Sore
tadi, kami mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh kakak tingkat kami. Dan
sebagai maba UTS yang baik hati tapi jarang menabung, saya dan kawan-kawan
datang dalam kegiatan tersebut. Kegiatan tersebut adalah kegiatan bedah buku “The
Power of Public Speaking” karya Charles Bonar Sirait. Acara diawali dengan
perkenalan kakak tingkat kami di Universitas Teknologi Sumbawa yang sedang
menempuh semester ketiganya.
Mereka
juga memperkenalkan “KMPB” kepada kami. KMPB adalah Komunitas Mahasiswa Pecinta
Buku yang baru saja diresmikan 9 Agustus yang lalu. Komunitas ini bersifat
independen, yaitu terbuka bagi siapa saja yang mau bergabung. Bukan hanya bagi
mahasiswa UTS, tapi komunitas ini juga terbuka untuk mahasiswa Universitas lain
maupun bagi para pelajar di daerah Sumbawa. Tujuan komunitas ini dibuat bukan
hanya untuk membaca buku, tapi juga diperuntukkan sebagai tempat sharing
pengetahuan, sharing kecintaan terhadap buku, mengunjungi dan mengkaji media, menyelenggaraan
seminar, dan juga banyak hal menarik lain yang tidak hanya bermanfaat dari segi
ilmu, tapi juga dapat menjalin tali silaturahmi sesama anggota komunitas.
Dan
karena ini bukan acara formal, kami pun duduk ‘lesehan’ dibawah pohon yang ada
di Taman Untir Katimis tersebut sembari mendengarkan kakak tingkat kami mengisi
materi. Pengisian materi dimulai oleh Kak Egy Permana Putra, mahasiswa Fikom
UTS semester 3. Kak Egy memulai materi Public Speaking ini dengan menyinggung
tentang Vebal Graffiti. Ya, kadang dalam melaksanakan persentasi di kelas, saya
sangat sering mengucapkan ehmm,eeh,yaa.. atau kerennya disebut Verbal Gariffiti
tersebut tentunya sangat mengganggu dan membuat materi yang kita sampaikan
menjadi tidak efektif. Kuncinya adalah sering latihan dan latihan agar tidak
gugup. Penguasaan materipun diperlukan agar Verbal Graffiti tak diucapkan lagi.
Kak
Egy juga menyinggung tentang riset. Ya riset adalah hal pertama yang harus
dilakukan oleh public speaker jika ingin menyampaikan materi dengan baik. Riset
dilakukan dengan mencari refrensi tentang materi yang akan disampaikan. Setelah
materi ada, baruah kita berlatih, menumbuhkan rasa percaya diri, dan juga
keberanian. Karena, percuma kita punya segudang materi ataupun teori jika kita
tidak mempunyai keberanian untuk mengemukakannya di depan publik. Oya, Kak Egy
juga mengatakan jurus Public Speaking
adalah “Who says what in which channel to
whom with what effect”. Dan menurut hasil googling saya, itu adalah lima jurus jitu bagi ilmuwan komunikasi
yang dikemukakan oleh Harold Lasswell, seorang teoritis Ilmu Komunikasi dan
pakar Ilmu Politik. Dan itu adalah materi yang akan saya dapat saat kuliah
nanti :D
Lanjut
ke pemateri kedua, Kak Wira Mahardika yang juga mahasiswa Fikom UTS semester
tiga. Yang menarik dari pembahasan Kak Wira adalah tentang “Podium Shock”. Yang
gejalanya adalah saat kita naik ke podium untuk menyampaikan materi, tiba-tiba
kita gugup, isi kepala blank, pandangan mulai gelap, atau biasa disebut Blackout. Dan saya rasa setiap orang
pasti pernah mengalami hal ini. Dan lagi lagi, kuncinya adalah berlatih. Tapi
bukan hanya berlatih, kami juga harus paham Retorika. Retorika adalah seni
berkomunikasi yang dapat merubah pola pikir audience. Dan menurut pemaparan Kak
Wira, orang Sumbawa adalah orang yang jago beretorika. Atau bahasa Belandanya
adalah “bahasa lasap”. :D Retorika inilah hal yang juga sangat penting dalam
Public Speaking, terutama dalam menangani audience. Dari pemaparan kedua kakak
di atas, sebenarya inilah contoh Publik Speaker disekitar kita. Mereka memahami
materi yang mereka bawakan karena telah melakukan riset dari bermacam referensi.
Mereka percaya diri, dan mampu menguasai audience bahkan membuat kami tertawa
karena materi yang diselingi dengan candaan.
Adapun
Kak Fitriana Tjahyani, mahasiswi Teknik Metalurgi UTS semester 3 menambahkan
bahwa Public Speaking ada yang terencana dan tidak terencana. Dan untuk case Publik Speaking yang tidak
terencana atau spontan, hal yang diperlukan adalah menambah pengetahuan dan
wawasan dari berbagai refrensi yang ada dari membaca buku atau browsing di
dunia maya. Setelah itu, acara dilanjutkan oleh kakak yang disapa “Mas Wanbol”
dengan menyanyikan lagu Obat Hati versi Sumbawa dan lagu ciptaannya tentang
Sumbawa.
Dan
yang terakhir, Ada Kak Imam yang menjelaskan tentang Leadership Academy dan
organisasi yang ada di kampus seperti KMPB ini. Acarapun ditutup dengan sesi
foto bersama sebagai dokumentasi dari kegiatan tersebut. And then.. Kesimpulan
dan ilmu yang kami dapat sore ini adalah pentingnya Publik Speaking dalam bagi
kita, dan kiat-kiat menjadi Public Speaker yang baik. Because Succes start with
Communication ^^
Salam Komunikece !
Arini Shalsabella Putri, Maba Fikom
UTS 2014.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar