Menteri BUMN Dahlan Iskan, dan
Joko Widodo semasa masih menjadi gubernur DKI Jakarta. Dan program ini sudah
banyak mendapatkan berbagai penghargaan dan award dari dalam bahkan luar
negeri. Menurut saya, hal ini membuktikan kredibilitas acara ini tidak
diragukan lagi.
Mata
Najwa yang ditayangkan setiap Rabu, dari jam 8 malam hingga setengah sepuluh
malam ini dianggap telah sukses dalam menayangkan setiap episodenya. Hal ini
dikarenakan karakter Najwa yang dibawakan pada program ini menjadi menarik
untuk disimak, misalnya sikap dan tampilan yang elegan dari Najwa, kelugasan,
sikap kritis, cara bicara yang cepat,dan tajam dalam mengulik informasi dari narasumber membuat kita akan betah berlama-lama untuk
diam di depan televisi dan menyimak tayangan tersebut. Tapi kesuksesan acara
tersebut tidak hanya dari karakter acara yang dibawakan oleh Najwa, tapi juga dari
pengemasan acara yang dinamis dan dibuat sesuai dengan topik yang sedang hangat
diperbincangkan di masyarakat. Karena hal itulah, Mata Najwa mampu bertahan
menghadapi persaingan dari program acara sejenis yang bahkan diikuti oleh
televisi-televisi lain.
Selain itu, alasan saya menyukai
program Mata Najwa adalah bagaimana Najwa membawakan berita politik yang berat
menjadi ringan untuk dibahas. Sebagai orang yang tergolong anak muda, minat
saya terhadap berita atau politik atau
talkshow politik tidaklah begitu tinggi dibanding minat saya acara atau program
tv hiburan lainnya. Misalnya saja program acara talkshow pada pagi hari di TV
One atau semacam Indonesia Lawyer Club. Mata Najwa berbeda karena karakter dari
Najwa sebagai prsenter dan pemandu acara amat sangat ditonjolkan. Menurut saya
sendiri, Najwa adalah jurnalis senior yang sangat menginspirasi dan membuat
saya tertarik dan membuat saya lebih melek terhadap politik. Apalagi, saat sesi
talkshow dengan narasumber, terkadang Najwa Shihab dengan amat spontan bertanya
dan membuat nrasumber menjadi salah tingkah.
Namun seperti yang kita tahu,
televisi juga dapat dijadikan propaganda politik oleh tangan-tangan penguasa
kita. Sering kali program acara seperti
ini bahkan dianulir sebagai sarana pembentuk opini publik yang sangat besar
kekuatannya. Apalagi dengan jumlah penonton yang tergolong banyak, Mata Najwa
menjadi alat propaganda poltik yang pas jika ada “idealisme” lain yang ikut
campur didalam talkshow tersebut—selain idealisme untuk sarana edukasi tentunya.
Bahkan, saya pernah berpikir saat Pemilihan Presiden tahun lalu, bagaimana
acara Mata Najwa memilih perspektif untuk diangkat. Mengingat saat itu Metro tv
dan Tv One sedang mengalami perang media yang sama-sama memegang kuat idealis
pemiliknya, yaitu Surya Paloh dan Abu Rizal Bakri. Apakah acara Mata Najwa akan ikut menjadi
media dengan tuntutan idealisme pemiliknya ? Ternyata tidak. Hal itu membuat
saya lega. Karena saat itu, Mata Najwa menghadirkan berbagai narasumber dari
dua kubu dan sama-sama seimbang tanpa memojokan satu pihak. Lagi-lagi ini
membuktikan bahwa kredibilitas Mata
Najwa dapat diacungi jempol. Karena pada saat yang sama,saat euforia pemilihan
presiden, program acara di televisi lain
hanya akan menghadirkan narasumber dari satu pihak saja atau kadang narasumber
dari kedua pihak tapi dialog yang dibuat akan memojokkan pihak yang satunya
saja. Dan saya berharap, semoga saja Mata Najwa akan terus mengedepankan
misinya, sebagai sarana edukasi dan alat untuk membuat masyarakat sadar akan
politik tidak digunakan tangan penguasa nakal untuk melakukan propaganda
politik. Saya rasa mungkin setiap orang akan memiliki pandangan yang berbeda,
tetapi seperti yang saya jelaskan diatas, itulah beberapa hal yang mebuat saya
menyukai program acara Mata Najwa. Dan semoga program acara tv lain akan ikut
mempertimbangkan kredibilitas dan membawa amanat dan sudut pandang rakyat dalam
mengupas masalah politik yang ada dan tidak terlalu keras menganut idealisme
pemiliknya. Sekian.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar