“Na ! Anna ! Anna
bangun. Udah siang nih nak”, seperti biasa, Ibu berteriak membangunkan aku. Ini
sudah pukul setengah 7 tapi aku belum bangun dari tempat tidurku. Bukan, aku
bukan pemalas atau hobi bangun siang . Hanya saja semalam aku begadang untuk
mengerjakan materi yang akan aku
persentasikan besok. Belum lagi udara yang sedang dingin-dinginnya,
membayangkan akan mandi sepagi biasanya saja sudah membuat aku menggigil, apalagi
mandi beneran. Aku segera bangun dari tempat tidur, mengambil handuk dan segera
mandi. Setelah mandi, aku buru-buru mengenakan seragam, menyambar tas sekolah,
dan memakai sepatu. “Ibu.. Anna pergi bu”, teriakku dari luar. Sudah pukul 7
kurang 15 dan aku masih dirumah, bisa-bisa gak dikasih gerbang sama satpam
sekolah. Aku pun berlari seraya memanggil ojek di ujung gang rumahku. Biasanya
aku naik angkot, tapi jika sudah terindikasi telat seperti ini, ojeklah
satu-satunya penolongku, hehe.
***
“Lisaaaaaa! Tungguin
aku!”, aku memanggil manggil Lisa yang sedang berjalan menyusuri koridor
sekolah. Untung belum telat pikirku. “Eh, Anna. Ih, keringatan gitu pagi-pagi.
Gak mandi yah ? hahaha”, sapa Lisa. “Enak aja. Dari tadi aku lari-lari
nih,kirain telat. Masa udah buat persentasi capek-capek, malah telat pas
persentasinya.”, jawabku sambil mengelap keringat di kening dan leherku. “oh
iya, hari ini giliran persentasi kelompok kamu ya. Eh, jangan-jangan Ibu Yuli
udah ada ? duluaan ya Na”, Lisa lari meninggalkan aku. Dasar Lisa. Aku pun berlari
menyusulnya. Masuk ke kelas, duduk, dan merapat ke teman kelompokku. Dan maju
ke depan, mempersentasikan materi yang semalam membuat aku begadang, Internet—dan
jaringan.
***
Persentasinya
memuaskan. Diskusipun berjalan lancar dan tenang, meskipun sedikit menegangkan
buatku. Hanya saja aku agak kecewa, ada satu anggota kelompok yang ogah-ogahan
dengan materi ini. Bukannya apa-apa, jika ia seperti itu tentunya akan
mempengaruhi nilai kelompok kami. Padahal, yang lain sudah berusaha agar
persentasinya lancar. Tapi tak apa, toh Ibu guru pasti mengerti. “Anna !”, Ibu
Yuli memanggilku. “Sini sebentar nak.” Ujarnya. Akupun maju ke mejanya. “Ada
apa,Bu ?”, tanyaku. “Kamu dipanggil ke BP, sekarang yah. Ditunggu Ibu Diah”.
“Baik,Bu”, aku segera pergi ke ruang BP sambil menerka-nerka ada perlu apa Ibu
Diah denganku. “Permisi Bu, Ibu nyari saya?”. “Ah iya nak. Tadi Ibu kamu nelfon. Katanya mau
bicara.”, jawab Ibu Diah. Tumben sekali Ibu menelfon ke sekolah, kenapa gak
langsung ke handphone aku aja ya?
Astaga, handphone ku kan lagi di charge! Buru-buru jadi lupa bawa deh,
pasti Ibu marah nih. Akupun mengambil gagang telefon dari tangan Ibu Diah, “
Halo? Ibu? Kenapa bu?”, tanyaku. “Anna, kenapa kamu gak bawa hape kamu? Tadi
pergi sekolah juga gak pamitan, gak salaman sama Ibu.”, dari nadanya Ibu
terdengar sangat khawatir daripada marah. Maklum, aku anak satu-satunya.
Lagipula Ibu sekarang cuma punya aku di sini, aku juga cuma punya Ibu. Ayah sudah
gak ada waktu aku umur 13 tahun, sakit keras kata Ibu. “Aduh Ibu maaf, Anna
tadi buru-buru. Gak sempat bawa hape. Maaf ya bu.”, aku meminta maaf. “Tapi
masa Ibu telepon khawatir gini cuma gara gara lupa bawa hape sih? Ibu nih,
makin lama makin overprotektiv deh. Hehe”,candaku. “Mendingan kamu pulang deh
nak, yah.”, ujar Ibu. “Kenapa sih Bu? Anna kan masih ada mata pelajaran, ini
masih jam 9 Ibu.”,jawabku. “Pokoknya pulang nak, sekarang. Ntar Ibu yang
bilangin ke guru BP kamu.”, ibu mengultimatum. Dan selalu, tak boleh ada bantahan.
“Iya Bu, Anna pulang.”,jawabku lesu. Akupun pamit kepada Ibu Diah dan segera
kembali ke kelas. Ternyata sudah jam istirahat. Ibu Yuli sudah keluar,
teman-teman juga sudah keluar untuk ke kantin, atau cuma duduk-duduk di luar
cari angin. Tapi sekolah memang agak sepi, karena anak kelas dua sedang dalam
masa Praktek Kerja Lapangan (PKL) , sehingga penunggu sekolah hanya ada kelas 1
dan kelas 3. Akupun segera mengambil tas dan pulang. Aku meninggalkan sebuah memo
di bangku Lisa, aku pulang duluan,tulisku. Aku duduk di depan gerbang sekolah
sembari menunggu angkot lewat. Tapi sudah 15 menit aku menunggu, angkot tak ada
yang lewat satupun. Yah, mungkin karena
sekolahku memang bukan jalur tetap angkot. Angkot akan ramai lalu lalang saat
jamnya anak-anak pergi ke sekolah dan tentunya jam pulang sekolah. Jadi wajar
saja tidak ada angkot satupun. Tetapi ojekpun tidak terlihat juga. Lalu
bagaimana aku pulang ? -_- Setelah menunggu 20 menitan, aku memutuskan untuk
jalan ke pusat kota. Disana ada halte, tentunya aku bisa naik angkot dari sana.
Jaraknya hanya lima sampai enam menit kalau jalan. Mending jalan dari tadi deh,
ibu pasti udah nunggu. Akupun berjalan menuju halte. Saat melewati warung sate,
tiba-tiba rasanya perut menjadi lapar. Uh, semoga ibu masak enak hari ini. Tapi
kenapa jam segini jalanan sepi yah ? Mungkin masih jam kerja. Kebetulan jalan
yang aku lewati ini kompleks perkantoran, sehingga mayoritas pengguna jalan
tentunya pegawai-pegawai kantor tersebut. Aku melewati kantor pemerintahan,
tempat aku PKL setahun yang lalu. Kenapa sepi sekali? Motor yang ada di
parkiran juga tidak sebanyak biasanya. Aku berhenti dan menatap kantor dengan
seksama. Tiba-tiba dari pintu di ujung barat ada suara yang ramai sekali, demokah?
Pikirku. Tiba-tiba saja banyak massa yang menyerbu kantor ini. Aku takut. Aku
lebih baik segera pulang. Ku lihat mereka kini mulai masuk ke dalam gedung. Ada
yang membawa bambu-bambu panjang, ada yang melempar batu, dan mereka
berteriak-teriak seakan protes terhadap sesuatu. Aku langsung mengambil langkah
seribu sampai kulihat seseorang dengan tongkatnya sedang menuruni tangga lantai
dua bagian luar. “Tia !” teriakku. Apa yang dilakukannya disini? Astaga. Aku
lupa ini adalah tempat pkl Tia tahun ini,tapi bukankah ia baru saja kecelakaan?
Aku berbalik arah dan segera berlari menuju dia. Langkahnya tertatih-tatih,
pasti kakinya belum sembuh. Buktinya tongkat itu masih dia gunakan untuk
berjalan. “Tiaa !”, panggilku. “Tia ngapain disini? Ayok turun!”, ajakku. “ya
kak,Tia takut. Kak, Hendra ada di dalam kak. Dia pingsan, tiba-tiba aja ada
batu yang ngehantam kaca. Batunya kena dia kak, kacanya juga”,Tia mulai
menangis terisak. “Emangnya ada apa ini Tia? Kenapa Rusuh begini Tia?”,
tanyaku. Kaca-kaca sudah berserakan. Bahkan gedung bagian barat sudah mulai
dilalap api . Ada apa ini,batinku. “Tia gak tau kak. Tiba-tiba ada demo, rusuh.
Aku cuma dengar ada masalah antar suku kak”, ia menangis sejadi-jadinya. “Tia,
kamu cepat turun. Ke arah sekolah yah. Kakak lihat Hendra dulu”, aku berlari ke
arah ruangan yang ditunjuk Tia. Hendra itu sahabat Tia, satu kelas. Hendra
punya badan yang sangat ceking, berbeda dengan Tia yang agak subur. Aku melihat
Hendra terluka di bagian kepala, ia tergeletak disebelah komputer yang sudah
pecah monitornya. Aku mencoba mengangkatnya, menaikannya ke kursi kerja yang
memiliki roda. Aku berusaha mengeluarkannya dari ruangan. Tiba-tiba suara
meledak di sudut ruangan membuat aku terkejut. Pasti konslet. Entah apa yang
terjadi, api menyebar kemana-mana. Kertas-kertas dilalap api sedemikian
cepatnya. Sampai ada sebuah batu melayang ke arahku. Brakkk. Ibu.. kepalaku
sakit. Nyeri sekali. Aku pusing. Pening. Api melalap habis semua benda
diruangan ini. Hendra—Hendra jatuh dari kursi. Aku tak bisa bangun. Tapi aku harus
bangun, kaki Hendra terkena api. Ya Tuhan ! kaki Hendra ! Aku bangun sekuat
tenaga, menarik kaki Hendra dari api. Dengan sisa tenaga meletakkan Hendra di
kursi, berusaha mencari jalan keluar. Tuhan. Apa maksud dari semua ini. Aku
ingin pulang. Aku mau ketemu Ibu. Ibu pasti khawatir. Ibuu.. Aku disini ibu.
Ibu, tolong Anna. Satu-satunya jalan adalah melewati pintu—pintu yang sudah
dilalap api. Aku hanya harus melewatinya. Harus cepat. Hitungan ketiga, aku
akan berlari melewati itu. Kursi Hendra sudah ada dalam peganganku, aku hanya
tinggal mendorongnya keluar. Satu.. Dua.. Brakk. Kayu di atap yang dilalap api
jatuh ke badan, membuat aku jatuh tergeletak. Ibu, tolong Anna bu. Rasanya panas. Sakit. “Ibuuuuuuuuuuuu !!!!”
***
“Ibuuuuuuuuuuuu !!!!”,
teriakku. Aku terbangun dengan peluh yang membasahi tubuhku. Baju tidurku
basah, keringatku dimana-mana.Apa aku mimpi ? “Anna ? Annaaa! Kamu kenapa?
Ayook bangun, udah siang nih”, teriak Ibuku dari bawah. Sepertia biasa, Ibu
membangunkanku. Saat aku lihat jam, sudah jam 7 kurang lima belas menit. Aku
bergegas mandi dan berganti seragam. Mengambil tasku dan bergegas ke sekolah. “Ibuuu! Anna pergi dulu.
Dadah Ibu”, teriakku dari luar. Akupun berlari memanggil ojek. Naik angkot
hanya akan membuatku telat. Sesampainya di sekolah, aku buru-buru masuk ke
kelas. Hari ini ada persentasi, aku sudah menyiapkan bahan persentasinya malam
tadi. Aku harus bisa.
Persentasinya lancar.
Aku senang. Dengan sumringah aku duduk kembali ke tempat dudukku setelah
persentasi. “Lisa, aku mau cerita nih”, curhatku pada Lisa. “Iyah Na, cerita
apaan?”, jawab Lisa. “Semalem yah, masa aku—“ . Cerita ku terpotong. Ibu Yuli
memanggilku, “Anna ! Sini sebentar nak.” Ujarnya. Akupun maju ke mejanya. “Ada
apa,Bu ?”, tanyaku. “Kamu dipanggil ke BP, sekarang yah. Ditunggu Ibu Diah,
katanya Ibu kamu nelfon”,ujar Ibu Yuli. DEG. Bukankah ini seperti di dalam
mimpi? “Sekalian bawa tas kamu Na. Ibu kamu nyuruh pulang”,tambahnya. Aku
mematung. Sedetik, Dua detik. Keringat dingin menyergap tubuhku. Ibu, tolong
Anna bu. Anna takut.
***


