Ibu, Tolong Anna !

Kamis, 30 Juli 2015


“Na ! Anna ! Anna bangun. Udah siang nih nak”, seperti biasa, Ibu berteriak membangunkan aku. Ini sudah pukul setengah 7 tapi aku belum bangun dari tempat tidurku. Bukan, aku bukan pemalas atau hobi bangun siang . Hanya saja semalam aku begadang untuk mengerjakan materi  yang akan aku persentasikan besok. Belum lagi udara yang sedang dingin-dinginnya, membayangkan akan mandi sepagi biasanya saja sudah membuat aku menggigil, apalagi mandi beneran. Aku segera bangun dari tempat tidur, mengambil handuk dan segera mandi. Setelah mandi, aku buru-buru mengenakan seragam, menyambar tas sekolah, dan memakai sepatu. “Ibu.. Anna pergi bu”, teriakku dari luar. Sudah pukul 7 kurang 15 dan aku masih dirumah, bisa-bisa gak dikasih gerbang sama satpam sekolah. Aku pun berlari seraya memanggil ojek di ujung gang rumahku. Biasanya aku naik angkot, tapi jika sudah terindikasi telat seperti ini, ojeklah satu-satunya penolongku, hehe.
***
“Lisaaaaaa! Tungguin aku!”, aku memanggil manggil Lisa yang sedang berjalan menyusuri koridor sekolah. Untung belum telat pikirku. “Eh, Anna. Ih, keringatan gitu pagi-pagi. Gak mandi yah ? hahaha”, sapa Lisa. “Enak aja. Dari tadi aku lari-lari nih,kirain telat. Masa udah buat persentasi capek-capek, malah telat pas persentasinya.”, jawabku sambil mengelap keringat di kening dan leherku. “oh iya, hari ini giliran persentasi kelompok kamu ya. Eh, jangan-jangan Ibu Yuli udah ada ? duluaan ya Na”, Lisa lari meninggalkan aku. Dasar Lisa. Aku pun berlari menyusulnya. Masuk ke kelas, duduk, dan merapat ke teman kelompokku. Dan maju ke depan, mempersentasikan materi yang semalam membuat aku begadang, Internet—dan jaringan.
***
Persentasinya memuaskan. Diskusipun berjalan lancar dan tenang, meskipun sedikit menegangkan buatku. Hanya saja aku agak kecewa, ada satu anggota kelompok yang ogah-ogahan dengan materi ini. Bukannya apa-apa, jika ia seperti itu tentunya akan mempengaruhi nilai kelompok kami. Padahal, yang lain sudah berusaha agar persentasinya lancar. Tapi tak apa, toh Ibu guru pasti mengerti. “Anna !”, Ibu Yuli memanggilku. “Sini sebentar nak.” Ujarnya. Akupun maju ke mejanya. “Ada apa,Bu ?”, tanyaku. “Kamu dipanggil ke BP, sekarang yah. Ditunggu Ibu Diah”. “Baik,Bu”, aku segera pergi ke ruang BP sambil menerka-nerka ada perlu apa Ibu Diah denganku. “Permisi Bu, Ibu nyari saya?”.  “Ah iya nak. Tadi Ibu kamu nelfon. Katanya mau bicara.”, jawab Ibu Diah. Tumben sekali Ibu menelfon ke sekolah, kenapa gak langsung ke handphone aku aja ya? Astaga, handphone ku kan lagi di charge! Buru-buru jadi lupa bawa deh, pasti Ibu marah nih. Akupun mengambil gagang telefon dari tangan Ibu Diah, “ Halo? Ibu? Kenapa bu?”, tanyaku. “Anna, kenapa kamu gak bawa hape kamu? Tadi pergi sekolah juga gak pamitan, gak salaman sama Ibu.”, dari nadanya Ibu terdengar sangat khawatir daripada marah. Maklum, aku anak satu-satunya. Lagipula Ibu sekarang cuma punya aku di sini, aku juga cuma punya Ibu. Ayah sudah gak ada waktu aku umur 13 tahun, sakit keras kata Ibu. “Aduh Ibu maaf, Anna tadi buru-buru. Gak sempat bawa hape. Maaf ya bu.”, aku meminta maaf. “Tapi masa Ibu telepon khawatir gini cuma gara gara lupa bawa hape sih? Ibu nih, makin lama makin overprotektiv deh. Hehe”,candaku. “Mendingan kamu pulang deh nak, yah.”, ujar Ibu. “Kenapa sih Bu? Anna kan masih ada mata pelajaran, ini masih jam 9 Ibu.”,jawabku. “Pokoknya pulang nak, sekarang. Ntar Ibu yang bilangin ke guru BP kamu.”, ibu mengultimatum. Dan selalu, tak boleh ada bantahan. “Iya Bu, Anna pulang.”,jawabku lesu. Akupun pamit kepada Ibu Diah dan segera kembali ke kelas. Ternyata sudah jam istirahat. Ibu Yuli sudah keluar, teman-teman juga sudah keluar untuk ke kantin, atau cuma duduk-duduk di luar cari angin. Tapi sekolah memang agak sepi, karena anak kelas dua sedang dalam masa Praktek Kerja Lapangan (PKL) , sehingga penunggu sekolah hanya ada kelas 1 dan kelas 3. Akupun segera mengambil tas dan pulang. Aku meninggalkan sebuah memo di bangku Lisa, aku pulang duluan,tulisku. Aku duduk di depan gerbang sekolah sembari menunggu angkot lewat. Tapi sudah 15 menit aku menunggu, angkot tak ada yang lewat satupun.  