Sekolah Komunitas untuk Joki Cilik

Sabtu, 04 Oktober 2014



Pada 17 September 2014 lalu, Fakultas Psikologi Universitas Teknologi Sumbawa mengadakan Sekolah Komunitas joki cilik untuk yang ketiga kalinya. Sekolah komunitas yang telah dua kali dilaksanakan ini mendapat respon yang positif dari berbagai kalangan. Meskipun pada awalnya orang tua para joki dan joki ciliknya sendiri bersikap acuh tak acuh bahkan menolak adanya sekolah komunitas ini, mereka kemudian mulai merasa welcome dan senang setelah dilakukan berbagai pendekatan oleh mahasiswa-mahasiswa dan dosen dari Fakultas Psikologi. Mereka bahkan merasa terbantu dengan hadirnya sekolah komunitas yang diadakan selama dua minggu setiap dilaksanakannya turnamen pacuan kuda ini.

Sekolah komunitas ini dibuat karena adanya keprihatinan terhadap para joki cilik yang memiliki karakter yang terkesan agak ‘liar’. Hal itu disebabkan karena mereka berada di dalam lingkungan yang tidak seharusnya. Misalnya di lingkungan orang dewasa yang kerap kali melakukan perjudian, mabuk-mabukan, merokok, bahkan berkelahi. Perilaku-perilaku tersebut diadopsi oleh para joki cilik sehingga terbentuklah karakter-karakter yang terkesan kasar, suka berteriak, sumpah serapah, bahkan merokok di usia mereka yang masih sangat kecil. Belum lagi karena kebebasan yang tidak terkontrol membuat mereka semakin menjadi-jadi. Padahal, pengaruh lingkungan sangat besar perannya dalam membentuk karakter dan perilaku seseorang.

Sekolah komunitas yang bertujuan membangun pendidikan, memberantas buta huruf, menanamkan pendidikan karakter dan membiasakan kebiasaan positif pada joki cilik ini menuai hasil yang positif. Terbukti dari perilaku para joki cilik yang mengalami perubahan yang signifikan. Mereka kini lebih sopan, sering mengucap salam, tidak kasar, tidak suka berteriak ataupun sumpah serapah lagi. Perubahan-perubahan kecil tersebut sangatlah berarti.Apalagi mereka yang awalnya anti belajar, kini sangat antusias menerima pelajaran.
Pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh tim sekolah komunitas ini tidak hanya disesuaikan dengan kurikulum sekolah saja. Mereka terlebih dahulu melakukan identifikasi dan mengecek seberapa jauh kemampuan para joki cilik dalam belajar. Tim sekolah komunitas yang terdiri dari dosen dan mahasiswa tingkat satu dan dua dari Fakultas Psikologi UTS ini pun menanamkan kebiasaan positif seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan, shalat lima waktu, beradaptasi, dan juga cara menghargai teman seusia mereka. Pembelajaran-pembelajaran ini diharapkan mengubah pola pikir atau mindset para joki cilik bahwa pendidikan sangatlah penting untuk menggapai cita-cita mereka yang seharusnya tidak menjadi joki saja sampai mereka dewasa.

Tim Sekolah Komunitas disini pun sempat memiliki beberapa kendala. Keputusan peminjaman tenda, pengaliran listrik, serta jadwal turnamen pacuan kuda yang seharusnya diadakan setelah pembukaan Festival Moyo,yaitu 27 September 2014 pun dimajukan 10 hari lebih cepat. Hal itu membuat joki cilik yang seharusnya berjumlah 50an orang, hanya terlihat 13 sampai 15 orang. Hal itu dikarenakan banyaknya joki cilik yang masih mengikuti sisa pertandingan di Bima. Tapi kendala-kendala ini tidak menyurutkan semangat para mahasiswa Fakultas Psikologi . Karena bagi mereka, Sekolah Komunitas ini juga merupakan media pembelajaran yang efektif bagi mereka. Mereka disini belajar mengenal lingkungan sekitar, memahami karakter orang lain, dan bagaimana cara merespon dan mengatasi anak-anak. Apalagi sasaran psikologi itu sendiri adalah anak-anak, karakter jiwa seseorang dan lingkungan sekitarnya. Merekapun dapat melatih aplikasi ilmu psikologi sejak dini. Dan untuk kedepan, mereka ingin sekolah komunitas ini tidak hanya diadakan setiap turnamen pacuan kuda berlangsung. Dosen dan para mahasiswa Fakultas Psikologi juga akan terus membuat berbagai program serta gebrakan  seperti sekolah komunitas ini agar mutu pendidikan di Sumbawa terus meningkat dari berbagai kalangan yang ada. 
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS