Percakapan dengan Teman Lama, yang Masih Setia Menunggu Perempuannya

Selasa, 05 Februari 2013


Seperti biasa, saat jam-jam ngantor (baca:pkL) kaya gini aku gak pernah lepas dari Laptop kesayanganku. Aku sedang chating dengan seorang teman lama, teman smpku dulu. Iyah, dia laki-laki berkacamata yang mungkin masih sama seperti dulu, yang selalu ingin terlihat gila, menyukai puisi, sering menulis, dan masih menyayangi seorang perempuan bernama ara. Dan yang tak ku sangka, sampai sekarang rasa itu bertahan dan tetap ada, katanya. Percakapan singkat kami di jejaring sosial :

Aku : sering aku mikir gitu. orang bertahan ini hebat atau idiot. satu sih alasannya sebenarnya. ya karena sayang. sederhana tapi rumit

Dia : hahha,hanya sedikit orang-orang yang mikir kayak gitu. Sebagian lainnya mungkin,anggap ini hal bodoh,walaupun karena sayang,tak semua alasan bisa ditermia orang lain

Aku : kalo kamu di sudut pandang orang yang memiliki perasaan lebih, mungkin kamu juga bingung kamu itu tolol atau hebat. tapi saat posisi mu di sudut yang tidak bisa menerima hati, kamu mungkin berfikir itu benar bodoh, tolol, idiot. bagaimana mungkin kamu masih bertahan ketika yang kamu sayangi sama sekali tidak memperdulikan mu ? menyakiti diri sendiri, pembodohan diri.

Dia : haha,mungkin karena aku gak pernah jadi orang lain dan orang lain gak pernah jadi aku. Hingga sudut pandang orang selalu terbentuk secara semena-mena.
Sebenarnya ada hal yang tidak dimengerti sebagian orang tentang bagaimana bertahan dan menunggu,seperti menuggu kado yang akan datang dan menuggu orang tua yang pulang kerja. Sebenarnya menyenangkan,bukan?

Aku : seperti katamu. tidak semua orang merasa itu menyenangkan. kembali ke teori pembodohan tadi, apa yang menyenangkan dari segala keacuhan yang kau dapatkan ? menunggu ? apa yakin bahagia itu untukmu ? tapi seperti katamu juga, aku merasa itu menyenangkan, menyayangi dalam diam. menunggu ketidak pastian. ada rasa yang berbeda. kau jadi tahu arti berjuang sesungguhnya.

Dia : iya-iya. intinya semua orang mempunyai pemahamannya masing-masing,mungkin. Atau bahkan tak memahami tentang masalh hati sama sekali. Entah kenapa hingga sekarang aku masih menyayanginya,bahkan bahkan sampai saat ini,aku pun tak memahaminya.

Aku : itulah perasaan dhy, sapa yang bisa mengaturnya ? setiap orang berbeda. ada yang lebih memilih diam dalam selimut hangat di kamar yang pengap, ada yg memilih diam memperhatikan indahnya laut malam hari meski mereka tahu hanya gigil yang mereka rasakan. kau termasuk yang mana ?

Dia : Mungkin,aku lebih sering jadi yang pertama. Tapi jadi yang kedua bukan tak mungkin aku lakukan

Aku : apapun itu, waktumu akan terus berjalan. meski yang kau tunggu tak pernah jadi kenyataan, setidaknya kau pernah menikmati kesakitan yang kau buat sendiri. setidaknya dia tetap jadi bagian penting di sela hatimu. mungkin kenangan namanya, dan pastinya di sertai rindu nanti-nanti. jalani saja , ikuti saja langkah kaki. semoga hati mau mengerti .

Dia : Nice,semoga saja. Aku harap pun begitu. Semoga hati mengerti dan dia sadar bahwa aku lebih mencintai.

Tapi aku tak membalas chatnya yang terakhir. Aku me log-out akun ku. Menutup laptopku. Sudah jam 4, bel kantor sudah berbunyi. Ini waktunya pulang, karena bel di perutku tak kalah kencang dengan bel yang barusan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS