Youtube as a New media : Who will be the Gatekeeper?

Minggu, 28 Juni 2020

 

The presence of new media in everyday life is the result of the rapid technology that now then brings the distribution of information through digital form. New media can be characterized by the variety of uses of images, video and sound to distribute information. Flew (2014) states that all new media have the same two characteristics, namely digitalization and convergence. Digitalization is how information is translated through binary code so that information can be transmitted electronically, while convergence is the merging of the use of information and media with technology. New media enables interactive interactions and the presence of virtual communities in new media. Some examples of the presence of new media today are the existence of electronic mail, online shopping platforms, social news sites, and also social networking.

One of the new popular media today is the YouTube social networking site. Chau (2010) is a site that allows users to upload, watch and share videos or can be said to be video-sharing websites. Youtube is a subsidiary of internet search giant Google, which was founded in 2005. Before Youtube came, television was a media that could be enjoyed in the form of audio-visual. Television is able to distribute information from one source to many recipients, which functions as a mass media. However, Youtube is able to beat television with its advantages that offer various types of information sources, easy access, and also easy to do interactive communication on the Youtube site. Based on statistics shown by the We Are Social page (2019), Youtube is the second most visited site in the world, just below the Google search site. Of the total time surfing the internet, internet users in the world spend 6 hours 42 minutes online each day and almost 92 percent of internet users now watch online videos every month. This is a great opportunity for Youtube users to take advantage of the site.

The big opportunity that is obtained through Yotube is not only as a media that displays the work of creators, but also an opportunity to earn income. Many people create a personal Youtube channel to create content and earn money from the Youtube site, which is the result of advertising payments or commonly called Yotube Ad-Sense. This opportunity then became the basis of the birth of a variety of existing content on Youtube today. Various types of content such as traveling, cooking, culinary, gaming, beauty product reviews, etc. However, the amount of competition on the YouTube site makes content creators compete to display different content, which sometimes does not choose the benefits and overrides the Quality Control of the video content, such as prank content or Talking content which sometimes turns into hate-speech content. Not only that, the potential for the birth of inappropriate content such as racist content, fake news, or even adult or vulgar content that is not suitable for consumption by children. This is a disturbing issue given that the use of new media is actually consumed by children, adolescents, and the generation above it. For example, The Verge (2018) discovered one of YouTube content that is not polite or even said to be unethical is a video from Logan Paul in his video laughing awkwardly laughing at the body of a suicide victim in one of the forests in Japan. Another video is a video of one of the well-known accounts namely PewDiePie which makes videos that corner about certain races and religions on the grounds of just joking. Other video content is online gaming video content conducted by a female YouTuber, Kimi Hime, whose videos are then considered to be overly dressed and too vulgar. Cash content is only three of the many content that does not have the Quality Control and gatekeeper that should be owned by the information media.

For conventional media, the government in a country even has its own institutions as gatekeepers for the distribution of information through its media. In contrast to new media such as Youtube that does not have a gatekeeper, Youtube only has rules and regulations for existing videos. This is ineffective because Youtube will only take down videos if other users report it. Another bad thing is, even though Youtube has taken down videos or banned accounts on Youtube, videos that have been there will be very easy to re-upload by other users. Seeing the characteristics of Youtube that allows users to save, download, and upload various videos. An obvious example is the Logan Paul video previously discussed, which has been uploaded many times by many users even though the original video was removed from Youtube.

The importance of gatekeepers in a media should be a concern for Youtube if Youtube wants to remain a media that provides information in the form of online video as it is today. In different contexts, content protection can be done by parents as a precaution for children not to access videos that are not suitable for watching on Youtube. Parents are expected to be a companion and be the first filter on which content is appropriate when children consume media content on YouTube. It is very important to impose a time limit on children when accessing Youtube, or even better start implementing the use of Youtube Kids which has been presented by Youtube. Some parts of the community reject the interference of other institutions in conducting surveillance of digital media such as Youtube because it is considered deadly to the creativity of the content creators. Using the same institutions and rules as conventional media such as television is also considered unwise by Youtube users. The New York Times (2008) report in their article that how the Youtube site organizes various videos that do not meet the guidelines, seeing how the video volume on Youtube is very large. Youtub users, can report videos that are deemed to have violated YouTube community guidelines such as videos containing explicit sexual things, graphic violence, and hate-speech. After being reported to the Youtube site, YouTube's internal reviewers will decide whether to allow the video, delete it, or pass it to a more specific level for review. This is considered very ineffective because the gatekeeping process is done when the video has spread to the site. As a site holder, Youtube is expected to be more strict with the standards of rules and regulations that are made or even update the rules and regulations to be more effective so that rogue users no longer have a gap to bring Youtube to the negative side in its role as one of new media.

 

Perihal Tangan-Tangan Baik Tuhan

Kamis, 07 Mei 2020


Dalam suatu hadist pernah dikatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat. Menjadi pegangan, kalimat ini membawa saya kepada banyak pilihan-pilihan penting yang harus saya pilih untuk masa depan saya. Saya merasa bahwa setiap orang akan masuk dalam fase dimana kita mempertanyakan apa yang telah kita lakukan sejauh ini, apa yang dapat kita berikan kepada lingkungan kita, Ibu-Bapak kita, Saudara-Saudara kita, atau bahkan kepada diri kita sendiri. Menilik balik satu persatu apa yang telah kita lakukan di waktu lalu, dan kadang misuh-misuh kecil atas sesal karena tak lakukan ini-itu saat masih mampu dan ada waktu. Terkadang saya punya rasa iri yang tinggi pada orang-orang yang punya mimpi tinggi dan memiliki semangat yang sama tingginya untuk mewujudkan hal tersebut. Saya bertanya-tanya mengapa orangt-orang bisa memiliki mimpi, bagaimana mereka menemukan apa yang ingin mereka lakukan, sementara disini… saya masih terbentur dengan warna abu-abu atas keinginan yang  tidak kunjung saya temukan. Namun lambat laun saya tahu, mimpi saya adalah menjadi orang yang bermanfaat—bagi saya dan juga bagi orang-orang di sekitar saya.
Setalah melalui banyak hal yang melelahkan sebagai manusia yang mengalami fase-fase untuk berubah menjadi dewasa, perjalanan saya tidaklah berbeda dari teman-teman yang sebaya. Penuh semangat juga penuh keringat. Banyak rintangan, tapi banyak juga diberi kemudahan. Pernah juga amat sangat berbahagia, juga pernah menangis hingga berderai air mata. Lulus kuliah, saya mencoba berbagai peruntungan. Saya mencoba ikut seleksi karyawan di kantor A,kantor B, bahkan ikut dalam tes CPNS. Namun, yang namanya belum rejeki, setipis apapun selisih nilai, jika buka untuk kita, maka tidaklah kita mendapatkannya. Agak sedih mengingatnya setelah banyak gagal, saya gagal lagi disini—menjadi orang ke delapan dari tujuh orang yang dipilih. Namun saya tidak berhenti, ibu bilang setiap orang memiliki waktu yang berbeda dalam mencapai sesuatu. Bisa langsung dapat, bisa juga harus menunggu dua-tiga bulan atau bahkan bertahun-tahun Satu yang tak boleh berhenti untuk dilakukan, berusaha. Lalu kemudian saya mulai bekerja bersama dosen saya untuk mengelola portal berita berbasis online dan sembari mengerjakan beberapa proyek survei. Saya tahu tidak semua orang akan langsung mendapatkan pekerjaan yang tepat dengan hati yang tepat juga. Tapi, bukankah guru paling berharga adalah pengalaman? Saya tau tidak akan ada hasil yang mengkhianati usaha, saya juga tahu kalau apa-apa yang saya lakukan semuanya tidak akan menjadi tak berarti. Saya mendapat banyak pengalaman dan juga kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang-orang hebat yang menginspirasi. Tapi sekali lagi, saya dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang mungkin menentukan masa depan saya. Saya kemudian memilih mundur dari pekerjaan saya sebelumnya dan lanjut bekerja di salah satu program pemerintah. Dalam program tersebut saya juga bertemu banyak orang-orang baik. Mereka mengajarkan banyak hal yang belum pernah saya alami, dan kemudian menambah list panjang daftar pengalaman hidup saya.
Saat masih berkuliah dulu, saya mengenal beberapa orang yang memiliki mimpi-mimpi besar. Mereka menuliskan mimpi-mimpinya dan menempelkannya ditembok kamar, sebagai pengingat kalau-kalau mereka mulai kalah dengan rasa jenuh dan malas. Salah satu mimpi yang paling banyak saya temukan di list mereka adalah: sekolah lagi di luar negeri. Sebagai mahasiswa yang berkuliah di daerah sendiri, membaca mimpi itu sedikit menimbulkan rasa pesismis dalam diri. Kalau boleh cerita, saya masuk dikampus yang baru seumur jagung yang dimana kehadirannya sangat menolong orang-orang seperti saya—yang dengan segala keterbatasan ingin lanjut menimba ilmu setinggi-tingginya. Saya hampir menunda masuk kuliah, niat hati ingin bekerja dulu untuk mengumpulkan dana agar bisa kuliah di luar dan tak memberatkan ibu yang selalu berjuang sendirian. Namun saya tertolong karena bisa masuk ke kampus baru tersebut dan melanjutkan kuliah, bahkan saya mendapat banyak kesempatan-kesempatan baik  sampai bisa menginjakkan kaki ke negeri tetangga untuk mendapatkan kelas kursus saat itu. Saya jadi teringat daftar mimpi teman-teman saya, mimpi bersekolah di luar negeri sepertinya bukan lagi menjadi mimpi yang mustahil untuk diwujudkan.
Setelah bekerja selama beberapa bulan di dalam program pemerintah, saya menemukan pengumuman di sosial media, Beasiswa LPDP afirmasi akan mulai dibuka. Saya kemudian bertanya pada ibu, apakah boleh saya memiliki keinginan untuk melanjtkan kuliah lagi dan ikut tes beasiswa ini. Ibu bilang, kalua saya mau, saya boleh coba. Mulai hari itu saya mulai belajar Bahasa inggris lebih giat, saat istirahat dari pekerjaan saya akan mulai membuka aplikasi belajar Toefl di smartphone saya, memasang headset dan mulai tenggelam dalam pelajaran yang ada. Beberapa teman bertanya untuk apa saya belajar Bahasa Inggris lagi, “bukankah pekerjaan kita hanya akan berputar dalam lingkar komunikasi dengan warga desa saja?”, begitu tanya mereka. Lalu saya bercerita tentang keinginan saya untuk mencari beasiswa. Beberapa mengaminkan, beberapa lagi menertawakan, dan beberapa lagi mulai meremehkan. Beberapa dari mereka mengatakan pada saya untuk tidak membuang waktu untuk ikut ini-itu, mereka bilang, sebagai perempuan di umur segini lebih baik saya cari gandengan. Hehe, giliran saya yang menertawakan. Saya tak lagi banyak menjelaskan. Satu yang saya harus pahami bahwa semangat saya tidak boleh berhenti hanya karena senggolan kecil yang tak berarti. Sertifikat Toefl sudah ditangan, nilai sudah lumayan untuk mendaftar afirmasi, selanjutnya adalah minta rekomendasi dari para petinggi. Saat itu saya pulang ke rumah dari daerah tempat saya bekerja dan kebetulan ada pertemuan alumni. Saat itu saya mendapat informasi dari seorang teman bahwa ada Beasiswa NTB yang dibuka dengan tujuan Malaysia. Saya diajak dan diyakini beberapa kali, saya pun ingin mencoba.  Saya mendaftar, ikut tes, dan akhirnya lulus sebagai Awardee beasiswa NTB.  Tidak, perjalanan sesungguhnya tidak se-instan dan se-simple itu. Ada banyak hal yang perlu dilakukan untuk berjalan lurus dan memenangkan apa yang sedang menjadi tujuan kita, ya dengan berusaha.
Berbagi tips ini dan itu mungkin sudah dan akan dilakukan oleh banyak teman-teman saya, namun saya ingin berbagi  satu hal yang mungkin luput dari segala proses yang saya alami sejauh ini, yaitu perihal tangan-tangan baik Tuhan. Tuhan mengirimkan saya Ibu, Adik, dan keluarga yang selalu mendoakan dan mendukung saya sepenuh hati. Sehingga setiap keputusan dan pilihan yang saya ambil adalah dari Ridho mereka. Saya juga diberikan tangan-tangan baik Tuhan yang lain, saya dipertemukan teman-teman hangat yang menyemangati saya untuk maju, menemukan teman-teman yang memotivasi saya untuk memberikan pembuktian bahwa tidak ada yang tidak mungkin atas izin-Nya. Hadirnya kampus hijau saya tercinta beserta para pengajar di dalamnya adalah bagian dari  tangan-tangan baik tuhan yang tidak bisa saya pungkiri  biasnya. Begitupun kesempatan-kesempatan yang dibukakan oleh keluarga LPP yang menaungi Beasiswa NTB, merupakan perpanjangan tangan Tuhan atas nikmat yang kini tengah saya rasakan. Perihal ini, rasanya syukur saja tidak cukup untuk melukiskan perasaan terhadap hadirnya orang-orang baik ini.  Jadi, apapun permasalahan yang mungkin sedang kita hadapi, atau mimpi apa yang ingin kita wujudkan, jangan pernah lupa bahwa Allah selalu bersama kita dan mengirimkan tangan-tangan terbaiknya untuk merangkul dan menguatkan kita. Sebagai wujud rasa syukur perihal tangan-tangan baik Tuhan, apa yang bisa kita lakukan? Hal jazā`ul-iḥsāni illal-iḥsān, tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula), (QS. Ar-Rahman [55]: 60).  Ini bukanlah akhir dari cerita, ini hanyalah awal dari cerita-cerita lain yang belum dapat dituliskan disini. Maka marilah terus berbuat baik dan mari menjadi sebaik-baiknya manusia—menjadi manusia yang bermanfaat.


 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS