Perihal Tangan-Tangan Baik Tuhan

Kamis, 07 Mei 2020


Dalam suatu hadist pernah dikatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat. Menjadi pegangan, kalimat ini membawa saya kepada banyak pilihan-pilihan penting yang harus saya pilih untuk masa depan saya. Saya merasa bahwa setiap orang akan masuk dalam fase dimana kita mempertanyakan apa yang telah kita lakukan sejauh ini, apa yang dapat kita berikan kepada lingkungan kita, Ibu-Bapak kita, Saudara-Saudara kita, atau bahkan kepada diri kita sendiri. Menilik balik satu persatu apa yang telah kita lakukan di waktu lalu, dan kadang misuh-misuh kecil atas sesal karena tak lakukan ini-itu saat masih mampu dan ada waktu. Terkadang saya punya rasa iri yang tinggi pada orang-orang yang punya mimpi tinggi dan memiliki semangat yang sama tingginya untuk mewujudkan hal tersebut. Saya bertanya-tanya mengapa orangt-orang bisa memiliki mimpi, bagaimana mereka menemukan apa yang ingin mereka lakukan, sementara disini… saya masih terbentur dengan warna abu-abu atas keinginan yang  tidak kunjung saya temukan. Namun lambat laun saya tahu, mimpi saya adalah menjadi orang yang bermanfaat—bagi saya dan juga bagi orang-orang di sekitar saya.
Setalah melalui banyak hal yang melelahkan sebagai manusia yang mengalami fase-fase untuk berubah menjadi dewasa, perjalanan saya tidaklah berbeda dari teman-teman yang sebaya. Penuh semangat juga penuh keringat. Banyak rintangan, tapi banyak juga diberi kemudahan. Pernah juga amat sangat berbahagia, juga pernah menangis hingga berderai air mata. Lulus kuliah, saya mencoba berbagai peruntungan. Saya mencoba ikut seleksi karyawan di kantor A,kantor B, bahkan ikut dalam tes CPNS. Namun, yang namanya belum rejeki, setipis apapun selisih nilai, jika buka untuk kita, maka tidaklah kita mendapatkannya. Agak sedih mengingatnya setelah banyak gagal, saya gagal lagi disini—menjadi orang ke delapan dari tujuh orang yang dipilih. Namun saya tidak berhenti, ibu bilang setiap orang memiliki waktu yang berbeda dalam mencapai sesuatu. Bisa langsung dapat, bisa juga harus menunggu dua-tiga bulan atau bahkan bertahun-tahun Satu yang tak boleh berhenti untuk dilakukan, berusaha. Lalu kemudian saya mulai bekerja bersama dosen saya untuk mengelola portal berita berbasis online dan sembari mengerjakan beberapa proyek survei. Saya tahu tidak semua orang akan langsung mendapatkan pekerjaan yang tepat dengan hati yang tepat juga. Tapi, bukankah guru paling berharga adalah pengalaman? Saya tau tidak akan ada hasil yang mengkhianati usaha, saya juga tahu kalau apa-apa yang saya lakukan semuanya tidak akan menjadi tak berarti. Saya mendapat banyak pengalaman dan juga kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang-orang hebat yang menginspirasi. Tapi sekali lagi, saya dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang mungkin menentukan masa depan saya. Saya kemudian memilih mundur dari pekerjaan saya sebelumnya dan lanjut bekerja di salah satu program pemerintah. Dalam program tersebut saya juga bertemu banyak orang-orang baik. Mereka mengajarkan banyak hal yang belum pernah saya alami, dan kemudian menambah list panjang daftar pengalaman hidup saya.
Saat masih berkuliah dulu, saya mengenal beberapa orang yang memiliki mimpi-mimpi besar. Mereka menuliskan mimpi-mimpinya dan menempelkannya ditembok kamar, sebagai pengingat kalau-kalau mereka mulai kalah dengan rasa jenuh dan malas. Salah satu mimpi yang paling banyak saya temukan di list mereka adalah: sekolah lagi di luar negeri. Sebagai mahasiswa yang berkuliah di daerah sendiri, membaca mimpi itu sedikit menimbulkan rasa pesismis dalam diri. Kalau boleh cerita, saya masuk dikampus yang baru seumur jagung yang dimana kehadirannya sangat menolong orang-orang seperti saya—yang dengan segala keterbatasan ingin lanjut menimba ilmu setinggi-tingginya. Saya hampir menunda masuk kuliah, niat hati ingin bekerja dulu untuk mengumpulkan dana agar bisa kuliah di luar dan tak memberatkan ibu yang selalu berjuang sendirian. Namun saya tertolong karena bisa masuk ke kampus baru tersebut dan melanjutkan kuliah, bahkan saya mendapat banyak kesempatan-kesempatan baik  sampai bisa menginjakkan kaki ke negeri tetangga untuk mendapatkan kelas kursus saat itu. Saya jadi teringat daftar mimpi teman-teman saya, mimpi bersekolah di luar negeri sepertinya bukan lagi menjadi mimpi yang mustahil untuk diwujudkan.
Setelah bekerja selama beberapa bulan di dalam program pemerintah, saya menemukan pengumuman di sosial media, Beasiswa LPDP afirmasi akan mulai dibuka. Saya kemudian bertanya pada ibu, apakah boleh saya memiliki keinginan untuk melanjtkan kuliah lagi dan ikut tes beasiswa ini. Ibu bilang, kalua saya mau, saya boleh coba. Mulai hari itu saya mulai belajar Bahasa inggris lebih giat, saat istirahat dari pekerjaan saya akan mulai membuka aplikasi belajar Toefl di smartphone saya, memasang headset dan mulai tenggelam dalam pelajaran yang ada. Beberapa teman bertanya untuk apa saya belajar Bahasa Inggris lagi, “bukankah pekerjaan kita hanya akan berputar dalam lingkar komunikasi dengan warga desa saja?”, begitu tanya mereka. Lalu saya bercerita tentang keinginan saya untuk mencari beasiswa. Beberapa mengaminkan, beberapa lagi menertawakan, dan beberapa lagi mulai meremehkan. Beberapa dari mereka mengatakan pada saya untuk tidak membuang waktu untuk ikut ini-itu, mereka bilang, sebagai perempuan di umur segini lebih baik saya cari gandengan. Hehe, giliran saya yang menertawakan. Saya tak lagi banyak menjelaskan. Satu yang saya harus pahami bahwa semangat saya tidak boleh berhenti hanya karena senggolan kecil yang tak berarti. Sertifikat Toefl sudah ditangan, nilai sudah lumayan untuk mendaftar afirmasi, selanjutnya adalah minta rekomendasi dari para petinggi. Saat itu saya pulang ke rumah dari daerah tempat saya bekerja dan kebetulan ada pertemuan alumni. Saat itu saya mendapat informasi dari seorang teman bahwa ada Beasiswa NTB yang dibuka dengan tujuan Malaysia. Saya diajak dan diyakini beberapa kali, saya pun ingin mencoba.  Saya mendaftar, ikut tes, dan akhirnya lulus sebagai Awardee beasiswa NTB.  Tidak, perjalanan sesungguhnya tidak se-instan dan se-simple itu. Ada banyak hal yang perlu dilakukan untuk berjalan lurus dan memenangkan apa yang sedang menjadi tujuan kita, ya dengan berusaha.
Berbagi tips ini dan itu mungkin sudah dan akan dilakukan oleh banyak teman-teman saya, namun saya ingin berbagi  satu hal yang mungkin luput dari segala proses yang saya alami sejauh ini, yaitu perihal tangan-tangan baik Tuhan. Tuhan mengirimkan saya Ibu, Adik, dan keluarga yang selalu mendoakan dan mendukung saya sepenuh hati. Sehingga setiap keputusan dan pilihan yang saya ambil adalah dari Ridho mereka. Saya juga diberikan tangan-tangan baik Tuhan yang lain, saya dipertemukan teman-teman hangat yang menyemangati saya untuk maju, menemukan teman-teman yang memotivasi saya untuk memberikan pembuktian bahwa tidak ada yang tidak mungkin atas izin-Nya. Hadirnya kampus hijau saya tercinta beserta para pengajar di dalamnya adalah bagian dari  tangan-tangan baik tuhan yang tidak bisa saya pungkiri  biasnya. Begitupun kesempatan-kesempatan yang dibukakan oleh keluarga LPP yang menaungi Beasiswa NTB, merupakan perpanjangan tangan Tuhan atas nikmat yang kini tengah saya rasakan. Perihal ini, rasanya syukur saja tidak cukup untuk melukiskan perasaan terhadap hadirnya orang-orang baik ini.  Jadi, apapun permasalahan yang mungkin sedang kita hadapi, atau mimpi apa yang ingin kita wujudkan, jangan pernah lupa bahwa Allah selalu bersama kita dan mengirimkan tangan-tangan terbaiknya untuk merangkul dan menguatkan kita. Sebagai wujud rasa syukur perihal tangan-tangan baik Tuhan, apa yang bisa kita lakukan? Hal jazā`ul-iḥsāni illal-iḥsān, tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula), (QS. Ar-Rahman [55]: 60).  Ini bukanlah akhir dari cerita, ini hanyalah awal dari cerita-cerita lain yang belum dapat dituliskan disini. Maka marilah terus berbuat baik dan mari menjadi sebaik-baiknya manusia—menjadi manusia yang bermanfaat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS