Ibu, Tolong Anna !

Kamis, 30 Juli 2015


“Na ! Anna ! Anna bangun. Udah siang nih nak”, seperti biasa, Ibu berteriak membangunkan aku. Ini sudah pukul setengah 7 tapi aku belum bangun dari tempat tidurku. Bukan, aku bukan pemalas atau hobi bangun siang . Hanya saja semalam aku begadang untuk mengerjakan materi  yang akan aku persentasikan besok. Belum lagi udara yang sedang dingin-dinginnya, membayangkan akan mandi sepagi biasanya saja sudah membuat aku menggigil, apalagi mandi beneran. Aku segera bangun dari tempat tidur, mengambil handuk dan segera mandi. Setelah mandi, aku buru-buru mengenakan seragam, menyambar tas sekolah, dan memakai sepatu. “Ibu.. Anna pergi bu”, teriakku dari luar. Sudah pukul 7 kurang 15 dan aku masih dirumah, bisa-bisa gak dikasih gerbang sama satpam sekolah. Aku pun berlari seraya memanggil ojek di ujung gang rumahku. Biasanya aku naik angkot, tapi jika sudah terindikasi telat seperti ini, ojeklah satu-satunya penolongku, hehe.
***
“Lisaaaaaa! Tungguin aku!”, aku memanggil manggil Lisa yang sedang berjalan menyusuri koridor sekolah. Untung belum telat pikirku. “Eh, Anna. Ih, keringatan gitu pagi-pagi. Gak mandi yah ? hahaha”, sapa Lisa. “Enak aja. Dari tadi aku lari-lari nih,kirain telat. Masa udah buat persentasi capek-capek, malah telat pas persentasinya.”, jawabku sambil mengelap keringat di kening dan leherku. “oh iya, hari ini giliran persentasi kelompok kamu ya. Eh, jangan-jangan Ibu Yuli udah ada ? duluaan ya Na”, Lisa lari meninggalkan aku. Dasar Lisa. Aku pun berlari menyusulnya. Masuk ke kelas, duduk, dan merapat ke teman kelompokku. Dan maju ke depan, mempersentasikan materi yang semalam membuat aku begadang, Internet—dan jaringan.
***
Persentasinya memuaskan. Diskusipun berjalan lancar dan tenang, meskipun sedikit menegangkan buatku. Hanya saja aku agak kecewa, ada satu anggota kelompok yang ogah-ogahan dengan materi ini. Bukannya apa-apa, jika ia seperti itu tentunya akan mempengaruhi nilai kelompok kami. Padahal, yang lain sudah berusaha agar persentasinya lancar. Tapi tak apa, toh Ibu guru pasti mengerti. “Anna !”, Ibu Yuli memanggilku. “Sini sebentar nak.” Ujarnya. Akupun maju ke mejanya. “Ada apa,Bu ?”, tanyaku. “Kamu dipanggil ke BP, sekarang yah. Ditunggu Ibu Diah”. “Baik,Bu”, aku segera pergi ke ruang BP sambil menerka-nerka ada perlu apa Ibu Diah denganku. “Permisi Bu, Ibu nyari saya?”.  “Ah iya nak. Tadi Ibu kamu nelfon. Katanya mau bicara.”, jawab Ibu Diah. Tumben sekali Ibu menelfon ke sekolah, kenapa gak langsung ke handphone aku aja ya? Astaga, handphone ku kan lagi di charge! Buru-buru jadi lupa bawa deh, pasti Ibu marah nih. Akupun mengambil gagang telefon dari tangan Ibu Diah, “ Halo? Ibu? Kenapa bu?”, tanyaku. “Anna, kenapa kamu gak bawa hape kamu? Tadi pergi sekolah juga gak pamitan, gak salaman sama Ibu.”, dari nadanya Ibu terdengar sangat khawatir daripada marah. Maklum, aku anak satu-satunya. Lagipula Ibu sekarang cuma punya aku di sini, aku juga cuma punya Ibu. Ayah sudah gak ada waktu aku umur 13 tahun, sakit keras kata Ibu. “Aduh Ibu maaf, Anna tadi buru-buru. Gak sempat bawa hape. Maaf ya bu.”, aku meminta maaf. “Tapi masa Ibu telepon khawatir gini cuma gara gara lupa bawa hape sih? Ibu nih, makin lama makin overprotektiv deh. Hehe”,candaku. “Mendingan kamu pulang deh nak, yah.”, ujar Ibu. “Kenapa sih Bu? Anna kan masih ada mata pelajaran, ini masih jam 9 Ibu.”,jawabku. “Pokoknya pulang nak, sekarang. Ntar Ibu yang bilangin ke guru BP kamu.”, ibu mengultimatum. Dan selalu, tak boleh ada bantahan. “Iya Bu, Anna pulang.”,jawabku lesu. Akupun pamit kepada Ibu Diah dan segera kembali ke kelas. Ternyata sudah jam istirahat. Ibu Yuli sudah keluar, teman-teman juga sudah keluar untuk ke kantin, atau cuma duduk-duduk di luar cari angin. Tapi sekolah memang agak sepi, karena anak kelas dua sedang dalam masa Praktek Kerja Lapangan (PKL) , sehingga penunggu sekolah hanya ada kelas 1 dan kelas 3. Akupun segera mengambil tas dan pulang. Aku meninggalkan sebuah memo di bangku Lisa, aku pulang duluan,tulisku. Aku duduk di depan gerbang sekolah sembari menunggu angkot lewat. Tapi sudah 15 menit aku menunggu, angkot tak ada yang lewat satupun.  Yah, mungkin karena sekolahku memang bukan jalur tetap angkot. Angkot akan ramai lalu lalang saat jamnya anak-anak pergi ke sekolah dan tentunya jam pulang sekolah. Jadi wajar saja tidak ada angkot satupun. Tetapi ojekpun tidak terlihat juga. Lalu bagaimana aku pulang ? -_- Setelah menunggu 20 menitan, aku memutuskan untuk jalan ke pusat kota. Disana ada halte, tentunya aku bisa naik angkot dari sana. Jaraknya hanya lima sampai enam menit kalau jalan. Mending jalan dari tadi deh, ibu pasti udah nunggu. Akupun berjalan menuju halte. Saat melewati warung sate, tiba-tiba rasanya perut menjadi lapar. Uh, semoga ibu masak enak hari ini. Tapi kenapa jam segini jalanan sepi yah ? Mungkin masih jam kerja. Kebetulan jalan yang aku lewati ini kompleks perkantoran, sehingga mayoritas pengguna jalan tentunya pegawai-pegawai kantor tersebut. Aku melewati kantor pemerintahan, tempat aku PKL setahun yang lalu. Kenapa sepi sekali? Motor yang ada di parkiran juga tidak sebanyak biasanya. Aku berhenti dan menatap kantor dengan seksama. Tiba-tiba dari pintu di ujung barat ada suara yang ramai sekali, demokah? Pikirku. Tiba-tiba saja banyak massa yang menyerbu kantor ini. Aku takut. Aku lebih baik segera pulang. Ku lihat mereka kini mulai masuk ke dalam gedung. Ada yang membawa bambu-bambu panjang, ada yang melempar batu, dan mereka berteriak-teriak seakan protes terhadap sesuatu. Aku langsung mengambil langkah seribu sampai kulihat seseorang dengan tongkatnya sedang menuruni tangga lantai dua bagian luar. “Tia !” teriakku. Apa yang dilakukannya disini? Astaga. Aku lupa ini adalah tempat pkl Tia tahun ini,tapi bukankah ia baru saja kecelakaan? Aku berbalik arah dan segera berlari menuju dia. Langkahnya tertatih-tatih, pasti kakinya belum sembuh. Buktinya tongkat itu masih dia gunakan untuk berjalan. “Tiaa !”, panggilku. “Tia ngapain disini? Ayok turun!”, ajakku. “ya kak,Tia takut. Kak, Hendra ada di dalam kak. Dia pingsan, tiba-tiba aja ada batu yang ngehantam kaca. Batunya kena dia kak, kacanya juga”,Tia mulai menangis terisak. “Emangnya ada apa ini Tia? Kenapa Rusuh begini Tia?”, tanyaku. Kaca-kaca sudah berserakan. Bahkan gedung bagian barat sudah mulai dilalap api . Ada apa ini,batinku. “Tia gak tau kak. Tiba-tiba ada demo, rusuh. Aku cuma dengar ada masalah antar suku kak”, ia menangis sejadi-jadinya. “Tia, kamu cepat turun. Ke arah sekolah yah. Kakak lihat Hendra dulu”, aku berlari ke arah ruangan yang ditunjuk Tia. Hendra itu sahabat Tia, satu kelas. Hendra punya badan yang sangat ceking, berbeda dengan Tia yang agak subur. Aku melihat Hendra terluka di bagian kepala, ia tergeletak disebelah komputer yang sudah pecah monitornya. Aku mencoba mengangkatnya, menaikannya ke kursi kerja yang memiliki roda. Aku berusaha mengeluarkannya dari ruangan. Tiba-tiba suara meledak di sudut ruangan membuat aku terkejut. Pasti konslet. Entah apa yang terjadi, api menyebar kemana-mana. Kertas-kertas dilalap api sedemikian cepatnya. Sampai ada sebuah batu melayang ke arahku. Brakkk. Ibu.. kepalaku sakit. Nyeri sekali. Aku pusing. Pening. Api melalap habis semua benda diruangan ini. Hendra—Hendra jatuh dari kursi. Aku tak bisa bangun. Tapi aku harus bangun, kaki Hendra terkena api. Ya Tuhan ! kaki Hendra ! Aku bangun sekuat tenaga, menarik kaki Hendra dari api. Dengan sisa tenaga meletakkan Hendra di kursi, berusaha mencari jalan keluar. Tuhan. Apa maksud dari semua ini. Aku ingin pulang. Aku mau ketemu Ibu. Ibu pasti khawatir. Ibuu.. Aku disini ibu. Ibu, tolong Anna. Satu-satunya jalan adalah melewati pintu—pintu yang sudah dilalap api. Aku hanya harus melewatinya. Harus cepat. Hitungan ketiga, aku akan berlari melewati itu. Kursi Hendra sudah ada dalam peganganku, aku hanya tinggal mendorongnya keluar. Satu.. Dua.. Brakk. Kayu di atap yang dilalap api jatuh ke badan, membuat aku jatuh tergeletak. Ibu, tolong Anna bu. Rasanya panas. Sakit.  “Ibuuuuuuuuuuuu !!!!”

***
“Ibuuuuuuuuuuuu !!!!”, teriakku. Aku terbangun dengan peluh yang membasahi tubuhku. Baju tidurku basah, keringatku dimana-mana.Apa aku mimpi ? “Anna ? Annaaa! Kamu kenapa? Ayook bangun, udah siang nih”, teriak Ibuku dari bawah. Sepertia biasa, Ibu membangunkanku. Saat aku lihat jam, sudah jam 7 kurang lima belas menit. Aku bergegas mandi dan berganti seragam. Mengambil tasku dan  bergegas ke sekolah. “Ibuuu! Anna pergi dulu. Dadah Ibu”, teriakku dari luar. Akupun berlari memanggil ojek. Naik angkot hanya akan membuatku telat. Sesampainya di sekolah, aku buru-buru masuk ke kelas. Hari ini ada persentasi, aku sudah menyiapkan bahan persentasinya malam tadi. Aku harus bisa.
Persentasinya lancar. Aku senang. Dengan sumringah aku duduk kembali ke tempat dudukku setelah persentasi. “Lisa, aku mau cerita nih”, curhatku pada Lisa. “Iyah Na, cerita apaan?”, jawab Lisa. “Semalem yah, masa aku—“ . Cerita ku terpotong. Ibu Yuli memanggilku, “Anna ! Sini sebentar nak.” Ujarnya. Akupun maju ke mejanya. “Ada apa,Bu ?”, tanyaku. “Kamu dipanggil ke BP, sekarang yah. Ditunggu Ibu Diah, katanya Ibu kamu nelfon”,ujar Ibu Yuli. DEG. Bukankah ini seperti di dalam mimpi? “Sekalian bawa tas kamu Na. Ibu kamu nyuruh pulang”,tambahnya. Aku mematung. Sedetik, Dua detik. Keringat dingin menyergap tubuhku. Ibu, tolong Anna bu. Anna takut.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS