Pada 17 September 2014
lalu, Fakultas Psikologi Universitas Teknologi Sumbawa mengadakan Sekolah
Komunitas joki cilik untuk yang ketiga kalinya. Sekolah komunitas yang telah
dua kali dilaksanakan ini mendapat respon yang positif dari berbagai kalangan.
Meskipun pada awalnya orang tua para joki dan joki ciliknya sendiri bersikap
acuh tak acuh bahkan menolak adanya sekolah komunitas ini, mereka kemudian
mulai merasa welcome dan senang setelah dilakukan berbagai pendekatan oleh
mahasiswa-mahasiswa dan dosen dari Fakultas Psikologi. Mereka bahkan merasa
terbantu dengan hadirnya sekolah komunitas yang diadakan selama dua minggu
setiap dilaksanakannya turnamen pacuan kuda ini.
Sekolah komunitas ini
dibuat karena adanya keprihatinan terhadap para joki cilik yang memiliki
karakter yang terkesan agak ‘liar’. Hal itu disebabkan karena mereka berada di
dalam lingkungan yang tidak seharusnya. Misalnya di lingkungan orang dewasa
yang kerap kali melakukan perjudian, mabuk-mabukan, merokok, bahkan berkelahi.
Perilaku-perilaku tersebut diadopsi oleh para joki cilik sehingga terbentuklah
karakter-karakter yang terkesan kasar, suka berteriak, sumpah serapah, bahkan
merokok di usia mereka yang masih sangat kecil. Belum lagi karena kebebasan
yang tidak terkontrol membuat mereka semakin menjadi-jadi. Padahal, pengaruh
lingkungan sangat besar perannya dalam membentuk karakter dan perilaku
seseorang.
Sekolah komunitas yang
bertujuan membangun pendidikan, memberantas buta huruf, menanamkan pendidikan
karakter dan membiasakan kebiasaan positif pada joki cilik ini menuai hasil
yang positif. Terbukti dari perilaku para joki cilik yang mengalami perubahan
yang signifikan. Mereka kini lebih sopan, sering mengucap salam, tidak kasar,
tidak suka berteriak ataupun sumpah serapah lagi. Perubahan-perubahan kecil
tersebut sangatlah berarti.Apalagi mereka yang awalnya anti belajar, kini
sangat antusias menerima pelajaran.
Pelajaran-pelajaran
yang diberikan oleh tim sekolah komunitas ini tidak hanya disesuaikan dengan
kurikulum sekolah saja. Mereka terlebih dahulu melakukan identifikasi dan
mengecek seberapa jauh kemampuan para joki cilik dalam belajar. Tim sekolah
komunitas yang terdiri dari dosen dan mahasiswa tingkat satu dan dua dari
Fakultas Psikologi UTS ini pun menanamkan kebiasaan positif seperti mencuci
tangan, menjaga kebersihan, shalat lima waktu, beradaptasi, dan juga cara
menghargai teman seusia mereka. Pembelajaran-pembelajaran ini diharapkan
mengubah pola pikir atau mindset para joki cilik bahwa pendidikan sangatlah
penting untuk menggapai cita-cita mereka yang seharusnya tidak menjadi joki
saja sampai mereka dewasa.
Tim Sekolah Komunitas
disini pun sempat memiliki beberapa kendala. Keputusan peminjaman tenda,
pengaliran listrik, serta jadwal turnamen pacuan kuda yang seharusnya diadakan
setelah pembukaan Festival Moyo,yaitu 27 September 2014 pun dimajukan 10 hari
lebih cepat. Hal itu membuat joki cilik yang seharusnya berjumlah 50an orang, hanya
terlihat 13 sampai 15 orang. Hal itu dikarenakan banyaknya joki cilik yang
masih mengikuti sisa pertandingan di Bima. Tapi kendala-kendala ini tidak
menyurutkan semangat para mahasiswa Fakultas Psikologi . Karena bagi mereka,
Sekolah Komunitas ini juga merupakan media pembelajaran yang efektif bagi
mereka. Mereka disini belajar mengenal lingkungan sekitar, memahami karakter
orang lain, dan bagaimana cara merespon dan mengatasi anak-anak. Apalagi
sasaran psikologi itu sendiri adalah anak-anak, karakter jiwa seseorang dan
lingkungan sekitarnya. Merekapun dapat melatih aplikasi ilmu psikologi sejak dini.
Dan untuk kedepan, mereka ingin sekolah komunitas ini tidak hanya diadakan
setiap turnamen pacuan kuda berlangsung. Dosen dan para mahasiswa Fakultas
Psikologi juga akan terus membuat berbagai program serta gebrakan seperti sekolah komunitas ini agar mutu
pendidikan di Sumbawa terus meningkat dari berbagai kalangan yang ada.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar