Sudah pukul setengah lima subuh, dan aku sedang
bersiap-siap. Aku akan pergi ke Bukit Allest, berlari menyusuri jalan menuju
bukit bersama kekasihku, Aji. Aku keluar dari rumah, mengenakan kaos hitam
kesukaanku. Aku pun berlari dan berlari, di sudut kanan jalan seseorang sudah
menatapku dengan suguhan senyum mempesonanya. “Ayok Ji, keburu sunrise nya
hilang !” ajakku. Minggu pagiku hanya
teruntuk Aji, juga dengan terbitnya mentari nanti. Dia ikut berlari di
sampingku, menatap lurus ke depan. Senyumku takkan pudar, jika ada dia di
sisiku. Kami melewati kali yang airnya sangat dingin, terlebih di saat subuh
seperti ini. Aku jadi ingat, betapa indahnya kenangan kami dulu, dia
menggendongku untuk menyusuri sungai in, agar aku tak kedinginan atau masuk
angin katanya. Hingga pada akhirnya, kami sampai di Bukit Allest. Bukit yang
jadi saksi cinta kami. Kami duduk di batu tempat kesayangan kami sambil
menunggu matahari yang sudah mengintip malu-malu ingin keluar dari peraduannya.
Aku memeluk Aji dengan erat, “dia terbit Ji,” kataku. Dia tersenyum
menghadapku. Ku gunakan pundaknya tuk menumpahkan tangisku. “Aku kangen kamu
Ji, kangen liat ini semua bareng kamu”, aku mulai sesenggukan. “Aku gak mau ini
semua tanpa kamu Aji. Aku pengen kamu selalu sama aku, selalu buat aku, bukan
Cuma minggu subuh saja.” ,isakku memohon padanya. Aku hanya menangis sampai lelah, sampai
matahari mulai meninggi dn sampai aku sadar bahwa kami harus pulang. Kami turun
dari batu yang di bawahnya terukir kecil nama kami, Putry Love Aji, Aji Love
Putri. Ukiran itu kami buat saat Aji menyatakan cintanya padaku dua tahun yang
lalu, di tempat ini. Kami menyusuri jalan yg subuh tadi kami lewati. Kali,
pohon, dan jalan setapak yang tidak berubah. Sama seperti saat terakhir kali
kami melihatnya. Langkahku semakin berat saat tempat aku dan Aji harus berpisah
lagi. Air mataku mulai turun lagi, aku mengantar Aji hingga sampai di makamnya.
Akupun terduduk di samping makam yang batu nisannya tertulis nama kekasihku itu, “ Denata Aji Pratama”.
Aku memeluk nisannya dengan erat, “Minggu depan aku kesini lagi Aji. Tunggu yah
Ji,aku sayang kamu”. Aku pulang dan
melambaikan tangan padanya yang sedang tersenyum menatap kepergianku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar