Dalam
suatu hadist pernah dikatakan bahwa sebaik-baiknya
manusia adalah manusia yang bermanfaat. Menjadi pegangan, kalimat ini
membawa saya kepada banyak pilihan-pilihan penting yang harus saya pilih untuk
masa depan saya. Saya merasa bahwa setiap orang akan masuk dalam fase dimana
kita mempertanyakan apa yang telah kita lakukan sejauh ini, apa yang dapat kita
berikan kepada lingkungan kita, Ibu-Bapak kita, Saudara-Saudara kita, atau
bahkan kepada diri kita sendiri. Menilik balik satu persatu apa yang telah kita
lakukan di waktu lalu, dan kadang misuh-misuh kecil atas sesal karena tak
lakukan ini-itu saat masih mampu dan ada waktu. Terkadang saya punya rasa iri
yang tinggi pada orang-orang yang punya mimpi tinggi dan memiliki semangat yang
sama tingginya untuk mewujudkan hal tersebut. Saya bertanya-tanya mengapa
orangt-orang bisa memiliki mimpi, bagaimana mereka menemukan apa yang ingin
mereka lakukan, sementara disini… saya masih terbentur dengan warna abu-abu
atas keinginan yang tidak kunjung saya
temukan. Namun lambat laun saya tahu, mimpi saya adalah menjadi orang yang
bermanfaat—bagi saya dan juga bagi orang-orang di sekitar saya.
Setalah
melalui banyak hal yang melelahkan sebagai manusia yang mengalami fase-fase
untuk berubah menjadi dewasa, perjalanan saya tidaklah berbeda dari teman-teman
yang sebaya. Penuh semangat juga penuh keringat. Banyak rintangan, tapi banyak
juga diberi kemudahan. Pernah juga amat sangat berbahagia, juga pernah menangis
hingga berderai air mata. Lulus kuliah, saya mencoba berbagai peruntungan. Saya
mencoba ikut seleksi karyawan di kantor A,kantor B, bahkan ikut dalam tes CPNS.
Namun, yang namanya belum rejeki, setipis apapun selisih nilai, jika buka untuk
kita, maka tidaklah kita mendapatkannya. Agak sedih mengingatnya setelah banyak
gagal, saya gagal lagi disini—menjadi orang ke delapan dari tujuh orang yang
dipilih. Namun saya tidak berhenti, ibu bilang setiap orang memiliki waktu yang
berbeda dalam mencapai sesuatu. Bisa langsung dapat, bisa juga harus menunggu
dua-tiga bulan atau bahkan bertahun-tahun Satu yang tak boleh berhenti untuk
dilakukan, berusaha. Lalu kemudian saya mulai bekerja bersama dosen saya untuk
mengelola portal berita berbasis online dan sembari mengerjakan beberapa proyek
survei. Saya tahu tidak semua orang akan langsung mendapatkan pekerjaan yang
tepat dengan hati yang tepat juga. Tapi, bukankah guru paling berharga adalah
pengalaman? Saya tau tidak akan ada hasil yang mengkhianati usaha, saya juga
tahu kalau apa-apa yang saya lakukan semuanya tidak akan menjadi tak berarti.
Saya mendapat banyak pengalaman dan juga kesempatan untuk bertemu dengan banyak
orang-orang hebat yang menginspirasi. Tapi sekali lagi, saya dihadapkan dengan
pilihan-pilihan yang mungkin menentukan masa depan saya. Saya kemudian memilih
mundur dari pekerjaan saya sebelumnya dan lanjut bekerja di salah satu program
pemerintah. Dalam program tersebut saya juga bertemu banyak orang-orang baik.
Mereka mengajarkan banyak hal yang belum pernah saya alami, dan kemudian
menambah list panjang daftar pengalaman hidup saya.
Saat
masih berkuliah dulu, saya mengenal beberapa orang yang memiliki mimpi-mimpi
besar. Mereka menuliskan mimpi-mimpinya dan menempelkannya ditembok kamar,
sebagai pengingat kalau-kalau mereka mulai kalah dengan rasa jenuh dan malas.
Salah satu mimpi yang paling banyak saya temukan di list mereka adalah: sekolah lagi di luar negeri. Sebagai
mahasiswa yang berkuliah di daerah sendiri, membaca mimpi itu sedikit
menimbulkan rasa pesismis dalam diri. Kalau boleh cerita, saya masuk dikampus
yang baru seumur jagung yang dimana kehadirannya sangat menolong orang-orang
seperti saya—yang dengan segala keterbatasan ingin lanjut menimba ilmu setinggi-tingginya.
Saya hampir menunda masuk kuliah, niat hati ingin bekerja dulu untuk
mengumpulkan dana agar bisa kuliah di luar dan tak memberatkan ibu yang selalu
berjuang sendirian. Namun saya tertolong karena bisa masuk ke kampus baru
tersebut dan melanjutkan kuliah, bahkan saya mendapat banyak
kesempatan-kesempatan baik sampai bisa
menginjakkan kaki ke negeri tetangga untuk mendapatkan kelas kursus saat itu.
Saya jadi teringat daftar mimpi teman-teman saya, mimpi bersekolah di luar
negeri sepertinya bukan lagi menjadi mimpi yang mustahil untuk diwujudkan.
Setelah
bekerja selama beberapa bulan di dalam program pemerintah, saya menemukan
pengumuman di sosial media, Beasiswa LPDP afirmasi akan mulai dibuka. Saya
kemudian bertanya pada ibu, apakah boleh saya memiliki keinginan untuk
melanjtkan kuliah lagi dan ikut tes beasiswa ini. Ibu bilang, kalua saya mau,
saya boleh coba. Mulai hari itu saya mulai belajar Bahasa inggris lebih giat,
saat istirahat dari pekerjaan saya akan mulai membuka aplikasi belajar Toefl di
smartphone saya, memasang headset dan
mulai tenggelam dalam pelajaran yang ada. Beberapa teman bertanya untuk apa
saya belajar Bahasa Inggris lagi, “bukankah pekerjaan kita hanya akan berputar
dalam lingkar komunikasi dengan warga desa saja?”, begitu tanya mereka. Lalu
saya bercerita tentang keinginan saya untuk mencari beasiswa. Beberapa
mengaminkan, beberapa lagi menertawakan, dan beberapa lagi mulai meremehkan.
Beberapa dari mereka mengatakan pada saya untuk tidak membuang waktu untuk ikut
ini-itu, mereka bilang, sebagai perempuan di umur segini lebih baik saya cari
gandengan. Hehe, giliran saya yang menertawakan. Saya tak lagi banyak
menjelaskan. Satu yang saya harus pahami bahwa semangat saya tidak boleh
berhenti hanya karena senggolan kecil yang tak berarti. Sertifikat Toefl sudah
ditangan, nilai sudah lumayan untuk mendaftar afirmasi, selanjutnya adalah
minta rekomendasi dari para petinggi. Saat itu saya pulang ke rumah dari daerah
tempat saya bekerja dan kebetulan ada pertemuan alumni. Saat itu saya mendapat
informasi dari seorang teman bahwa ada Beasiswa NTB yang dibuka dengan tujuan
Malaysia. Saya diajak dan diyakini beberapa kali, saya pun ingin mencoba. Saya mendaftar, ikut tes, dan akhirnya lulus
sebagai Awardee beasiswa NTB. Tidak,
perjalanan sesungguhnya tidak se-instan dan se-simple itu. Ada banyak hal yang
perlu dilakukan untuk berjalan lurus dan memenangkan apa yang sedang menjadi
tujuan kita, ya dengan berusaha.
Berbagi
tips ini dan itu mungkin sudah dan akan dilakukan oleh banyak teman-teman saya,
namun saya ingin berbagi satu hal yang
mungkin luput dari segala proses yang saya alami sejauh ini, yaitu perihal
tangan-tangan baik Tuhan. Tuhan mengirimkan saya Ibu, Adik, dan keluarga yang
selalu mendoakan dan mendukung saya sepenuh hati. Sehingga setiap keputusan dan
pilihan yang saya ambil adalah dari Ridho mereka. Saya juga diberikan
tangan-tangan baik Tuhan yang lain, saya dipertemukan teman-teman hangat yang
menyemangati saya untuk maju, menemukan teman-teman yang memotivasi saya untuk
memberikan pembuktian bahwa tidak ada yang tidak mungkin atas izin-Nya.
Hadirnya kampus hijau saya tercinta beserta para pengajar di dalamnya adalah
bagian dari tangan-tangan baik tuhan
yang tidak bisa saya pungkiri biasnya.
Begitupun kesempatan-kesempatan yang dibukakan oleh keluarga LPP yang menaungi
Beasiswa NTB, merupakan perpanjangan tangan Tuhan atas nikmat yang kini tengah
saya rasakan. Perihal ini, rasanya syukur saja tidak cukup untuk melukiskan
perasaan terhadap hadirnya orang-orang baik ini. Jadi, apapun permasalahan yang mungkin sedang
kita hadapi, atau mimpi apa yang ingin kita wujudkan, jangan pernah lupa bahwa
Allah selalu bersama kita dan mengirimkan tangan-tangan terbaiknya untuk
merangkul dan menguatkan kita. Sebagai wujud rasa syukur perihal tangan-tangan
baik Tuhan, apa yang bisa kita lakukan? Hal
jazā`ul-iḥsāni illal-iḥsān, tidak ada balasan untuk kebaikan selain
kebaikan (pula), (QS. Ar-Rahman [55]: 60).
Ini bukanlah akhir dari cerita, ini hanyalah awal dari cerita-cerita
lain yang belum dapat dituliskan disini. Maka marilah terus berbuat baik dan
mari menjadi sebaik-baiknya manusia—menjadi manusia yang bermanfaat.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar