***
Dia memang begitu. entah mantra apa yang Mama kasih ke dia. Dia kadang jadi secerewet Mama, kadang dia jadi diam seperti diamnya Bapak. Kadang dia menyebalkan seperti Rania,adikku. Entahlah, dia ini pelengkap hidupku. Aku membutuhkannya seperti setengah diriku mencintai setengah diriku yang lain. Dia istimewa. Dia berbeda. Dan aku selalu jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama, Dia. Langitku tercinta.
Tok Tok Tok. Suara pintu kosku yang diketuk seseorang. Kami sedang main PS berdua, dia pemem-pause-kan permainan kami dan membuka pintu. Yang datang ternyata Rere, dia membawa surat laboratorium hasil rontgenku kemarin. Matanya sembab, kulihat dia berbicara serius dengan Langit. Pasti soal Zevan,pacar Rere. Akhir-akhir ini Rere sering mengetwiit seakan-akan dia akan ditinggal pergi. Pasti Zevan berubah deh. Zevan teman dekatnya Langit, makanya Rere sering bercerita tentang Zevan kepada aku dan Langit. tapi untuk kali ini Rere tidak bercerita kepadaku, mungkin karena ia tahu aku sedang sakit kepala. Aku lihat dia mulai menangis terisak,dia tak dapat membendung air matanya, dia tidak dapat menahan isak tangisnya. Aku lihat Langit diam saja, Tatapannya kosong, tapi ia seperti menahan marah, kulihat tangannya mengepal dan bergetar seperti geram. Ada apa ini fikirku. Tak lama kemudian Rere pamit pulang, Dia memelukku erat dan menangis tertahan di pundakku. Tapi ia tidak mengtakan sepatah katapun kepadaku. Ah. aku ikut geram. apa yang Zevn lakukan hingga menjatuhkan air mata Rere yang seharusnya paling ceria diantara kami?
Setelah Rere pulang, Langit menghampiriku yang sedang dudu menghadap Tv. "Lanjut mainnya Ngi'? atau udahan aja?" tanyaku padanya. "Kita istirahat aja yah sayang?" jawabnya. Ia pun tidur dikasur depan tv. aku ikut tidur disebelahnya, aku memeluknya erat, mendekapkan diri padanya. Aku juga ingin tidur. Ingin istirahat. Kami sudah seperti kakak-beradik, hanya saja Cinta yang kami punya berbeda. "Pelangi, aku sayang kamu", gumamnya.
***



Tidak ada komentar:
Posting Komentar