Yah, mungkin karena sekolahku memang bukan jalur tetap angkot. Angkot akan ramai lalu lalang saat jamnya anak-anak pergi ke sekolah dan tentunya jam pulang sekolah. Jadi wajar saja tidak ada angkot satupun. Tetapi ojekpun tidak terlihat juga. Lalu bagaimana aku pulang ? -_- Setelah menunggu 20 menitan, aku memutuskan untuk jalan ke pusat kota. Disana ada halte, tentunya aku bisa naik angkot dari sana. Jaraknya hanya lima sampai enam menit kalau jalan. Mending jalan dari tadi deh, ibu pasti udah nunggu. Akupun berjalan menuju halte. Saat melewati warung sate, tiba-tiba rasanya perut menjadi lapar. Uh, semoga ibu masak enak hari ini. Tapi kenapa jam segini jalanan sepi yah ? Mungkin masih jam kerja. Kebetulan jalan yang aku lewati ini kompleks perkantoran, sehingga mayoritas pengguna jalan tentunya pegawai-pegawai kantor tersebut. Aku melewati kantor pemerintahan, tempat aku PKL setahun yang lalu. Kenapa sepi sekali? Motor yang ada di parkiran juga tidak sebanyak biasanya. Aku berhenti dan menatap kantor dengan seksama. Tiba-tiba dari pintu di ujung barat ada suara yang ramai sekali, demokah? Pikirku. Tiba-tiba saja banyak massa yang menyerbu kantor ini. Aku takut. Aku lebih baik segera pulang. Ku lihat mereka kini mulai masuk ke dalam gedung. Ada yang membawa bambu-bambu panjang, ada yang melempar batu, dan mereka berteriak-teriak seakan protes terhadap sesuatu. Aku langsung mengambil langkah seribu sampai kulihat seseorang dengan tongkatnya sedang menuruni tangga lantai dua bagian luar. “Tia !” teriakku. Apa yang dilakukannya disini? Astaga. Aku lupa ini adalah tempat pkl Tia tahun ini,tapi bukankah ia baru saja kecelakaan? Aku berbalik arah dan segera berlari menuju dia. Langkahnya tertatih-tatih, pasti kakinya belum sembuh. Buktinya tongkat itu masih dia gunakan untuk berjalan. “Tiaa !”, panggilku. “Tia ngapain disini? Ayok turun!”, ajakku. “ya kak,Tia takut. Kak, Hendra ada di dalam kak. Dia pingsan, tiba-tiba aja ada batu yang ngehantam kaca. Batunya kena dia kak, kacanya juga”,Tia mulai menangis terisak. “Emangnya ada apa ini Tia? Kenapa Rusuh begini Tia?”, tanyaku. Kaca-kaca sudah berserakan. Bahkan gedung bagian barat sudah mulai dilalap api . Ada apa ini,batinku. “Tia gak tau kak. Tiba-tiba ada demo, rusuh. Aku cuma dengar ada masalah antar suku kak”, ia menangis sejadi-jadinya. “Tia, kamu cepat turun. Ke arah sekolah yah. Kakak lihat Hendra dulu”, aku berlari ke arah ruangan yang ditunjuk Tia. Hendra itu sahabat Tia, satu kelas. Hendra punya badan yang sangat ceking, berbeda dengan Tia yang agak subur. Aku melihat Hendra terluka di bagian kepala, ia tergeletak disebelah komputer yang sudah pecah monitornya. Aku mencoba mengangkatnya, menaikannya ke kursi kerja yang memiliki roda. Aku berusaha mengeluarkannya dari ruangan. Tiba-tiba suara meledak di sudut ruangan membuat aku terkejut. Pasti konslet. Entah apa yang terjadi, api menyebar kemana-mana. Kertas-kertas dilalap api sedemikian cepatnya. Sampai ada sebuah batu melayang ke arahku. Brakkk. Ibu.. kepalaku sakit. Nyeri sekali. Aku pusing. Pening. Api melalap habis semua benda diruangan ini. Hendra—Hendra jatuh dari kursi. Aku tak bisa bangun. Tapi aku harus bangun, kaki Hendra terkena api. Ya Tuhan ! kaki Hendra ! Aku bangun sekuat tenaga, menarik kaki Hendra dari api. Dengan sisa tenaga meletakkan Hendra di kursi, berusaha mencari jalan keluar. Tuhan. Apa maksud dari semua ini. Aku ingin pulang. Aku mau ketemu Ibu. Ibu pasti khawatir. Ibuu.. Aku disini ibu. Ibu, tolong Anna. Satu-satunya jalan adalah melewati pintu—pintu yang sudah dilalap api. Aku hanya harus melewatinya. Harus cepat. Hitungan ketiga, aku akan berlari melewati itu. Kursi Hendra sudah ada dalam peganganku, aku hanya tinggal mendorongnya keluar. Satu.. Dua.. Brakk. Kayu di atap yang dilalap api jatuh ke badan, membuat aku jatuh tergeletak. Ibu, tolong Anna bu. Rasanya panas. Sakit.  “Ibuuuuuuuuuuuu !!!!”

***
“Ibuuuuuuuuuuuu !!!!”, teriakku. Aku terbangun dengan peluh yang membasahi tubuhku. Baju tidurku basah, keringatku dimana-mana.Apa aku mimpi ? “Anna ? Annaaa! Kamu kenapa? Ayook bangun, udah siang nih”, teriak Ibuku dari bawah. Sepertia biasa, Ibu membangunkanku. Saat aku lihat jam, sudah jam 7 kurang lima belas menit. Aku bergegas mandi dan berganti seragam. Mengambil tasku dan  bergegas ke sekolah. “Ibuuu! Anna pergi dulu. Dadah Ibu”, teriakku dari luar. Akupun berlari memanggil ojek. Naik angkot hanya akan membuatku telat. Sesampainya di sekolah, aku buru-buru masuk ke kelas. Hari ini ada persentasi, aku sudah menyiapkan bahan persentasinya malam tadi. Aku harus bisa.
Persentasinya lancar. Aku senang. Dengan sumringah aku duduk kembali ke tempat dudukku setelah persentasi. “Lisa, aku mau cerita nih”, curhatku pada Lisa. “Iyah Na, cerita apaan?”, jawab Lisa. “Semalem yah, masa aku—“ . Cerita ku terpotong. Ibu Yuli memanggilku, “Anna ! Sini sebentar nak.” Ujarnya. Akupun maju ke mejanya. “Ada apa,Bu ?”, tanyaku. “Kamu dipanggil ke BP, sekarang yah. Ditunggu Ibu Diah, katanya Ibu kamu nelfon”,ujar Ibu Yuli. DEG. Bukankah ini seperti di dalam mimpi? “Sekalian bawa tas kamu Na. Ibu kamu nyuruh pulang”,tambahnya. Aku mematung. Sedetik, Dua detik. Keringat dingin menyergap tubuhku. Ibu, tolong Anna bu. Anna takut.

***

Pelukan terakhir Ayah

Rabu, 25 Februari 2015

Hari ini hari kelulusanku. Seperti biasa,  Ayah tidak bisa datang untuk menghadirinya bahkan untuk sebentar saja. Sama seperti tiga bahkan enam tahun yang lalu. Sekeras apapun aku berusaha belajar dan menjadi juara agar menarik perhatiannya, sekeras itu pula aku hancur karena ketidakpeduliannya. Ya, Ayah tidak pernah peduli. Sama seperti saat beberapa hari sebelum ujian smp dimulai, jantungku kumat lagi. Tak kusangka belajarku yang agak berat malah membuatku jatuh sakit. Jantungku lemah. Semula kami tak mengerti kenapa aku bisa memiiki penyakit jantung ini. Ayah dan Ibu adalah orang-orang yang sehat. Tak kusangka penyakit kakekku  diwariskan kepadaku. Saat itu aku masuk UGD, Ibu sangat khawatir. Bahkan ku lihat air mata mulai berjatuhan di pipinya. Ibu mengabarkan pada Ayah. Tapi yang datang hanya Tante Vanya, yang memberi tahu bahwa lagi-lagi Ayah tidak bisa datang. Dia hanya menitipkan tiga lembar uang seratusan ribu kepada Ibu. Kau pikir, semua ketidakhadiranmu mampu kau ganti dengan uang, Ayah? Semakin dewasa, aku semakin paham. Ayah bukan tidak bisa, tapi Ayah tak mau peduli. Dan aku harus memahaminya, menikmati sakitnya.

Mataku mulai basah, mungkin air mata. Bukan karena pada hari kelulusanku ini aku bisa masuk 3 besar. Tapi karena lagi-lagi aku harus menerima kenyataan pahit, bahwa Ayah memang tak diperuntukkan untukku. Aku tak mengerti apa definisi Ayah yang sebenarnya. Karena aku hanya tahu dari membaca dan mendengarnya, bukan merasakannya. Ayah tak lagi ada untukku saat aku duduk di bangku kelas satu SD. Ia dan Ibu berpisah, dengan berbagai masalah yang tak akan dapat dipahami olehku yang dulu masih begitu kecil. Aku melangkahkan kaki turun dari panggung dan langsung di peluk oleh Ibu. Aku bukannya ingin terus mengeluh pada Tuhan tentang Ayah dan melupakan bagaimana rasa syukurku telah memiliki ibu yang sehebat Ibuku ini. Terima kasih, Tuhan. Syukurku tak pernah putus. Ayah? Aku jarang bertemu Ayah. Menanyakan kabar? Apalagi.

Setelah kelulusan, kami mulai berkeliling bersama teman-teman untuk mencari tempat makan. Merayakan kelulusan kami.  Kami sampai di warung mi ayam tempat kami biasa datang. Kami mulai memarkirkan motor kami. Tapi mataku terhenti pada mobil Avanza silver yang ada disebelahku saat ini, mobil yang berplatkan nomor mobil Ayah. Ku lihat di dalam ia sedang bersama  bayi laki-lakinya dan juga istrinya. Dadaku sakit. Aku sangat mengharapkan kedatangannya hari ini. Tapi ia malah mengacuhkanku. Ia benar-benar tak perduli betapa aku menunggunya datang agar aku dapat membuatnya bangga. Tapi ia malah disini, makan siang bersama istri dan anaknya yang lain.

Ini tidak adil. Aku bahkan tak pernah menuntut Ayah untuk benra-benar menjadi Ayahku. Aku tak pernah dengan sengaja membebani Ayah. Aku tak pernah minta Ayah mengeluarkan uang untukku. Aku bahkan tak minta terlalu banyak waktu dan perhatian Ayah, yang seharusnya ku miliki. Tapi semua terasa salah. Dimata Ayah aku sudah tak ada. Bahkan pelukmu pun Ayah, tak pernah ku rasa.

Sungguh, dadaku benar-benar sakit. Aku hanya terdiam di depan pintu warung makan itu. Aku masih menatap mereka  sampai Ayah tersadar bahwa aku sedang menatapnya. Aku cepat-cepat membalikkan badan dan berjalan ke parkiran. Ayah pun bangkit dari tempat duduknya dan mengejarku. “Dito !”, panggil Ayah. Akupun berhenti. Kulihat ada raut penyesalan diwajahnya.  Tapi itu tak membuat kekecewaanku lenyap sedikitpun. “Kenapa pergi? Ayo makan. Tadi dapat juara ?”, tanya Ayah. Aku tahu ia berusaha menutupi kesalahannya. Tapi kekecewaanku telah kusimpan begitu lama. Semua kenangan tentang bagaimana aku diabaikan, tentang bagaimana aku seolah tak ada baginya, kini berputar-putar dikepalaku. Aku terlalu marah untuk menjawab pertanyaannya. “Apa peduli Ayah?”,bentakku. Sungguh, aku marah. Apa aku tak pernah penting baginya? “Jaga omonganmu Dito! Ayah tanya baik-baik malah membentak! Ayah ini Ayah kamu!” balas Ayah. “Lalu kenapa Ayah hanya datang sesekali? Itupun tanpa hati. Lalu kenapa meninggalkanku? Jika Ayah yang Ayah maksud adalah mengganti semua dengan uang yang Ayah punya, aku punya banyak orang yang lebih AYAH daripada AYAH ! Kalo Ayah pikir aku akan terus berlapang dada untuk menerima semua rasa sakit yang Ayah sebabkan,Ayah salah! Aku butuh Ayah lebih dari yang Ayah tahu. Tapi untuk mengingatku atahu menanyakan kabarku saja, tak sedikitpun Ayah lakukan. Apanya yang Ayah sebut sebagai Ayah?” aku laki-laki. Tapi air mataku seakan-akan ingin tumpah ruah. Kata-kataku sudah sama bergetarnya dengan kakiku.

“Kamu itu tidak mengerti Dito!”  kulihat wajah Ayah mengeras.  “Kenapa yah? Ayah mau marah? Apa yang salah dari Dito yah? Semua yang Dito bilang ini benar kan ? Dito gak tahu Dito punya salah apa sama Ayah sampai Ayah sebegini acuhnya sama Dito. Lebih baik Dito gak punya Ayah sekalian yah. Daripada sepanjang umur Dito, Dito punya Ayah tapi seperti gak punya. Dito capek yah, Dito sakit sama sikap Ayah yang kayak gini sama Dito”, aku mulai menangis. Air mataku jatuh perlahan,tanpa isak. Ayahku terlihat iba padaku. Matanya mulai berair, tangannya menggapai dan mulai memelukku. Inikah pelukan Ayah ? Hangat. Aku segera melepaskannya. Aku tak ingin Ayah kasihani. Aku anaknya. Bukan pengemis yang sedang minta perhatiannya. Aku berlari menyebrangi jalan raya, lebih baik aku pergi sebelum aku semakin kurang ajar pada Ayah. Tapi dari sebrang, aku lihat Ayah menyusulku dan menyebrangi jalan raya dengan tergesa-gesa. Tuhan, kenapa tadi aku tak bersikap biasa saja. Kenapa harus semarah tadi. Bahkan pelukan Ayah, hanya sebentar kurasakan. Aku ingin dipeluk Ayah lagi. “AYAH !” teriakku. Sebuah mobil melaju kencang kearah Ayah yang sedang menyebrang jalan. Brakk. Kulihat Ayah merintih kesakitan dan berdarah. Dadaku sakit. Dan tiba-tiba semuanya gelap.


Tak ku sangka bahwa pelukan ini adalah pelukan terakhir yang ku dapat dari Ayah. Aku tak akan mendapat pelukannya lagi. Aku menyesal harus bersikap seperti tadi. Aku tak tahu semuanya akan menjadi seperti ini. Ku lihat Ibu ku datang dengan berurai air mata, ingin rasanya aku memeluknya dan menenangkannya. Tapi aku tak bisa. Ayah memelukku dengan tangannya yang berlumuran darah untuk yang terakhir kali dengan erat. “Maaf Pak,Bu. Dito tidak bisa tertolong. Serangan jantungnya begitu parah.” Kata Dokter. Ya, aku terkena serangan jantung tepat saat aku melihat Ayah tertabrak. Ayahku menangis dengan penuh penyesalan. “Maafkan Ayah Dito,maafkan. Ayah salah Dito,Ayah salah. Maaf ”, isak tangis Ayah dan Ibu serta pelukan terakhir ayah, mengiringi kepergianku.

Explore Sumbawa : Tiga Pulau Cantik Sumbawa

Seperti yang kita semua tahu, Indonesia disebut sebagai negara kepulauan karena memiliki banyak sekali pulau. Terhitung sebanyak 17.000 pulau lebih yang ada di Indonesia kita yang tercinta ini. Pulau pulau yang memiliki pesona dan keindahannya masing-masing itu tersebar di seluruh Indonesia, tak terkecuali di daerah saya, yaitu Sumbawa. Sumbawa sendiri juga merupakan salah satu Pulau yang termasuk di wilayah NTB. Sumbawa memiliki banyak sekali tempat wisata yang sangat recommended untuk dikunjungi. Misalnya saja, tiga pulau cantik yang terletak di wilayah timur Sumbawa,yaitu Pulau Sentigi, Pulau Lipan, dan Pulau Panjang. Ketiga pulau cantik ini berada pada wilayah laut yang sama, yang dapat ditempuh dengan kapal dari Labu Jontal,di ujung Plampang.

Labu Jontal sendiri, merupakan perkampungan yang sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah nelayan. Bisa dilihat dari rumah-rumah penduduk yang berbentuk rumah panggung dan berada di pinggir laut. Dan bahasa yang digunakan penduduk adalah Bahasa Bugis, karena kebanyakan penduduk merupakan keturunan dari Suku Bugis di Makassar. Labu Jontal memiliki sebuah dermaga kecil. Dan dari dermaga kecil itu kita dapat memulai perjalanan menuju ketiga pulau tersebut dengan menyewa kapal milik nelayan. Tak banyak orang-orang yang tahu bahwa Sumbawa memiliki tiga pulau cantik ini. Hanya penduduk asli di Labu Jontal yang tahu keberadaan tiga pulau ini. Padahal, ketiga pulau ini memiliki potensi yang sangat besar untuk dijadikan tempat wisata bagi wisatawan domestik,maupun mancanegara.

Pulau yang pertama adalah Pulau Sentigi. Kita hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai disana. Pulau Sentigi merupakan pulau yang memiliki pasir putih yang indah. Laut di sekitarnya pun dangkal,sehingga anak-anak bisa berenang dengan aman. Apalagi tidak ada batu karang yang mengganggu kegiatan berenang kita. Disana juga banyak pohon kelapa yang berjejer rapi, dan banyak pohon yang ditanam sehingga berwisata dengan keluarga akan lebih nyaman dibawah pohon-pohon yang tumbuh dengan rindangnya. Kita juga dapat memancing ikan disana. Bagi yang ingin berlibur dengan ketenangan, Pulau Sentigi merupakan pulau yang sangat pas untuk dikunjungi,apalagi bersama keluarga tercinta.

Pulau kedua adalah Pulau Lipan. Dari dermaga,kita dapat sampai di Pulau Lipan dalam waktu sekitar setengah jam lebih. Pulau ini dinamakan Pulau Lipan dikarenakan bentuknya yang menyerupai Lipan. Pulau Lipan memiliki batu karang yang agak banyak, dan juga bulu babi yang berada disekitar karang tersebut. Tapi jika kita menuju ke samping pulau, ada tempat yang pas untuk berenang bersama teman-teman. Kelebihan Pulau Lipan ini adalah, ia memiliki padang rumput yang sangat hijau meskipun dalam musim kemarau dan berbentuk seperti bukit sehingga kita dapat mendaki hingga puncak dan dapat melihat seluruh keindahan pulau dari atas bukit hijau ini. Keindahan yang kini tidak mudah lagi didapatkan oleh penduduk kita, terutama penduduk kota-kota besar di Indonesia. Keindahan yang asri dan masih bersih dari gangguan manusia.

And the last but not least, adalah Pulau Panjang. Yang menurut saya pribadi adalah pulau tercantik yang pernah saya kunjungi. Pulau ini merupakan pulau yang paling jauh sehingga membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam untuk sampai kesana. Di tepian pulau, rerumputan nan hijau berpadu dengan bintang laut berwarna ungu dibawah beningnya air laut membuat siapapun yang melihatnya akan berdecak kagum. Indah. Belum lagi karang-karang dengan berbagai macam bentuk dan warna menambah eksotisnya pulau ini. Bukan hanya itu, banyak sekali ikan-ikan dengan berbagai warna yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Pulau ini sangat tepat untuk orang-orang yang mempunyai hobi snorkling ataupun diving. Keindahan biota bawah laut terlihat sangat indah. Apalagi perpaduan antara birunya laut, putihnya pasir, dan hijaunya bukit yang panjang melintang disertai dengan awan dan langit yang membuat siapa saja ingin kembali lagi kesini untuk menikmati suguhan alam nan indah yang di miliki oleh Pulau Panjang ini.

Ketiga pulau cantik tersebut, merupakan potensi wisata luar biasa yang dimiliki oleh Sumbawa dan tidak kalah cantiknya dengan tempat wisata diluaran sana. Pulau-pulau tersebut memiliki keindahan dan pesona tersendiri untuk dikunjungi bersama keluarga, teman, ataupun rekan rekan seperjuangan. Dan yang pasti, masih banyak pulau-pulau lain di Sumbawa yang juga tidak kalah indah dan mempesona. Jadi,marilah bersama, kita explore, Sumbawa !




ARINI SHALSABELLA PUTRI

14.02.051.001 / ILMU KOMUNIKASI
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS