Bedah Buku The Power of Public Speaking oleh KMPB

Rabu, 20 Agustus 2014


Sore tadi, kami mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh kakak tingkat kami. Dan sebagai maba UTS yang baik hati tapi jarang menabung, saya dan kawan-kawan datang dalam kegiatan tersebut. Kegiatan tersebut adalah kegiatan bedah buku “The Power of Public Speaking” karya Charles Bonar Sirait. Acara diawali dengan perkenalan kakak tingkat kami di Universitas Teknologi Sumbawa yang sedang menempuh semester ketiganya.
Mereka juga memperkenalkan “KMPB” kepada kami. KMPB adalah Komunitas Mahasiswa Pecinta Buku yang baru saja diresmikan 9 Agustus yang lalu. Komunitas ini bersifat independen, yaitu terbuka bagi siapa saja yang mau bergabung. Bukan hanya bagi mahasiswa UTS, tapi komunitas ini juga terbuka untuk mahasiswa Universitas lain maupun bagi para pelajar di daerah Sumbawa. Tujuan komunitas ini dibuat bukan hanya untuk membaca buku, tapi juga diperuntukkan sebagai tempat sharing pengetahuan, sharing kecintaan terhadap buku, mengunjungi dan mengkaji media, menyelenggaraan seminar, dan juga banyak hal menarik lain yang tidak hanya bermanfaat dari segi ilmu, tapi juga dapat menjalin tali silaturahmi sesama anggota komunitas.
Dan karena ini bukan acara formal, kami pun duduk ‘lesehan’ dibawah pohon yang ada di Taman Untir Katimis tersebut sembari mendengarkan kakak tingkat kami mengisi materi. Pengisian materi dimulai oleh Kak Egy Permana Putra, mahasiswa Fikom UTS semester 3. Kak Egy memulai materi Public Speaking ini dengan menyinggung tentang Vebal Graffiti. Ya, kadang dalam melaksanakan persentasi di kelas, saya sangat sering mengucapkan ehmm,eeh,yaa.. atau kerennya disebut Verbal Gariffiti tersebut tentunya sangat mengganggu dan membuat materi yang kita sampaikan menjadi tidak efektif. Kuncinya adalah sering latihan dan latihan agar tidak gugup. Penguasaan materipun diperlukan agar Verbal Graffiti tak diucapkan lagi.
Kak Egy juga menyinggung tentang riset. Ya riset adalah hal pertama yang harus dilakukan oleh public speaker jika ingin menyampaikan materi dengan baik. Riset dilakukan dengan mencari refrensi tentang materi yang akan disampaikan. Setelah materi ada, baruah kita berlatih, menumbuhkan rasa percaya diri, dan juga keberanian. Karena, percuma kita punya segudang materi ataupun teori jika kita tidak mempunyai keberanian untuk mengemukakannya di depan publik. Oya, Kak Egy juga mengatakan  jurus Public Speaking adalah “Who says what in which channel to whom with what effect”. Dan menurut hasil googling saya, itu adalah lima jurus jitu bagi ilmuwan komunikasi yang dikemukakan oleh Harold Lasswell, seorang teoritis Ilmu Komunikasi dan pakar Ilmu Politik. Dan itu adalah materi yang akan saya dapat saat kuliah nanti :D
Lanjut ke pemateri kedua, Kak Wira Mahardika yang juga mahasiswa Fikom UTS semester tiga. Yang menarik dari pembahasan Kak Wira adalah tentang “Podium Shock”. Yang gejalanya adalah saat kita naik ke podium untuk menyampaikan materi, tiba-tiba kita gugup, isi kepala blank, pandangan mulai gelap, atau biasa disebut Blackout. Dan saya rasa setiap orang pasti pernah mengalami hal ini. Dan lagi lagi, kuncinya adalah berlatih. Tapi bukan hanya berlatih, kami juga harus paham Retorika. Retorika adalah seni berkomunikasi yang dapat merubah pola pikir audience. Dan menurut pemaparan Kak Wira, orang Sumbawa adalah orang yang jago beretorika. Atau bahasa Belandanya adalah “bahasa lasap”. :D Retorika inilah hal yang juga sangat penting dalam Public Speaking, terutama dalam menangani audience. Dari pemaparan kedua kakak di atas, sebenarya inilah contoh Publik Speaker disekitar kita. Mereka memahami materi yang mereka bawakan karena telah melakukan riset dari bermacam referensi. Mereka percaya diri, dan mampu menguasai audience bahkan membuat kami tertawa karena materi yang diselingi dengan candaan.
  Adapun Kak Fitriana Tjahyani, mahasiswi Teknik Metalurgi UTS semester 3 menambahkan bahwa Public Speaking ada yang terencana dan tidak terencana. Dan untuk case Publik Speaking yang tidak terencana atau spontan, hal yang diperlukan adalah menambah pengetahuan dan wawasan dari berbagai refrensi yang ada dari membaca buku atau browsing di dunia maya. Setelah itu, acara dilanjutkan oleh kakak yang disapa “Mas Wanbol” dengan menyanyikan lagu Obat Hati versi Sumbawa dan lagu ciptaannya tentang Sumbawa.
Dan yang terakhir, Ada Kak Imam yang menjelaskan tentang Leadership Academy dan organisasi yang ada di kampus seperti KMPB ini. Acarapun ditutup dengan sesi foto bersama sebagai dokumentasi dari kegiatan tersebut. And then.. Kesimpulan dan ilmu yang kami dapat sore ini adalah pentingnya Publik Speaking dalam bagi kita, dan kiat-kiat menjadi Public Speaker yang baik. Because Succes start with Communication ^^

Salam Komunikece !
Arini Shalsabella Putri, Maba Fikom UTS 2014. 
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS