Pelangi di Hati Langit Part 4

Kamis, 10 Oktober 2013

Braakkk.
Tiba tiba pintu kamar kost ku terbuka lebar. Ternyata Langit. Tatapannya penuh amarah. ah, pasti masalah tadi sore. Pasti dia marah karena aku pergi dengan kak Izzi. Mungkin sekarang ia akan mengajakku berdebat, mungkin dia bertanya-tanya siapa kak izzi, kemana aku pergi dengannya, kenapa aku tak minta ijin pada Langit. sungguh, aku terlalu lelah untuk menjawab semuanya malam ini. hasil check up tadi sore membuatku benar-benar jenuh, benar-benar membuatku terpuruk. Andai saja aku bisa berubah wujud, ingin rasanya aku mengecil seperti semut, masuk ke lubang semut dan bersembunyi dari semua hal ini. Aku benar-benar lelah, sementara Langit dengan tatapan tajamnya mulai mendelik meminta penjelasan.

"kenapa Ngi? ",tanyaku. Dia hanya diam. tetap menatap tajam kearahku. Aku memegang tangannya dan berusaha menggenggamnya. Tapi dia menepis tanganku dengan keras. "Dia bukan siapa-siapa Langit. Dia kakak tingkat kita, kami hanya mencari buku bersama". Aku berbohong, ya. Tak mungkin aku bilang kepada langit yang sebenarnya, bahwa Kak Izzi adalah kakakk sepupuku, bahwa kak Izzi tadi mengantarku untuk check  up. "Kenapa kamu tak bilang? Pelangi, aku disini untuk kamu. kenapa mesti mencari buku bersama dia? atau paling tidak, kenapa tidak dengan Rere?" tanyanya dengan bentakan yang membuat airmata mulai menggenang dipelupuk mataku. Aku tak suka dibentak. Tak ada yag suka dibentak. Terlebih lagi hatiku mulai lelah, sudah lelah, benar-benar lelah. Aku semakin tak sanggup menghadapi dan menutup semuanya ini. "Rere pergi sama ibunya,Ngi. Aku gak tega liat kamu tidur pulas banget. gak tega aku bangunin". 

"Kamu bohong Pelangi ! Mana buku yang kamu cari? Hah?". aku mulai tergagap. aku lupa, aku tak ke toko buku. aku ke dokter, jadi bagaimana mungkin buku baru itu ada di aku. aku hanya bisa diam, menangis. aku lelah Langit. Langit mulai terlihat lunak, dia menarik kepalaku dibahunya, mengelus-ngelus rambutku. "Maaf Pelangi. aku cuma takut kamu kenapa-napa kalo ga sama aku. kamu tau kan Angi, Aku sayang sama kamu.Aku gak mau kamu sakit. Aku gak mau kamu pergi sama orang lain, apalagi cowok lain.". Aku semakin pusing,mual ini juga datang lagi. Jangan sekarang tolong tuhan, jangan datangkan ini sekarang. Kepalaku semakin berputar, aku hanya bisa diam di  dada Langit. "Assalamualaikum. Pelangii, ini obat kamu ketinggalan.." Kak Izzi masuk dan diam ketika melihat Pelangi di pelukan Langit. Langit menoleh seketika ketika Kak Izzi datang. Aku semakin pusing, pandanganku semakin kabur, lalu semua menjadi gelap. 

***

Pelangi masih tertidur di ruangan tindakan. Dan Langit sedang duduk di samping tempat tidurnya. Mata Langit memerah menahan tangis. Langit sudah tahu semuanya. Bahwa Kak Izzi adalah kakak sepupu Pelangi, keponakan dari mamanya Pelangi. Lagit juga tahu, kalo mereka tidak pergi ke toko buku, tetapi ke dokter, dan Langit juga tahu, Pelangi sudah tahu penyakitnya, lebih tahu tentang penyakitnya, dan hampir setahun lebih ini dia menyembunyikan penyakitnya dengan rapat. Aku tak mengerti bagaimana dia begitu kuat menghadapi semua ini sendiri. Bahkan kak Izzi bilang, Pelangi baru mau jujur ke Kak Izzi sebulan yang lalu, saat Kak Izzi memaksanya untuk memeriksakan diri ke dokter. Kak Izzi kuliah kedokteran, jadi ia tahu gejala apa yang sedang dialami oleh Pelangi. Terpaksa Pelangi jujur. Dan sekarang, Langit sudah tahu semua itu. Langit tak dapat menahan air matanya lagi. 

"Pelangi, aku sayang sama kamu. Jangan pernah tinggalin aku. Kita harus sama-sama Angi. Ingat janji kamu? Ingat janji kamu yang bakalan ngasih tau letak bintang venus dimana? Kamu ingat kan kamu janji bakal hidup 200tahun lagi sama aku, biar bisa liat bintang venus itu sama-sama Angi. Kamu gak boleh ingkar janji." isak Langit. Ia larut pada hujan yang ia buat sendiri. Langit tak tahu harus bagaimana. Melihat perempuan yang begitu ia cintai dengan tulus, harus terbaring lemah dengan selang infus dan dan berbagai macam kabel yang sekarang menopang badannya. Langit syok. Terlebih karena Langit kini tahu, bukan hanya kanker jaringan lunak yang sedang mengancam nyawa gadis manisnya, tetapi gagal jantung pun telah menghantui gadis ini. Bagaimana bisa Pelangi begitu sabar dan terlihat baik-baik saja? Tuhan. Langit tak tahu rencana apa yang sedang Tuhan buat untuknya dan kekasihnya,Pelangi. 

Tiba-tiba jari-jari kecil yang sedang digenggam oleh langit bergerak, mata sang gadis terbuka perlahan. Langit segera menghapus cucuran airmata yang membasahi wajanya."Langit. Kita dimana?" tanyanya terbata-bata.
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS