Kebahagiaan Ina

Sabtu, 09 Januari 2016

“Ina, ayok bangun. Sudah subuh nak, ayo jamaah sama ayah.” Ditepuknya pipiku,hangat. “Bangun Ina, nanti subuhnya terlewat”, sambung ayah. “Iya ayah..”, sahutku dengan mata masih tepejam. Akupun bangun dan segera mengambil wudhu. Ngantuk sekali rasanya, dingin pula. Tapi aku tahu, kewajibanku tak boleh dilewatkan. Ayah bilang Solat itu tiang agama, kalau aku gak solat, berarti imanku gak kuat. Kulihat ayah menungguku sendirian. “Ibu mana yah ? Gak solat ?”, tanyaku. “Ibu sedang tidak bisa, ayok kita mulai sholat”. Aku mengangguk dan mulai menggunakan mukenah, dan segera solat dan diimami ayah. Ayah dan Ibu membiasakanku untuk solat sedari kecil, mengajarkanku betapa pentingnya agama dan beribadah, mengajariku membaca dan mencintai Al-Quran. Bukan, mereka bukan guru agama apalagi ustad, hanya saja mereka memang orang-orang yang taat. Tapi bukan berarti segalanya baik-baik saja. Kadang Ayah dan Ibu bertengkar karena masalah mereka, saling mendiamkan adalah senjatanya. Jika sudah seperti itu, tidak berapa lama mereka akan merasa rindu, dan baikan. Ya, secepat itu. Kadang aku tertawa meihat tingkah mereka. Meskipun aku anak tunggal, aku tak pernah sendirian. Ayah dan Ibu selalu ada untukku. Kapanpun. Dimanapun. Dan aku selalu merasa bahagia, disetiap harinya.

***
Tapi, itu dulu. Semuanya berubah, saat ujian itu datang.
Saat itu umurku menginjak 14 tahun. Dan aku sudah mulai mengenakan jilbab. Yah, meskipun aku tetap menggunakan celana saat berpergian. Kata Ibu itu tak masalah, Ibu bilang semua ada waktunya.  Aku percaya pada Ibu, suatu saat aku akan mendapat hidayah-Nya. Asalkan aku juga berusaha memperbaiki diri. Hari itu, aku mengajak ibu untuk membelikanku baju baru. Teman sekelasku mengadakan syukuran ulang tahun, dan aku mulai merasa baju-bajuku sudah mulai mengecil. Ayah juga ikut. Kami pergi bertiga malam itu, sekalian jalan-jalan kata ayah. Kami sangat senang malam itu, seperti biasa, aku selalu merasa bahagia. Ibu menyalakan radio di mobil, dan terdengar lantunan musik Seventeen- hal terindah. Hehe, aku menyukai lagunya.  Aku dan Ibu menyanyikannya bersama. Kami tertawa, bahagia. Sampai saat ada sinar lampu yang begitu terang sedang menuju mobil kami, tepat menuju mobil kami. Ayah tak sempat banting setir, dan BRAKKK!! Yang kulihat hanya cahaya terang yang menyilaukan dan suara bising yang membuat pening. Dan semua menjadi gelap.
***
Mataku bengkak. Aku tak bisa berhenti menangis. Sakit sekali rasanya. Mereka bilang Ibu pergi. Sudah pergi. Mereka bilang Ibu ada di tempat yang baik, mereka bilang aku tak perlu khawatir. Mereka mengatakan bahwa aku harus baik-baik saja,meski ibu tiada. Mereka terlalu banyak berbicara. Mereka tidak tahu ini luka apa. Ibu pergi, meninggalkanku dan Ayah. Tak seharusnya Ibu begitu. Aku tidak mau Ibu begitu. Aku merasa sangat lelah... Aku tak percaya Ibu pergi begitu saja. Ayah,kulihat ia diam saja. Tak mengeluarkan airmata. Ayah.. Ina mau ibu Ina yah.. teriakku dalam hati. Sulit sekali menerima semuanya. Aku memeluk ayah. Menangis terisak di dadanya. Ayah. Kenapa ibu pergi ? Aku masih bertanya-tanya. Sebenarnya aku tahu, ini ujian. Ini takdir Allah SWT. Tapi hanya saja begitu sulit menerima ini semua. Rasanya seperti Ibu direnggut paksa dari aku dan Ayah. Seperti kebahagiaan kami tiba-tiba menguap begitu saja. Dan menyisakan hamparan gelap yang membuat kami sesak. Kami kehilangan. Sangat kehilangan.
Dan kini.. aku jauh lebih kehilangan. Ayah lebih sering melamun. Menatap kursi Ibu di meja makan, melihat foto ibu, atau sekedar mencium wangi parfum Ibu yang tersisa di meja riasnya. Kadang aku mendengar isakan dari kamarnya. Hatiku nyeri. Hatiku jadi semakin sakit melihat ayah yang seperti ini. Kami bahkan jadi jarang berbicara. Ibu, aku juga kehilangan Ayahku bu.. Aku ingin semua kembali seperti dulu.. Kebahagiaanku. Kebahagiaan kami. Meski aku tahu ibu takkan kembali, aku percaya bahagiaku pasti kembali.
Keesokan harinya, aku masak pagi-pagi sekali. Aku memasak sop ayam kesukaan Ayah. Mungkin tak seenak ibu, tapi aku ingin Ayah kembali lagi seperti dulu. “Ayah. Ina masak nih.Sarapan samaan yuk”, ajakku pada Ayah. Ayahpun duduk di meja, beliau sudah berpakaian rapi, siap untuk berangkat kerja. “Buat sop yah Ina ? wah. Kayaknya enak nak”, senyum Ayah. Aku mengisi piring nasi ayah dan mengambilkan sop untuknya, seperti yang biasa Ibu lakukan. Ayah hanya tersenyum.. “Ini yah, makan ya. Ayah antar Ina sekolah yah, Ina malas bawa motor.”,kataku. “Iya nak”, kata Ayah. Ayah pun mulai makan. UHUK. Ayah terbatuk. “Kenapa yah, panas ? pelan dong ayah. Hehe”, tawaku. “Ina ini asin banget sopnya.. “,kata Ayah. “Masa sih yah ? Coba Ina rasa..”, aku mencicipi sop dan ueeek. Asin sekali. Hahaha.. kami berdua tertawa bersama. “Hehe, maafin Ina ya yah. Ina gatau takarannya. Tadi gak cicip juga. Maaf ya Ayah..” , sahutku. “Iya Ina, ntar sarapan diluar aja”, ayah masih tertawa. Senang melihat Ayah tertawa. Andai Ibu ada disini..
Segalanya membaik. Aku dan Ayah bersama-sama mengerjakan pekerjaan rumah, yah sekali-kali Kakak ayah, Bude Indri membantu aku dan mengajariku masak.  Ayah juga mulai membaik, meskipun murung diwajahnya dan isakan di kamarnya ku dengar sesekali. Hari-hari kami berjalan seperti biasa. Kadang kami makan diluar, atau sesekali aku mengajak temanku menginap. Kadang aku merasa kesepian. Kenangan Ibu dirumah ini juga begitu banyak, sehingga sering mengingatkanku pada Ibu. Aku hanya bisa mengiriminya doa. Dan berharap ia mengecup keningku disetiap tidur malamku.
***
“Ayaaaaah!!!!!!!!”, teriakku panik. Jam 3 pagi. Ayah berlari menaiki tangga ke kamarku. Kudengar suara kakinya begitu keras. “Ina kenapa nak ?”,tanya ayah dengan muka yang juga panik. “Ayah, Ina berdarah..”, aku bergidik ngeri memandangi kasurku yang terdapat bercak kemerahan. “Astaga.. Ayah kira apa. Sebentar.”, ayah turun dan kembali lagi ke kamarku membawa sesuatu, milik Ibu. Oh. Aku tahu sekarang.. Aku mengambilnya dan bertanya pada Ayah bagaimana cara memakainya. Ayah melenguh.. Ayah bilang tidak tahu dan menyuruhku mencarinya di google. Ayah bilang akan menungguku dibawah.
Setelah selesai, akupun turun kebawah dan duduk di depan Ayah. Kulihat matanya memerah. “Ina.. Ina sekarang sudah besar. Maafin Ayah ya Ina.. Ayah tidak becus menjaga Ibu.. Ina, seharusnya Ibu yang ada disini, bukan Ayah. Maafin Ayah nak..”, tangis Ayah pecah. Aku pun tak kuat , tangisku juga pecah. “Ayah jangan begitu.. Ina sayang sama Ayah sama Ibu.. Ayah bilang itu takdir yang di atas kan yah. Jadi kita harus ikhlas. Ina sudah ikhlas yah.. “,isakku. Ayah menangis sesenggukan. “Ayah rindu sekali sama Ibu.. Harusnya Ibu yang jagain Ina disini. Ayah tidak bisa apa-apa tanpa Ibu. Kasihan Ina harus tinggal sama Ayah..,”. Aku tidak setuju dengan kata-kata Ayah. “Ayah, Ina sayang sama kalian berdua. Siapapun yang ada sama Ina sekarang,sama Ayah.. Ina sangat bersyukur. Ayah sudah jadi ayah yang baik untuk Ina.. Ibu pasti senang disana .. Ina juga kangen Ibu yah.. Tapi ayah gak bisa terus menerus menyalahkan diri ayah. Ina sayang sama Ayah.. “, aku menangis.. Menangis hingga lelah.. Aku tahu. Sangat berat harus kehiangan orang yang amat kita sayangi. Tapi Ibu bilang, semua pasti ada waktunya. Mungkin sudah waktunya Ibu pergi. Mungkin sudah waktunya aku diuji untuk ikhlas. Aku sadar, ketetapan Allah tak ada yang dapat mengubah. Makanya, aku bersyukur masih ada Ayah. Ayah. Terima kasih. Ina sayang Ayah. Ina bahagia, selalu. Ibu pasti disana sedang senyum lihat kita. Ina percaya itu. Ina harus tetap kuat dan tabah.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS