Hari ini hari
kelulusanku. Seperti biasa, Ayah tidak
bisa datang untuk menghadirinya bahkan untuk sebentar saja. Sama seperti tiga
bahkan enam tahun yang lalu. Sekeras apapun aku berusaha belajar dan menjadi
juara agar menarik perhatiannya, sekeras itu pula aku hancur karena
ketidakpeduliannya. Ya, Ayah tidak pernah peduli. Sama seperti saat beberapa
hari sebelum ujian smp dimulai, jantungku kumat lagi. Tak kusangka belajarku
yang agak berat malah membuatku jatuh sakit. Jantungku lemah. Semula kami tak
mengerti kenapa aku bisa memiiki penyakit jantung ini. Ayah dan Ibu adalah
orang-orang yang sehat. Tak kusangka penyakit kakekku diwariskan kepadaku. Saat itu aku masuk UGD,
Ibu sangat khawatir. Bahkan ku lihat air mata mulai berjatuhan di pipinya. Ibu
mengabarkan pada Ayah. Tapi yang datang hanya Tante Vanya, yang memberi tahu
bahwa lagi-lagi Ayah tidak bisa datang. Dia hanya menitipkan tiga lembar uang
seratusan ribu kepada Ibu. Kau pikir, semua ketidakhadiranmu mampu kau ganti
dengan uang, Ayah? Semakin dewasa, aku semakin paham. Ayah bukan tidak bisa,
tapi Ayah tak mau peduli. Dan aku harus memahaminya, menikmati sakitnya.
Mataku mulai basah,
mungkin air mata. Bukan karena pada hari kelulusanku ini aku bisa masuk 3
besar. Tapi karena lagi-lagi aku harus menerima kenyataan pahit, bahwa Ayah
memang tak diperuntukkan untukku. Aku tak mengerti apa definisi Ayah yang
sebenarnya. Karena aku hanya tahu dari membaca dan mendengarnya, bukan
merasakannya. Ayah tak lagi ada untukku saat aku duduk di bangku kelas satu SD.
Ia dan Ibu berpisah, dengan berbagai masalah yang tak akan dapat dipahami
olehku yang dulu masih begitu kecil. Aku melangkahkan kaki turun dari panggung
dan langsung di peluk oleh Ibu. Aku bukannya ingin terus mengeluh pada Tuhan
tentang Ayah dan melupakan bagaimana rasa syukurku telah memiliki ibu yang
sehebat Ibuku ini. Terima kasih, Tuhan. Syukurku tak pernah putus. Ayah? Aku
jarang bertemu Ayah. Menanyakan kabar? Apalagi.
Setelah kelulusan, kami
mulai berkeliling bersama teman-teman untuk mencari tempat makan. Merayakan
kelulusan kami. Kami sampai di warung mi
ayam tempat kami biasa datang. Kami mulai memarkirkan motor kami. Tapi mataku
terhenti pada mobil Avanza silver yang ada disebelahku saat ini, mobil yang
berplatkan nomor mobil Ayah. Ku lihat di dalam ia sedang bersama bayi laki-lakinya dan juga istrinya. Dadaku
sakit. Aku sangat mengharapkan kedatangannya hari ini. Tapi ia malah
mengacuhkanku. Ia benar-benar tak perduli betapa aku menunggunya datang agar
aku dapat membuatnya bangga. Tapi ia malah disini, makan siang bersama istri
dan anaknya yang lain.
Ini
tidak adil. Aku bahkan tak pernah menuntut Ayah untuk benra-benar menjadi Ayahku.
Aku tak pernah dengan sengaja membebani Ayah. Aku tak pernah minta Ayah
mengeluarkan uang untukku. Aku bahkan tak minta terlalu banyak waktu dan
perhatian Ayah, yang seharusnya ku miliki. Tapi semua terasa salah. Dimata Ayah
aku sudah tak ada. Bahkan pelukmu pun Ayah, tak pernah ku rasa.
Sungguh, dadaku
benar-benar sakit. Aku hanya terdiam di depan pintu warung makan itu. Aku masih
menatap mereka sampai Ayah tersadar
bahwa aku sedang menatapnya. Aku cepat-cepat membalikkan badan dan berjalan ke
parkiran. Ayah pun bangkit dari tempat duduknya dan mengejarku. “Dito !”,
panggil Ayah. Akupun berhenti. Kulihat ada raut penyesalan diwajahnya. Tapi itu tak membuat kekecewaanku lenyap
sedikitpun. “Kenapa pergi? Ayo makan. Tadi dapat juara ?”, tanya Ayah. Aku tahu
ia berusaha menutupi kesalahannya. Tapi kekecewaanku telah kusimpan begitu
lama. Semua kenangan tentang bagaimana aku diabaikan, tentang bagaimana aku
seolah tak ada baginya, kini berputar-putar dikepalaku. Aku terlalu marah untuk
menjawab pertanyaannya. “Apa peduli Ayah?”,bentakku. Sungguh, aku marah. Apa
aku tak pernah penting baginya? “Jaga omonganmu Dito! Ayah tanya baik-baik
malah membentak! Ayah ini Ayah kamu!” balas Ayah. “Lalu kenapa Ayah hanya
datang sesekali? Itupun tanpa hati. Lalu kenapa meninggalkanku? Jika Ayah yang Ayah
maksud adalah mengganti semua dengan uang yang Ayah punya, aku punya banyak
orang yang lebih AYAH daripada AYAH ! Kalo Ayah pikir aku akan terus berlapang
dada untuk menerima semua rasa sakit yang Ayah sebabkan,Ayah salah! Aku butuh Ayah
lebih dari yang Ayah tahu. Tapi untuk mengingatku atahu menanyakan kabarku
saja, tak sedikitpun Ayah lakukan. Apanya yang Ayah sebut sebagai Ayah?” aku
laki-laki. Tapi air mataku seakan-akan ingin tumpah ruah. Kata-kataku sudah
sama bergetarnya dengan kakiku.
“Kamu
itu tidak mengerti Dito!” kulihat wajah Ayah
mengeras. “Kenapa yah? Ayah mau marah?
Apa yang salah dari Dito yah? Semua yang Dito bilang ini benar kan ? Dito gak
tahu Dito punya salah apa sama Ayah sampai Ayah sebegini acuhnya sama Dito.
Lebih baik Dito gak punya Ayah sekalian yah. Daripada sepanjang umur Dito, Dito
punya Ayah tapi seperti gak punya. Dito capek yah, Dito sakit sama sikap Ayah
yang kayak gini sama Dito”, aku mulai menangis. Air mataku jatuh perlahan,tanpa
isak. Ayahku terlihat iba padaku. Matanya mulai berair, tangannya menggapai dan
mulai memelukku. Inikah pelukan Ayah ? Hangat. Aku segera melepaskannya. Aku
tak ingin Ayah kasihani. Aku anaknya. Bukan pengemis yang sedang minta
perhatiannya. Aku berlari menyebrangi jalan raya, lebih baik aku pergi sebelum
aku semakin kurang ajar pada Ayah. Tapi dari sebrang, aku lihat Ayah menyusulku
dan menyebrangi jalan raya dengan tergesa-gesa. Tuhan, kenapa tadi aku tak
bersikap biasa saja. Kenapa harus semarah tadi. Bahkan pelukan Ayah, hanya
sebentar kurasakan. Aku ingin dipeluk Ayah lagi. “AYAH !” teriakku. Sebuah
mobil melaju kencang kearah Ayah yang sedang menyebrang jalan. Brakk. Kulihat Ayah
merintih kesakitan dan berdarah. Dadaku sakit. Dan tiba-tiba semuanya gelap.
Tak ku sangka bahwa
pelukan ini adalah pelukan terakhir yang ku dapat dari Ayah. Aku tak akan
mendapat pelukannya lagi. Aku menyesal harus bersikap seperti tadi. Aku tak tahu
semuanya akan menjadi seperti ini. Ku lihat Ibu ku datang dengan berurai air
mata, ingin rasanya aku memeluknya dan menenangkannya. Tapi aku tak bisa. Ayah
memelukku dengan tangannya yang berlumuran darah untuk yang terakhir kali dengan
erat. “Maaf Pak,Bu. Dito tidak bisa tertolong. Serangan jantungnya begitu
parah.” Kata Dokter. Ya, aku terkena serangan jantung tepat saat aku melihat Ayah
tertabrak. Ayahku menangis dengan penuh penyesalan. “Maafkan Ayah Dito,maafkan.
Ayah salah Dito,Ayah salah. Maaf ”, isak tangis Ayah dan Ibu serta pelukan terakhir ayah, mengiringi kepergianku.


