Seperti biasa, saat jam-jam ngantor (baca:pkL) kaya gini
aku gak pernah lepas dari Laptop kesayanganku. Aku sedang chating dengan
seorang teman lama, teman smpku dulu. Iyah, dia laki-laki berkacamata yang
mungkin masih sama seperti dulu, yang selalu ingin terlihat gila, menyukai
puisi, sering menulis, dan masih menyayangi seorang perempuan bernama ara. Dan yang
tak ku sangka, sampai sekarang rasa itu bertahan dan tetap ada, katanya. Percakapan
singkat kami di jejaring sosial :
Aku : sering aku mikir gitu. orang bertahan ini hebat
atau idiot. satu sih alasannya sebenarnya. ya karena sayang. sederhana tapi
rumit
Dia : hahha,hanya sedikit orang-orang yang mikir kayak
gitu. Sebagian lainnya mungkin,anggap ini hal bodoh,walaupun karena sayang,tak
semua alasan bisa ditermia orang lain
Aku : kalo kamu di sudut pandang orang yang memiliki
perasaan lebih, mungkin kamu juga bingung kamu itu tolol atau hebat. tapi saat
posisi mu di sudut yang tidak bisa menerima hati, kamu mungkin berfikir itu
benar bodoh, tolol, idiot. bagaimana mungkin kamu masih bertahan ketika yang
kamu sayangi sama sekali tidak memperdulikan mu ? menyakiti diri sendiri,
pembodohan diri.
Dia : haha,mungkin karena aku gak pernah jadi orang lain
dan orang lain gak pernah jadi aku. Hingga sudut pandang orang selalu terbentuk
secara semena-mena.
Sebenarnya ada hal yang tidak dimengerti sebagian orang tentang bagaimana bertahan dan menunggu,seperti menuggu kado yang akan datang dan menuggu orang tua yang pulang kerja. Sebenarnya menyenangkan,bukan?
Sebenarnya ada hal yang tidak dimengerti sebagian orang tentang bagaimana bertahan dan menunggu,seperti menuggu kado yang akan datang dan menuggu orang tua yang pulang kerja. Sebenarnya menyenangkan,bukan?
Aku : seperti katamu. tidak semua orang merasa itu
menyenangkan. kembali ke teori pembodohan tadi, apa yang menyenangkan dari
segala keacuhan yang kau dapatkan ? menunggu ? apa yakin bahagia itu untukmu ?
tapi seperti katamu juga, aku merasa itu menyenangkan, menyayangi dalam diam.
menunggu ketidak pastian. ada rasa yang berbeda. kau jadi tahu arti berjuang
sesungguhnya.
Dia : iya-iya. intinya semua orang mempunyai pemahamannya
masing-masing,mungkin. Atau bahkan tak memahami tentang masalh hati sama
sekali. Entah kenapa hingga sekarang aku masih menyayanginya,bahkan bahkan
sampai saat ini,aku pun tak memahaminya.
Aku : itulah perasaan dhy, sapa yang bisa mengaturnya ?
setiap orang berbeda. ada yang lebih memilih diam dalam selimut hangat di kamar
yang pengap, ada yg memilih diam memperhatikan indahnya laut malam hari meski
mereka tahu hanya gigil yang mereka rasakan. kau termasuk yang mana ?
Dia : Mungkin,aku lebih sering jadi yang pertama. Tapi
jadi yang kedua bukan tak mungkin aku lakukan
Aku : apapun itu, waktumu akan terus berjalan. meski yang
kau tunggu tak pernah jadi kenyataan, setidaknya kau pernah menikmati kesakitan
yang kau buat sendiri. setidaknya dia tetap jadi bagian penting di sela hatimu.
mungkin kenangan namanya, dan pastinya di sertai rindu nanti-nanti. jalani saja
, ikuti saja langkah kaki. semoga hati mau mengerti .
Dia : Nice,semoga saja. Aku harap pun begitu. Semoga hati
mengerti dan dia sadar bahwa aku lebih mencintai.
Tapi aku tak membalas chatnya yang terakhir. Aku me
log-out akun ku. Menutup laptopku. Sudah jam 4, bel kantor sudah berbunyi. Ini waktunya
pulang, karena bel di perutku tak kalah kencang dengan bel yang barusan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar