Pelangi di Hati Langit Part 1

Senin, 09 September 2013

"Kamu kenapa?", tanyanya sembari berusaha memelukku yang sedang terduduk dipojokan kos dekat pintu. "Kamu kenapa nangis? Sakit lagi? Kita ke dokter aja yah?", tanyanya dengan nada khawatir. Seperti biasa, dia memang pengertian. Dialah yang selalu ada untukku selama hampir tujuh bulan kami duduk di bangku kuliah kami. Dia mengambil salah satu jurusan di Fakultas Ekonomi sedangkan aku di Fakultas Teknik Informatika di kota seberang yang tidak terlalu jauh dari kota kami. Dia Kekasihku sejak kelas 3 Sma, Hampir sisa masa Sma kami habiskan untuk menjalin hubungan jarak jauh dan akhirnya kami melanjutkan kuliah di kota dan di universitas yang sama. Kos kami sangat dekat, kami hanya perlu berjalan kaki untuk saling menemui. Dan saat pagi ini dia datang menjemputku,dia melihatku terduduk dipojokan. Aku menangis, terisak. Semakin lama aku semakin merasa sakit di kepalaku semakin hebat. Dia terlihat sangat khawatir, dia memelukku begitu erat, membenamkan kepalaku didadanya, seakan dia ingin merasakan apa yang aku rasakan. Aku menangis cukup lama hingga aku mulai terlelap di dekapannya.  aku sayang dia.

***

"iyah, titip absen yah Re, Pelangi kambuh lagi nih. Iyah,makasih ya, assalamualaikum.". Samar-samar ku dengar suara kekasihku sedang menutup pembicaraan di telfon. Ah, pasti Langit menelfon Rere. Iyah, namanya Langit. Kekasihku yang berkumis tipis dan menyebalkan itu bernama Langit. Mungkin orang tuanya mennggntung harapan agar anak laki-laki satu-satunya yang merka punya ini bisa seperti Langit. Menjulang setinggi-tingginya, seluas-luasnya. "Ngi'?" panggilku. Diapun menoleh dan segera menghampiriku. "iya sayang. Gimana kepalanya? masih sakit?" tanyanya sembari mengelus rambutku. Dia memang laki-laki lembut. Aku selalu merasa nyaman berada disampingnya. "nggak kok ngi'. Kamu gak kuliah? ". Dia langsung mendelik kearahku, "kuliah? terus ngebiarin kamu sendiri? sakit kayak gini? jangan aneh-anehlah sayang. jangan bertanya hal yang harusnya sudah kamu tahu jawabannya" sahutnya. Aku hanya tersenyum, dulu dia memang berjanji, dia akan melindungiku jika memang kami berkuliah di satu tempat. "Kami itu susah sekali dibilangin ! Jangan makan mie kan aku bilang. kalo kamu malas masak, biar aku yang pergi beli makanan buat kamu. jangan makan kayak gini-gini. Dasar! Gak pernah sayang sama diri sendiri", omelnya penuh perhatian.

Dia memang begitu. entah mantra apa yang Mama kasih ke dia. Dia kadang jadi secerewet Mama, kadang dia jadi diam seperti diamnya Bapak. Kadang dia menyebalkan seperti Rania,adikku. Entahlah, dia ini pelengkap hidupku. Aku membutuhkannya seperti setengah diriku mencintai setengah diriku yang lain. Dia istimewa. Dia berbeda. Dan aku selalu jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama, Dia. Langitku tercinta.

Tok Tok Tok. Suara pintu kosku yang diketuk seseorang. Kami sedang main PS berdua, dia pemem-pause-kan permainan kami dan membuka pintu. Yang datang  ternyata Rere, dia membawa surat laboratorium hasil rontgenku kemarin.  Matanya sembab, kulihat dia berbicara serius dengan Langit. Pasti soal Zevan,pacar Rere. Akhir-akhir ini Rere sering mengetwiit seakan-akan dia akan ditinggal pergi. Pasti Zevan berubah deh. Zevan teman dekatnya Langit, makanya Rere sering bercerita tentang Zevan kepada aku dan Langit. tapi untuk kali ini Rere tidak bercerita kepadaku, mungkin karena ia tahu aku sedang sakit kepala. Aku lihat dia mulai menangis terisak,dia tak dapat membendung air matanya, dia tidak dapat menahan isak tangisnya. Aku lihat Langit diam saja, Tatapannya kosong, tapi ia seperti menahan marah, kulihat tangannya mengepal dan bergetar seperti geram. Ada apa ini fikirku. Tak lama kemudian Rere pamit pulang, Dia memelukku erat dan menangis tertahan di pundakku. Tapi ia tidak mengtakan sepatah katapun kepadaku. Ah. aku ikut geram. apa yang Zevn lakukan hingga menjatuhkan air mata Rere yang seharusnya paling ceria diantara kami?

Setelah Rere pulang, Langit menghampiriku yang sedang dudu menghadap Tv. "Lanjut mainnya Ngi'? atau udahan aja?" tanyaku padanya. "Kita istirahat aja yah sayang?" jawabnya. Ia pun tidur dikasur depan tv. aku ikut tidur disebelahnya, aku memeluknya erat, mendekapkan diri padanya. Aku juga ingin tidur. Ingin istirahat. Kami sudah seperti kakak-beradik, hanya saja Cinta yang kami punya berbeda. "Pelangi, aku sayang kamu", gumamnya.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS