Explore Singapore : My Wonderful Trip—Goes To Singapore

Sabtu, 09 Januari 2016

Ruang berkaca itu menampakan puluhan manusia yang sedang duduk di dalamnya. Ada yang sedang berbicara dengan temannya, ada yang berbicara dengan telpon genggamnya, ada yang sedang menikmati cemilan, ada juga yang sedang sibuk dan bingung mengisi kartu keberangkatannya—aku salah satunya. Ini kali pertama aku melakukan penerbangan internasional. Tentunya pun ini pertama kalinya pasporku mendapat cap dari petugas imigrasi. Penerbangan ke Singapura bersama rombongan mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa dan para peserta Gong Traveling lainnya ini akan boarding pada pukul 10.30 dengan pesawat Lion Air JT 0154. Berhubung kami harus boarding lima menit lagi, aku berhenti mengisi kartu keberangkatan dan mulai mengecek barang yang akan kami bawa ke pesawat. Paspor, boarding pass, tas yang akan dimasukan ke kabin, dan juga dompet beserta isinya, and just for information,kita dilarang membawa air atau benda yang berbentuk cair seperti minuman dan parfum lebih dari 100 ml kedalam kabin pesawat. Dan tak lupa sebelum check in tadi, aku dan rombongan telah menukar pundi-pundi rupiah kami menjadi dolar Singapura.
Aku mendapat tempat duduk di seat 8b. Seperti biasa, semesta kembali berkonspirasi—memaksa bibir mengucap syukur, membuatku terpekur. Aku berada di atas awan. Di bawahku hanya ada hamparan warna biru-putih yang menyejukkan-menenangkan. Tak terasa 1 jam 21 menit terlewat dan pesawat akan landing di Changi Airport

di Welcome-wall Chagi Airport.



Yap, Changi ! Bandara Internasional yang di nobatkan sebagai bandara terbaik di dunia pada tahun 2015 untuk yang ketiga kalinya ini membuat aku dan semuanya terpukau. Begitu selesai melalui tahap imigrasi dan mengambil peta Singapore, tak lupa aku mengabadikan moment penting ini.  Setelah itu, aku dan rombongan yang lain berkumpul di sebelah ticket office. Kami akan membeli tiket STP (Singapore Tourist Pass) seharga 30 dollar Singapura yang akan kami gunakan untuk menaiki MRT. MRT adalah transportasi utama yang digunakan secara mass untuk tertib al oleh penduduk Singapura. Untuk menaiki MRT ini, kita dapat menggunakan standart ticket yang dibeli di mesin tiket, atau menggunakan EZ-Link kartu yang dapat diisi ulang jika saldonya habis. Tapi untuk kami yang melancong ke Singapura hanya 3 hari, dapat menggunakan STP 3 day pass tersebut. Dan jika kartu itu dikembalikan, maka akan ada refund sebesar 10 dollar sebagai deposit kartu tersebut. Nah, setelah itu akupun menuju stasiun MRT di Changi, men-tap kartu STP ke mesin yang ada lalu menuju ke stasiun Tanah Merah untuk berganti kereta ke tujuan Aljuned. Dan saat mengantri kereta yang datang, mereka benar-benar memenuhi tata tertib yang berlaku. Mengantri dan mendahulukan orang yang keluar dari kereta. Didalam keretapun sangat kentara betapa penumpang menghargai orang-orang yang di “prioritaskan”. Mereka akan memberikan tempat duduk lebih dahulu kepada orang lanjut usia, difabel, ibu hamil, dan orang tua yang membawa anak mereka. Di dalam MRT pun tidak boleh  makan, minum, merokok, dan membawa gas yang mudah terbakar, karena jika dilanggar, akan mendapat denda sekitar 500-5000 dolar, kira-kira lima juta sampai lima puluh juta rupiah. Pantas saja negara ini disebut negara denda. Setelah hampir sepuluh menit, kami sampai di stasiun Aljuned. Kami turun ke lantai bawah dan men-tap kembali kartu kami. Kami diarahkan untuk berkumpul di lapangan. Di pinggir lapangan, terlihat sepeda yang bagus sampai sepeda butut berbaris rapi di bawah Sign yang bertuliskan Park Here. Di sampingnya, ada sebuah pohon besar yang rindang yang kemudian menjadi tempat kami berkumpul.

Parkiran Sepeda di dekat stasiun Al-juned

di dalam MRT (Mass Rapid Transportation)


Tak terasa perutku mulai bernyanyi—meneriakan rasa lapar yang semakin menjadi-jadi. Jarum jam sudah menunjukan pukul setengah empat sore dan kami bahkan belum makan siang. Aku dan teman-temanpun bergegas ke Mufiz cafe.Mufiz cafe—tempat makan yang menyediakan muslim food yang berada di  daerah Geylang ini cukup ramai didatangi pengunjung. Dan rata-rata, pengunjungnya adalah orang Melayu dan orang India. Disini memesan makanan pun cukup mudah karena semua pelayannya merupakan orang India dan menggunakan bahasa Melayu. Akupun memesan Nasi Briyani dengan lauk daging kambing seharga $6 dan ice lemon tea seharga $1,8. Satu porsi nasi Briyani ini sungguh membuat perut kenyang. Jika ingin makan disini, harga makanan yang ditawarkan berkisar antara $3 sampai $6. Dijamin kenyang dan halal, meskipun cukup menguras kantong mahasiswa seperti kami.  Memang makanan di Singapura jauh lebih mahal daripada di Indonesia, itu dikarenakan lahan di Singapura yang tidak begitu luas membuat sumber daya alam di negara ini sangat terbatas. Sehingga negara ini perlu meng-impor bahan pangan dari negara-negara tetangga. Hal itulah yang membuat makanan dan biaya hidup di Singapura sangat tinggi sampai membuat Singapura berada pada peringkat pertama negara kota termahal di dunia. Di Singapura, disarankan untuk membawa botol kosong. Karena disini air kemasan sangat mahal, kita dapat menggunakan botol kosong untuk menampung air. Setelah puas makan di Mufiz cafe, aku dan yang lain melanjutkan perjalanan ke hostel tempat kami menginap. Kami segera check in di WOW Hostel 67B 98SG di Lorong 27 Geylang ini. Hostel ini cocok untuk para backpacker yang ingin menginap dengan murah meriah di Singapura. Dalam satu kamar terdapat ranjang tingkat yang dapat ditempati oleh 4 sampai 6 orang beserta loker. Hostel kami bahkan dilengkapi dengan AC, air panas untuk menyeduh, dan empat kamar mandi yang dipakai bersama. Kamipun segera mandi dan beristirahat sejenak sebelum memulai kembali perjalan kami.



Mufiz Cafe

***  
Sore menjelang petang, kami disuguhi oleh pemandangan kampung yang masih bernuansa klasik dan terkesan jadul. Namanya Kampong Glam, tapi banyak yang menyebutnya Kampong Arab karena sebagian besar penduduknya merupakan Melayu-India muslim. Disana terdapat dinding batu yang dilukis dengan bermacam gambar. Selain nuansanya yang bersifat klasik dan historis, disini juga terdapat Masjid Sultan yang merupakan masjid tertua di Singapura dan satu-satunya masjid yang boleh menggunakan pengeras suara disini. Pemerintah mengambil kebijakan tersebut untuk menghargai penduduk lain yang non muslim. Mengingat bahwa 77% penduduk Singapura adalah etnis China, 14% Melayu dan 7%ya adalah orang India. Tapi sayang aku tak dapat menikmati pesona masjid yang historis ini dikarenakan Masjid Sultan ini sedang dilakukan perawatan. Meskipun Masjid Sultan tetap dirawat tiap tahunnya, tak ada satupun dari struktur dari masjid yang boleh dirubah. Sama halnya seperti semua rumah yang ada di Kampong Glam, pemerintah tidak memperbolehkan mereka merubah eksterior rumah yang mereka tempati karena itu merupakan salah satu tampilan wisata yang dapat dijual kepada para turis yang datang. Di Kampong Glam terdapat banyak toko souvenir dengan harga murah meriah, dri harga 50 cent sampai $5 dapat kita temukan di sini. Selesai magrib, kami melanjutkan perjalanan ke China Town dengan menaiki MRT. China Town—seperti namanya, wilayah ini merupakan pemukiman orang Cina. Disana terdapat banyak sekali tempat belanja seperti Kampong Glam, tetapi ada stand-stand yang khusus menjual souvenir Cina. Jika berjalan sedikit ke ujung, kita akan melewati banyak stand penjual makanan, souvenir, sampai peramal dan penjual hewan-hewan yang katanya membawa hoki. Jika sampai di ujung, kita akan melihat sebuah Temple yang sangat arsitektural. Sebuah pemandangan yang menakjubkan apalagi ditambah dengan gemerlapnya cahaya lampu yang menambah indahnya pesona temple itu dimalam hari. Puas berjalan-jalan, kamipun kembali ke hostel pada pukul 10 kurang. Aku langsung merebah lelah di ranjangku, menyalakan AC dan mulai menutup mata. Lumayan, perjalanannya indah.
***
Dingin menyeruak di dalam kamar. Padahal AC sudah ku atur sampai menunjuk angka 25 derajat celsius, tapi dinginnya membuatku meggigil. Jam sudah menunjukan pukul 5 kurang. Akupun segera bangun dan langsung mandi. Aku mandi lebih cepat karena takut mengantri terlalu lama. Sehabis mandidan bersiap-siap, kami diberi waktu untuk sarapan lalu berkumpul di lapangan Aljuned sebelum jam 9. Pagi ini aku sarapan dengan noodle cup yang aku beli di Seven-Eleven. Dan sama sekali tidak mengenyangkan. Setelah sarapan, aku segera menyusul ke lapangan Aljuned. Tujuan kami hari ini adalah Nanyang Technological University ! Aku dan teman-teman memulai perjalanan dari MRT Aljuned menuju ke Jurong. Saat melihat map di stasiun, stasiun Jurong akan ditempuh melalui 14 stasiun yang tentunya akan memakan waktu sangat lama. Hampir sekitar 45 menit kami habiskan di dalam MRT hingga sampai ke Jurong lalu bertukar kereta untuk sampai ke stasiun Bukit Batok. Sesampainya di Bukit Batok, kami menaiki bus tingkat untuk pergi ke Nanyang. Untuk membayar bus, kita hanya perlu men-tap STP ke mesin yang ada di pintu masuk lalu men-tap kembali saat keluar melalu mesin yang ada di pintu keluar bus. Kami pun menikmati pemandangan yang dsuguhkan kepada kami. Jalanan tanpa macet, pohon-pohon yang tertata rapi, tata kota yang baik membuatku berpikir dan mulai membanding-bandingkannya dengan Jakarta, ibukota Indonesia. Betapa macetnya, tidak tertata, penuh dan sesak serta riuh ramainya yang berbanding terbalik dengan apa yang sedang aku lihat. Satu nilai plus lagi buat Singapura. Saat memasuki wilayah Nanyang, bus melewati bangunan yang disebut China Herritage, asrama mahasiswa NTU, dan masih banyak lagi gedung-gedung yang tertata dengan rapi disana. Kami turun di Bus Stop yang dekat dengan parkiran mobil. Aku berjalan sambil melihat-lihat, mahasiswa disini bebas memakai baju apapun yang mereka inginkan Pemandangan disini agak berbeda, jika di MRT atau di tempat-tempat lain di Singapura orang-orang akan sibuk dengan gadgetnya dan tidak memperdulikan orang lain, tetapi disini lebih manusiawi, orang-orang terlihat saling berinteraksi satu sama lainnya.
Dimsum Building—akupun berfoto ria bersama teman-teman di depan Dimsum Building ini. Bangunan ini mempunyai bentuk yang lucu dan membuat mataku agak pusing melihatnya. Aku dan yang lain segera beranjak, kami singgah untuk melihat Lee Kong Chian Lecture Theare, Nanyang Auditorium, Lee Wee Nam Library , dan berkeliling disekitar. Dan yang paling amazing adalah perpustakaannya. Yah, Lee Wee Nam Library ini sangat besar dan tertata. Benar-benar suasana perpustakaan yang seharusnya. Selain dipenuhi buku yang tersusun rapi, perpustakaan ini dilengkapi dengan wifi dan berpuluh-puluh pc yang dapat digunakan oleh mahasiswa untuk mengerjakan tuganya. Siapa yang tidak betah berlama-lama disana ?  Setelah menyadari perut kami mulai berkaraoke ria, kami diajak ke foodcourt disana. Kami membeli kartu terlebih dahulu yang digunakan untuk membayar ke stand makanan yang kita beli. Dan kartu itu seperti EZ Link card, yang dapat di top up atau isi ulang ketika kita ingin berbelanja lagi disana.

Lee Wee Nam Library, Nanyang Technological University




Dimsum Building.


Saat jam sudah menunjukan pukul 13.10 , kami segera menuju bus stop untuk menaiki bus lagi ke Bukit Batok, lanjut ke Jurong samapi ke stasiun Outarm Park. Dari Outram Park, kami berganti kereta menuju Harbour Front. Yap, tujuan selanjutnya adalah Harbour bay, Sentosa Island ! Sesampainya di Harbour Front, kami menuju Vivo City dan membeli tiket untuk menaiki mono rail ke Sentosa Island. Satu tiket pulang pergi dipatok seharga $4 untuk satu orang. Sesampainya di Sentosa Island, dari kereta kita dapat melihat pelabuhan dan kapal-kapal yang sedang berlabuh. Sesampainya di stasiun, kami langsung menuju Globe Universal Studio untuk berfoto-foto. Dan lagi-lagi semesta tak henti menunjukan keagungan pencipta-Nya. Pengalaman tak terlupakan, meskipun belum berkesempatan masuk ke USS dan bermain di wahananya. Kami beristirahat sebentar dan berkumpul sambil mendengarkan cerita Kak Arif. Harga barang-barang dn makanan di sini memang jauh lebih mahal dari biasanya karena di sini merupakan pulau wisata. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Patung Merlion di Sentosa yang sering dianggap sebagai Merlion ‘ayah’ . kami berkeliling melewati Merlion Walk, Merlion Plaza, dan juga melewati Lake of Dream. Aku sempat mencuci tanganku di Lake of Dreams tersebut, alhasil tanganku berbau seperti durian—entah kenapa. Setelahnya, kamipun kembali ke Vivo City dan melanjutkan perjalanan dari stasiun MRT harbourFront menuju ke stasiun Farrer Park di kawasan Little India. Disana aku dan teman-teman singgah untuk sholat di masjid dan berkeliling sebentar di Mustafa Center yang terkenal dengan toko-toko yang buka 24 jam dan kelengkapannya. Tapi kami hanya sebentar karena kami langsung menuju ke Merlion Park. Dari stasiun Farrer Park, kami menuju stasiun MRT Dhoby Gaut. Di stasiun Dhoby Gaut, kami harus berkeliling agak lama karena kebingungan. Disini terdapat dua interchange stasiun, tapi akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Raffless Place. Karena tujuan selanjutnya adalah Merlion Park, kami melewati pintu exit H. Kemudian jalan menuju Singapore River dan belok kanan ke arah Fullerton Hotel. Kemudian menyeberangi Fullerton Road dan turun ke jalanan di sisi sungai, di bawah jembatan Esplanade. Dan akupun merinding. Lagi-lagi, untuk kesekian kalinya. Semesta berkonspirasi memamerkan keindahannya—pesonanya. Aku mengambil beberapa foto di dekat Merlion, dan juga mengambil beberapa foto dilatarbelakangi dengan pemandangan Marina Bay dari kejauhan. Selebihnya, aku duduk di tangga dekat patung Merlion sembari mengagumi keindahan yang sedang disuguhkan semesta,Singapura malam hari. Dari tempat kami duduk, terlihat dari kejauhan Gedung Esplanade, Singapore Flyer, Marina Bay Sands, Helix Bridge, sampai art science museum terlihat menggoda untuk dikunjungi. Tapi karena waktu semakin malam, kamipun beranjak untuk pulang. Dan semoga saja, aku bisa kembali kesini suatu saat nanti. Kami sampai di hostel jam 9 malam, bersamaan dengan perut kami yang kelaparan, kami membeli chicken burger di Seven-Eleven dan menikmatinya sebelum tidur. Melelahkan,tapi menakjubkan.







***


Seperti kemarin, aku mengambil antrian pertama untuk mandi. Karena selain malas menunggu, aku ingin segera membereskan barang-barang karena kami akan meninggalkan hostel pada jam 8 pagi. Aku hanya makan sedikit rotii sebagai pengganjal perut hari ini. Setelah semua berkumpul, kami akan mengunjungi sebuah mental terapi yang bernama Club Heal,di Bukit Batok East. Mungkin akan mebosankan pikirku, mengingat kunjungan ini lebih tepat diagendakan untuk mahasiswa psikologi, bukan untuk mahasiswa komunikasi seperti aku. Tapi ternyata tidak seburuk apa yang aku pikirkan. Meskipun sedikit mengantuk, aku sangat tertarik dengan video salah satu pasien yang mereka rawat, yang bernama Putri. Yah, meskipun agak rancu memahaminya karena menggunakan bahasa Melayu. Disana juga kami disuguhi cemilan-cemilan. Dan yang tak kalah menarik, pembahasan-pembahasan mengenai psikologi seseorang beserta penyakit-penyakit seperti Skizofernia dibahas dengan apik dan mudah kami mengerti. Jam telah menunjukan pukul 12 siang, saatnya kami berpisah dan berfoto-foto bersama. Kami melanjutkan perjalanan ke Clementi. Di Clementi, kami diperbolehkan berkeliling dahulu untuk berbelanja. Tapi Aku dan ketiga temanku—Puji,Rifki,dan Habib memilih untuk menunggu di Changi. Tapi sebelumnya, kami singgah kembali di Aljuned untuk makan siang di Mufiz Cafe untuk yang terakhir kalinya. Aku akan rindu ini semua. Aku hanya makan Nasi Padang dengan bermacam lauk, sedangkan mereka memilih untuk menyantap Nasi Briyani. Karena kami diharuskan berkumpul di Changi pada jam 3 sore, kami segera menuju stasiun Aljuned dan menaiki MRT dengan tujuan Changi Airport. Sesampainya disana, aku mengembalikan STP card dan mendapat refund sebesar $10 meski sempat bingung dimana letak ticket office karena Changi yang begitu luas ini. Kamipun  Check in di counter Lion Air, tapi pesawat yang akan aku dan yang lain naiki yang seharusnya flight pukul 20.00 delay hingga pukul 21.00. Sementara menunggu, aku dan teman-teman turun ke foodcourt untuk makan. Aku membeli ayam penyet seharga $3,80 yang cukup mengenyangkan. Sehabis makan, kami menuju ke ruang tunggu yang terletak sangat jauh. Kamipun menggunakan Skytrain untuk sampai ke ruang tunggu kami. Sesampainya di Gate yang telah ditentukan, kami kembali disuguhi fasilitas bandara yang amat sangat membuat kita merasa dimanja. Sofa, tempat bermain anak, televisi, hingga beberapa komputer dengan free accsess internet tersedia untuk kita gunakan. Terlihat betapa Singapura sangat memanjakan para turis yang berkunjung ke Singapura. Betapa usaha untuk meningkatkan pariwisata dan perdagangannya terkelola dengan sangat qw baik. Semua yang indah,disuguhkan dengan indah. Tak henti-hentinya Singapura membuatku takjub, dan membuatku tertarik untuk datang kesini lagi suatu saat nanti. Bagaimana dengan anda? Tertarik ? J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS