“Ina, ayok bangun.
Sudah subuh nak, ayo jamaah sama ayah.” Ditepuknya pipiku,hangat. “Bangun Ina,
nanti subuhnya terlewat”, sambung ayah. “Iya ayah..”, sahutku dengan mata masih
tepejam. Akupun bangun dan segera mengambil wudhu. Ngantuk sekali rasanya,
dingin pula. Tapi aku tahu, kewajibanku tak boleh dilewatkan. Ayah bilang Solat
itu tiang agama, kalau aku gak solat, berarti imanku gak kuat. Kulihat ayah
menungguku sendirian. “Ibu mana yah ? Gak solat ?”, tanyaku. “Ibu sedang tidak
bisa, ayok kita mulai sholat”. Aku mengangguk dan mulai menggunakan mukenah,
dan segera solat dan diimami ayah. Ayah dan Ibu membiasakanku untuk solat
sedari kecil, mengajarkanku betapa pentingnya agama dan beribadah, mengajariku
membaca dan mencintai Al-Quran. Bukan, mereka bukan guru agama apalagi ustad,
hanya saja mereka memang orang-orang yang taat. Tapi bukan berarti segalanya
baik-baik saja. Kadang Ayah dan Ibu bertengkar karena masalah mereka, saling
mendiamkan adalah senjatanya. Jika sudah seperti itu, tidak berapa lama mereka
akan merasa rindu, dan baikan. Ya, secepat itu. Kadang aku tertawa meihat
tingkah mereka. Meskipun aku anak tunggal, aku tak pernah sendirian. Ayah dan
Ibu selalu ada untukku. Kapanpun. Dimanapun. Dan aku selalu merasa bahagia,
disetiap harinya.
***
Tapi,
itu dulu. Semuanya berubah, saat ujian itu datang.
Saat itu umurku
menginjak 14 tahun. Dan aku sudah mulai mengenakan jilbab. Yah, meskipun aku
tetap menggunakan celana saat berpergian. Kata Ibu itu tak masalah, Ibu bilang semua
ada waktunya. Aku percaya pada Ibu,
suatu saat aku akan mendapat hidayah-Nya. Asalkan aku juga berusaha memperbaiki
diri. Hari itu, aku mengajak ibu untuk membelikanku baju baru. Teman sekelasku
mengadakan syukuran ulang tahun, dan aku mulai merasa baju-bajuku sudah mulai
mengecil. Ayah juga ikut. Kami pergi bertiga malam itu, sekalian jalan-jalan
kata ayah. Kami sangat senang malam itu, seperti biasa, aku selalu merasa
bahagia. Ibu menyalakan radio di mobil, dan terdengar lantunan musik Seventeen-
hal terindah. Hehe, aku menyukai lagunya.
Aku dan Ibu menyanyikannya bersama. Kami tertawa, bahagia. Sampai saat ada
sinar lampu yang begitu terang sedang menuju mobil kami, tepat menuju mobil
kami. Ayah tak sempat banting setir, dan BRAKKK!! Yang kulihat hanya cahaya
terang yang menyilaukan dan suara bising yang membuat pening. Dan semua menjadi
gelap.
***
Mataku bengkak. Aku tak
bisa berhenti menangis. Sakit sekali rasanya. Mereka bilang Ibu pergi. Sudah
pergi. Mereka bilang Ibu ada di tempat yang baik, mereka bilang aku tak perlu
khawatir. Mereka mengatakan bahwa aku harus baik-baik saja,meski ibu tiada.
Mereka terlalu banyak berbicara. Mereka tidak tahu ini luka apa. Ibu pergi,
meninggalkanku dan Ayah. Tak seharusnya Ibu begitu. Aku tidak mau Ibu begitu.
Aku merasa sangat lelah... Aku tak percaya Ibu pergi begitu saja. Ayah,kulihat
ia diam saja. Tak mengeluarkan airmata. Ayah.. Ina mau ibu Ina yah.. teriakku
dalam hati. Sulit sekali menerima semuanya. Aku memeluk ayah. Menangis terisak
di dadanya. Ayah. Kenapa ibu pergi ? Aku masih bertanya-tanya. Sebenarnya aku
tahu, ini ujian. Ini takdir Allah SWT. Tapi hanya saja begitu sulit menerima
ini semua. Rasanya seperti Ibu direnggut paksa dari aku dan Ayah. Seperti
kebahagiaan kami tiba-tiba menguap begitu saja. Dan menyisakan hamparan gelap
yang membuat kami sesak. Kami kehilangan. Sangat kehilangan.
Dan kini.. aku jauh
lebih kehilangan. Ayah lebih sering melamun. Menatap kursi Ibu di meja makan,
melihat foto ibu, atau sekedar mencium wangi parfum Ibu yang tersisa di meja
riasnya. Kadang aku mendengar isakan dari kamarnya. Hatiku nyeri. Hatiku jadi
semakin sakit melihat ayah yang seperti ini. Kami bahkan jadi jarang berbicara.
Ibu, aku juga kehilangan Ayahku bu.. Aku ingin semua kembali seperti dulu..
Kebahagiaanku. Kebahagiaan kami. Meski aku tahu ibu takkan kembali, aku percaya
bahagiaku pasti kembali.
Keesokan harinya, aku
masak pagi-pagi sekali. Aku memasak sop ayam kesukaan Ayah. Mungkin tak seenak
ibu, tapi aku ingin Ayah kembali lagi seperti dulu. “Ayah. Ina masak nih.Sarapan
samaan yuk”, ajakku pada Ayah. Ayahpun duduk di meja, beliau sudah berpakaian
rapi, siap untuk berangkat kerja. “Buat sop yah Ina ? wah. Kayaknya enak nak”,
senyum Ayah. Aku mengisi piring nasi ayah dan mengambilkan sop untuknya,
seperti yang biasa Ibu lakukan. Ayah hanya tersenyum.. “Ini yah, makan ya. Ayah
antar Ina sekolah yah, Ina malas bawa motor.”,kataku. “Iya nak”, kata Ayah.
Ayah pun mulai makan. UHUK. Ayah terbatuk. “Kenapa yah, panas ? pelan dong
ayah. Hehe”, tawaku. “Ina ini asin banget sopnya.. “,kata Ayah. “Masa sih yah ?
Coba Ina rasa..”, aku mencicipi sop dan ueeek. Asin sekali. Hahaha.. kami
berdua tertawa bersama. “Hehe, maafin Ina ya yah. Ina gatau takarannya. Tadi
gak cicip juga. Maaf ya Ayah..” , sahutku. “Iya Ina, ntar sarapan diluar aja”,
ayah masih tertawa. Senang melihat Ayah tertawa. Andai Ibu ada disini..
Segalanya membaik. Aku
dan Ayah bersama-sama mengerjakan pekerjaan rumah, yah sekali-kali Kakak ayah,
Bude Indri membantu aku dan mengajariku masak.
Ayah juga mulai membaik, meskipun murung diwajahnya dan isakan di
kamarnya ku dengar sesekali. Hari-hari kami berjalan seperti biasa. Kadang kami
makan diluar, atau sesekali aku mengajak temanku menginap. Kadang aku merasa
kesepian. Kenangan Ibu dirumah ini juga begitu banyak, sehingga sering
mengingatkanku pada Ibu. Aku hanya bisa mengiriminya doa. Dan berharap ia
mengecup keningku disetiap tidur malamku.
***
“Ayaaaaah!!!!!!!!”,
teriakku panik. Jam 3 pagi. Ayah berlari menaiki tangga ke kamarku. Kudengar
suara kakinya begitu keras. “Ina kenapa nak ?”,tanya ayah dengan muka yang juga
panik. “Ayah, Ina berdarah..”, aku bergidik ngeri memandangi kasurku yang
terdapat bercak kemerahan. “Astaga.. Ayah kira apa. Sebentar.”, ayah turun dan
kembali lagi ke kamarku membawa sesuatu, milik Ibu. Oh. Aku tahu sekarang.. Aku
mengambilnya dan bertanya pada Ayah bagaimana cara memakainya. Ayah melenguh..
Ayah bilang tidak tahu dan menyuruhku mencarinya di google. Ayah bilang akan
menungguku dibawah.
Setelah selesai, akupun
turun kebawah dan duduk di depan Ayah. Kulihat matanya memerah. “Ina.. Ina
sekarang sudah besar. Maafin Ayah ya Ina.. Ayah tidak becus menjaga Ibu.. Ina,
seharusnya Ibu yang ada disini, bukan Ayah. Maafin Ayah nak..”, tangis Ayah
pecah. Aku pun tak kuat , tangisku juga pecah. “Ayah jangan begitu.. Ina sayang
sama Ayah sama Ibu.. Ayah bilang itu takdir yang di atas kan yah. Jadi kita
harus ikhlas. Ina sudah ikhlas yah.. “,isakku. Ayah menangis sesenggukan. “Ayah
rindu sekali sama Ibu.. Harusnya Ibu yang jagain Ina disini. Ayah tidak bisa
apa-apa tanpa Ibu. Kasihan Ina harus tinggal sama Ayah..,”. Aku tidak setuju
dengan kata-kata Ayah. “Ayah, Ina sayang sama kalian berdua. Siapapun yang ada
sama Ina sekarang,sama Ayah.. Ina sangat bersyukur. Ayah sudah jadi ayah yang
baik untuk Ina.. Ibu pasti senang disana .. Ina juga kangen Ibu yah.. Tapi ayah
gak bisa terus menerus menyalahkan diri ayah. Ina sayang sama Ayah.. “, aku
menangis.. Menangis hingga lelah.. Aku tahu. Sangat berat harus kehiangan orang
yang amat kita sayangi. Tapi Ibu bilang, semua pasti ada waktunya. Mungkin
sudah waktunya Ibu pergi. Mungkin sudah waktunya aku diuji untuk ikhlas. Aku
sadar, ketetapan Allah tak ada yang dapat mengubah. Makanya, aku bersyukur
masih ada Ayah. Ayah. Terima kasih. Ina sayang Ayah. Ina bahagia, selalu. Ibu
pasti disana sedang senyum lihat kita. Ina percaya itu. Ina harus tetap kuat
dan tabah.
***



Tidak ada komentar:
Posting Komentar