Pelukan terakhir Ayah

Rabu, 25 Februari 2015

Hari ini hari kelulusanku. Seperti biasa,  Ayah tidak bisa datang untuk menghadirinya bahkan untuk sebentar saja. Sama seperti tiga bahkan enam tahun yang lalu. Sekeras apapun aku berusaha belajar dan menjadi juara agar menarik perhatiannya, sekeras itu pula aku hancur karena ketidakpeduliannya. Ya, Ayah tidak pernah peduli. Sama seperti saat beberapa hari sebelum ujian smp dimulai, jantungku kumat lagi. Tak kusangka belajarku yang agak berat malah membuatku jatuh sakit. Jantungku lemah. Semula kami tak mengerti kenapa aku bisa memiiki penyakit jantung ini. Ayah dan Ibu adalah orang-orang yang sehat. Tak kusangka penyakit kakekku  diwariskan kepadaku. Saat itu aku masuk UGD, Ibu sangat khawatir. Bahkan ku lihat air mata mulai berjatuhan di pipinya. Ibu mengabarkan pada Ayah. Tapi yang datang hanya Tante Vanya, yang memberi tahu bahwa lagi-lagi Ayah tidak bisa datang. Dia hanya menitipkan tiga lembar uang seratusan ribu kepada Ibu. Kau pikir, semua ketidakhadiranmu mampu kau ganti dengan uang, Ayah? Semakin dewasa, aku semakin paham. Ayah bukan tidak bisa, tapi Ayah tak mau peduli. Dan aku harus memahaminya, menikmati sakitnya.

Mataku mulai basah, mungkin air mata. Bukan karena pada hari kelulusanku ini aku bisa masuk 3 besar. Tapi karena lagi-lagi aku harus menerima kenyataan pahit, bahwa Ayah memang tak diperuntukkan untukku. Aku tak mengerti apa definisi Ayah yang sebenarnya. Karena aku hanya tahu dari membaca dan mendengarnya, bukan merasakannya. Ayah tak lagi ada untukku saat aku duduk di bangku kelas satu SD. Ia dan Ibu berpisah, dengan berbagai masalah yang tak akan dapat dipahami olehku yang dulu masih begitu kecil. Aku melangkahkan kaki turun dari panggung dan langsung di peluk oleh Ibu. Aku bukannya ingin terus mengeluh pada Tuhan tentang Ayah dan melupakan bagaimana rasa syukurku telah memiliki ibu yang sehebat Ibuku ini. Terima kasih, Tuhan. Syukurku tak pernah putus. Ayah? Aku jarang bertemu Ayah. Menanyakan kabar? Apalagi.

Setelah kelulusan, kami mulai berkeliling bersama teman-teman untuk mencari tempat makan. Merayakan kelulusan kami.  Kami sampai di warung mi ayam tempat kami biasa datang. Kami mulai memarkirkan motor kami. Tapi mataku terhenti pada mobil Avanza silver yang ada disebelahku saat ini, mobil yang berplatkan nomor mobil Ayah. Ku lihat di dalam ia sedang bersama  bayi laki-lakinya dan juga istrinya. Dadaku sakit. Aku sangat mengharapkan kedatangannya hari ini. Tapi ia malah mengacuhkanku. Ia benar-benar tak perduli betapa aku menunggunya datang agar aku dapat membuatnya bangga. Tapi ia malah disini, makan siang bersama istri dan anaknya yang lain.

Ini tidak adil. Aku bahkan tak pernah menuntut Ayah untuk benra-benar menjadi Ayahku. Aku tak pernah dengan sengaja membebani Ayah. Aku tak pernah minta Ayah mengeluarkan uang untukku. Aku bahkan tak minta terlalu banyak waktu dan perhatian Ayah, yang seharusnya ku miliki. Tapi semua terasa salah. Dimata Ayah aku sudah tak ada. Bahkan pelukmu pun Ayah, tak pernah ku rasa.

Sungguh, dadaku benar-benar sakit. Aku hanya terdiam di depan pintu warung makan itu. Aku masih menatap mereka  sampai Ayah tersadar bahwa aku sedang menatapnya. Aku cepat-cepat membalikkan badan dan berjalan ke parkiran. Ayah pun bangkit dari tempat duduknya dan mengejarku. “Dito !”, panggil Ayah. Akupun berhenti. Kulihat ada raut penyesalan diwajahnya.  Tapi itu tak membuat kekecewaanku lenyap sedikitpun. “Kenapa pergi? Ayo makan. Tadi dapat juara ?”, tanya Ayah. Aku tahu ia berusaha menutupi kesalahannya. Tapi kekecewaanku telah kusimpan begitu lama. Semua kenangan tentang bagaimana aku diabaikan, tentang bagaimana aku seolah tak ada baginya, kini berputar-putar dikepalaku. Aku terlalu marah untuk menjawab pertanyaannya. “Apa peduli Ayah?”,bentakku. Sungguh, aku marah. Apa aku tak pernah penting baginya? “Jaga omonganmu Dito! Ayah tanya baik-baik malah membentak! Ayah ini Ayah kamu!” balas Ayah. “Lalu kenapa Ayah hanya datang sesekali? Itupun tanpa hati. Lalu kenapa meninggalkanku? Jika Ayah yang Ayah maksud adalah mengganti semua dengan uang yang Ayah punya, aku punya banyak orang yang lebih AYAH daripada AYAH ! Kalo Ayah pikir aku akan terus berlapang dada untuk menerima semua rasa sakit yang Ayah sebabkan,Ayah salah! Aku butuh Ayah lebih dari yang Ayah tahu. Tapi untuk mengingatku atahu menanyakan kabarku saja, tak sedikitpun Ayah lakukan. Apanya yang Ayah sebut sebagai Ayah?” aku laki-laki. Tapi air mataku seakan-akan ingin tumpah ruah. Kata-kataku sudah sama bergetarnya dengan kakiku.

“Kamu itu tidak mengerti Dito!”  kulihat wajah Ayah mengeras.  “Kenapa yah? Ayah mau marah? Apa yang salah dari Dito yah? Semua yang Dito bilang ini benar kan ? Dito gak tahu Dito punya salah apa sama Ayah sampai Ayah sebegini acuhnya sama Dito. Lebih baik Dito gak punya Ayah sekalian yah. Daripada sepanjang umur Dito, Dito punya Ayah tapi seperti gak punya. Dito capek yah, Dito sakit sama sikap Ayah yang kayak gini sama Dito”, aku mulai menangis. Air mataku jatuh perlahan,tanpa isak. Ayahku terlihat iba padaku. Matanya mulai berair, tangannya menggapai dan mulai memelukku. Inikah pelukan Ayah ? Hangat. Aku segera melepaskannya. Aku tak ingin Ayah kasihani. Aku anaknya. Bukan pengemis yang sedang minta perhatiannya. Aku berlari menyebrangi jalan raya, lebih baik aku pergi sebelum aku semakin kurang ajar pada Ayah. Tapi dari sebrang, aku lihat Ayah menyusulku dan menyebrangi jalan raya dengan tergesa-gesa. Tuhan, kenapa tadi aku tak bersikap biasa saja. Kenapa harus semarah tadi. Bahkan pelukan Ayah, hanya sebentar kurasakan. Aku ingin dipeluk Ayah lagi. “AYAH !” teriakku. Sebuah mobil melaju kencang kearah Ayah yang sedang menyebrang jalan. Brakk. Kulihat Ayah merintih kesakitan dan berdarah. Dadaku sakit. Dan tiba-tiba semuanya gelap.


Tak ku sangka bahwa pelukan ini adalah pelukan terakhir yang ku dapat dari Ayah. Aku tak akan mendapat pelukannya lagi. Aku menyesal harus bersikap seperti tadi. Aku tak tahu semuanya akan menjadi seperti ini. Ku lihat Ibu ku datang dengan berurai air mata, ingin rasanya aku memeluknya dan menenangkannya. Tapi aku tak bisa. Ayah memelukku dengan tangannya yang berlumuran darah untuk yang terakhir kali dengan erat. “Maaf Pak,Bu. Dito tidak bisa tertolong. Serangan jantungnya begitu parah.” Kata Dokter. Ya, aku terkena serangan jantung tepat saat aku melihat Ayah tertabrak. Ayahku menangis dengan penuh penyesalan. “Maafkan Ayah Dito,maafkan. Ayah salah Dito,Ayah salah. Maaf ”, isak tangis Ayah dan Ibu serta pelukan terakhir ayah, mengiringi kepergianku.

Explore Sumbawa : Tiga Pulau Cantik Sumbawa

Seperti yang kita semua tahu, Indonesia disebut sebagai negara kepulauan karena memiliki banyak sekali pulau. Terhitung sebanyak 17.000 pulau lebih yang ada di Indonesia kita yang tercinta ini. Pulau pulau yang memiliki pesona dan keindahannya masing-masing itu tersebar di seluruh Indonesia, tak terkecuali di daerah saya, yaitu Sumbawa. Sumbawa sendiri juga merupakan salah satu Pulau yang termasuk di wilayah NTB. Sumbawa memiliki banyak sekali tempat wisata yang sangat recommended untuk dikunjungi. Misalnya saja, tiga pulau cantik yang terletak di wilayah timur Sumbawa,yaitu Pulau Sentigi, Pulau Lipan, dan Pulau Panjang. Ketiga pulau cantik ini berada pada wilayah laut yang sama, yang dapat ditempuh dengan kapal dari Labu Jontal,di ujung Plampang.

Labu Jontal sendiri, merupakan perkampungan yang sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah nelayan. Bisa dilihat dari rumah-rumah penduduk yang berbentuk rumah panggung dan berada di pinggir laut. Dan bahasa yang digunakan penduduk adalah Bahasa Bugis, karena kebanyakan penduduk merupakan keturunan dari Suku Bugis di Makassar. Labu Jontal memiliki sebuah dermaga kecil. Dan dari dermaga kecil itu kita dapat memulai perjalanan menuju ketiga pulau tersebut dengan menyewa kapal milik nelayan. Tak banyak orang-orang yang tahu bahwa Sumbawa memiliki tiga pulau cantik ini. Hanya penduduk asli di Labu Jontal yang tahu keberadaan tiga pulau ini. Padahal, ketiga pulau ini memiliki potensi yang sangat besar untuk dijadikan tempat wisata bagi wisatawan domestik,maupun mancanegara.

Pulau yang pertama adalah Pulau Sentigi. Kita hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai disana. Pulau Sentigi merupakan pulau yang memiliki pasir putih yang indah. Laut di sekitarnya pun dangkal,sehingga anak-anak bisa berenang dengan aman. Apalagi tidak ada batu karang yang mengganggu kegiatan berenang kita. Disana juga banyak pohon kelapa yang berjejer rapi, dan banyak pohon yang ditanam sehingga berwisata dengan keluarga akan lebih nyaman dibawah pohon-pohon yang tumbuh dengan rindangnya. Kita juga dapat memancing ikan disana. Bagi yang ingin berlibur dengan ketenangan, Pulau Sentigi merupakan pulau yang sangat pas untuk dikunjungi,apalagi bersama keluarga tercinta.

Pulau kedua adalah Pulau Lipan. Dari dermaga,kita dapat sampai di Pulau Lipan dalam waktu sekitar setengah jam lebih. Pulau ini dinamakan Pulau Lipan dikarenakan bentuknya yang menyerupai Lipan. Pulau Lipan memiliki batu karang yang agak banyak, dan juga bulu babi yang berada disekitar karang tersebut. Tapi jika kita menuju ke samping pulau, ada tempat yang pas untuk berenang bersama teman-teman. Kelebihan Pulau Lipan ini adalah, ia memiliki padang rumput yang sangat hijau meskipun dalam musim kemarau dan berbentuk seperti bukit sehingga kita dapat mendaki hingga puncak dan dapat melihat seluruh keindahan pulau dari atas bukit hijau ini. Keindahan yang kini tidak mudah lagi didapatkan oleh penduduk kita, terutama penduduk kota-kota besar di Indonesia. Keindahan yang asri dan masih bersih dari gangguan manusia.

And the last but not least, adalah Pulau Panjang. Yang menurut saya pribadi adalah pulau tercantik yang pernah saya kunjungi. Pulau ini merupakan pulau yang paling jauh sehingga membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam untuk sampai kesana. Di tepian pulau, rerumputan nan hijau berpadu dengan bintang laut berwarna ungu dibawah beningnya air laut membuat siapapun yang melihatnya akan berdecak kagum. Indah. Belum lagi karang-karang dengan berbagai macam bentuk dan warna menambah eksotisnya pulau ini. Bukan hanya itu, banyak sekali ikan-ikan dengan berbagai warna yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Pulau ini sangat tepat untuk orang-orang yang mempunyai hobi snorkling ataupun diving. Keindahan biota bawah laut terlihat sangat indah. Apalagi perpaduan antara birunya laut, putihnya pasir, dan hijaunya bukit yang panjang melintang disertai dengan awan dan langit yang membuat siapa saja ingin kembali lagi kesini untuk menikmati suguhan alam nan indah yang di miliki oleh Pulau Panjang ini.

Ketiga pulau cantik tersebut, merupakan potensi wisata luar biasa yang dimiliki oleh Sumbawa dan tidak kalah cantiknya dengan tempat wisata diluaran sana. Pulau-pulau tersebut memiliki keindahan dan pesona tersendiri untuk dikunjungi bersama keluarga, teman, ataupun rekan rekan seperjuangan. Dan yang pasti, masih banyak pulau-pulau lain di Sumbawa yang juga tidak kalah indah dan mempesona. Jadi,marilah bersama, kita explore, Sumbawa !




ARINI SHALSABELLA PUTRI

14.02.051.001 / ILMU KOMUNIKASI
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS