Kepada Ibu Bapak yang di Hatinya Ada Surga

Jumat, 29 November 2013


Teruntuk dua pasang mata, saksi atas tumbuhnya aku hingga mendewasa.
Teruntuk dua pasang lengan, penyangga saat aku kehilangan arah.
Teruntuk dua pasang kaki, penopang sendi saat jejak tak dapat berpijak. Teruntuk dua kepala, teladan saat aku tak tahu harus berbuat apa.
Kepada ibu dan bapak yang di hatinya ada surga.

Aku ingin bercerita betapa luka mengarungi hidup dalam sepi dan tiada
Tentang kegetiran melanda saat merasa lapar di tengah malam
Tentang beku tubuh saat hujan mendekap dengan dingin paling gigil
Tentang dahaga kerongkongan saat mentari menyengat dan membakar
Tentang pening yang mengetuk kepala pelan-pelan saat datang ujian demi ujian
Tentang sarapan telur mata sapi buatanmu yang tak lagi kutemui
Tentang ketiadaan genggam tangan menarik selimut untuk menghangatkan
Tentang ketiadaan teh hangat yang kau bubuhi dua sendok gula
Tentang ketiadaan senyummu saat berkata, “Nak, Engkau pasti bisa.”

Tapi bagi cinta
Segala nestapa hanya cara
Menyuruhku berbenah untuk selalu tabah
Untuk setiap bulir peluh yang jatuh
Untuk setiap rinai air mata berderai di kedua pelupuk matamu
Untuk setiap beban berat yang kau tanggung di balik punggung
Untuk setiap langkah kaki yang goyah menapak tilasi segala daya dan upaya
Untuk setiap belai manja jemarimu yang kau usap di setiap helai anak rambutku
Untuk setiap nyala semangat yang kau percik di dalam dadaku
Untuk setiap keteguhan yang kau ajarkan perlahan
Untuk setiap ketegasan yang terukir dari urat menyembul di lenganmu
Untuk setiap kesabaran yang kau tunjukkan
Untuk setiap syukur yang meninggi meski hidupmu kian lamur
Untuk setiap tangis doa yang sesenggukan di setiap malam
Untuk setiap gelak gemetar bibirmu saat berkata, “Maaf nak, sabarlah dahulu. Minggu depan uang saku akan segera kami kirimkan. Kau pinjam dulu dengan sahabatmu, nanti akan segera kami ganti. Kami sedang berusaha di rumah.”
Untuk setiap hal yang kau lakukan untuk memperjuangkan aku.
Percayalah,
Aku; anakmu
Mencintaimu dengan sungguh

Maka
Kupersembahkan untukmu;
Sebuah toga
Dari jerih dan air mata
Bukan untuk apa-apa
Selain ingin membuatmu bahagia
Saat kau berteriak bangga
Kepada siapa saja
“Perkenalkan, ini anak saya.”

Galih Hidayatullah
Depok, 22 November 2013
___________________
Puisi ini ditulis dan dibacakan untuk Wisuda 8 STEI SEBI.
Source : http://mas-aih.blogspot.ca/2013/11/kepada-ibu-bapak-yang-di-hatinya-ada_22.html

Pelangi di Hati Langit Part 6

Senin, 18 November 2013

   "Duh, Pelangi mana yah. janjinya mau sms kalo udah pulang. Hampir magrib gini kok smsnya gak masuk juga, mana nomornya gak aktif", erang Langit sambil berulang kali menelfon Pelangi. Hari sudah semakin gelap, hujan yang tadinya hanya gerimis sekarang sudah mulai terasa deras. Langit baru saja sampai di apotik, dia ingin membeli obat Pelangi yang stoknya hampir habis. Saat hendak keluar dari apotik, Langit menabrak seseorang, plastik obat yang Langit bawa jatuh tercecer di lantai. Wanita yang ditabrak Langit langsung membantu Langit mengambil obat-obat itu. "eh, Mbak Jingga? ", sapa Langit dengan muka kaget. "eh,iyah. Ini.. obat kamu? " tanya Jingga dengan raut muka takut. "iyah mbak, ada apa?" jawab Langit sembari mengulurkan tangn kepada Jingga yang masih terduduk di lantai. aneh,pikir Langit. Kenapa Jingga terlihat begitu terkejut? . "eh,hemm.. gapapa. kamu Langit kan?" tanya Jingga. "iyah Mbak,saya Langit. mbak Jingga asdos yag masuk kelas tadi kan?" senyum Langit. "Iyah.. Hehe.. Hujannya masih deras ya, kamu mau langsung pulang?" tanya Jingga. "enggak mbak, kayaknya berteduh disini dulu. Lagian kalo maksain jalan malah gak bisa liat apa yang ada didepan mata lagi.." canda Langit. "iyah yah. kalo gitu dudu disini dulu yuk. oyah, gak usah panggil Mbak, Jingga aja. Kita sama besar kok.",senyum Jingga kepada Langit. Mereka pun duduk di bangku yang tersedia di apotik tersebut. "Itu obat kamu Langit?" tanya Jingga. "eh, kenapa Ingga? ini punya pacar saya. Saya cuma beliin",jawab Langit. Raut muka Jingga terlihat tak tentu, dia sedang berpikir keras. "Pacar kamu, punya kanker?" tanya Jingga. "Iyah. Kanker Jaringan lunak. Tapi belum parah kok" Langit tersenyum pahit menjawab pertanyaan dari Jingga. "Udah berapa lama? Udah kemo? " tanya Jingga. "eh,maaf. aku banyak tanya yah?". "gapapa Ingga. Berapa lamanya aku gak tau, aku juga belum sebulan tau dia ngidap ini. Dan dia gak mau kemo. Dia bilang dia gak mau rambutnya rontok. hehe " jawab Langit. "pacarku dulu juga ngidap kanker. kanker jaringan lunak juga.". "hah? serius? terus sekarang dia dimana Ingga?" tanya Langit. "Dia meninggal 2 bulan lalu. " sahut Jingga lesu. "Maaf.saya gak tau.. saya turut berduka.." . "Gapapa Langit. Oh iyah, pacar kamu sekarang dimana?" JLEB. Raut muka Langit langsung berubah. Dia segera mencari-cari telpon genggamnya. dia lalu menelfon Pelangi. "Hpnya gak aktif. Aduh,mana hujan lagi." sungut Langit. "oh ya Langit, boleh minta nomor hp kamu?" minta Jingga. "boleh, ini.." "okey, makasih. Aku duluan yah Langit,aku bawa mobil. Kamu mau ikut?" tawar Jingga. "Gak usah Ngga,saya bawa motor kok" tolak Langit halus. "iyadeh kalo gitu. Bye". Pikiran Langit kembali pada kekhawatirannya terhadap Pelangi yang sedang tanpa kabar.

***

Ingatan Pelangi kembali kepada dua tahun lalu, tepatnya saat Pelangi liburan kenaikan kelas. Saat itu Pelangi naik ke kelas 3, dan sedang mengikuti perlombaan. Saat itu Pelangi tak mengenalnya. Yang Pelangi tahu hanya namanya, dan juga muka dinginnya. Begitu juga alis tebalnya dan juga hidungnya. Wajah tanpa senyum yang membuat Pelangi jatuh cinta. . . . Mulanya, Pelangi hanya melihatnya dari atas bus. Laki-laki dengan seragam putih abu-abu dan  almamater yang juga berwarna abu-abu itu sedang mengantri untuk menaiki bus yang akan membawa kami ke tempat tujuan kami untuk mempersentasikan karya tulis kami. Sekilas ia terlihat seperti seseorang yang Pelangi kenal.

Langit. Dia mirip Langit. Alis tebalnya, dan hidung mancungnya. Pelangi sadar itu setelah menatapnya lekat-lekat , meski dari jauh. Saat dia maju untuk memulai persentasi, mata Pelangi tak lepas dari sosoknya. Dia menjelaskan dengan detail, rinci, atau apapun sebutannya. Dia terlihat sangat mengerti dengan apa yang sedang ia jelaskan. Calon juara, batin Pelangi. Dan setelah lama memandangnya, ternyata dia tidak sama dengan Langit.  Tak seramah Langit, tak sehangat senyuman yang dimiliki Langit. 
Hari itu sudah mulai menjelang sore. Masih ada beberapa kelompok yang belum maju. Kami makan siang disana. Akan tetapi, dua anggota kelompok Pelangi sudah balik ke tenda terlebih dahulu. Ada yang akan mengikutii lomba lain, dan yang seorang lagi sudah balik karena pingsan. Yang tersisa hanya Pelangi dan kedua adik kelas Pelangi. Jenuh sekali berada diruangan itu, Pelangipun keluar untuk menghirup udara segar.  Dan Pelangi melihatnya lagi,laki-laki itu. Pelangi tak tahu namanya,belum tahu tepatnya. Dia sedang duduk di depan bersama seorang temannya, yang juga tak Pelangi tahu namanya. Pelangi lekas berbalik kembali ke ruangan lomba. Hingga tiba saatnya kami pulang, bus yang kami tunggu tak kunjung datang. Supirnya tidak bisa dihubungi. Alhasil, kami kembali ke tenda menaiki mobil pick-up.  Disana, di atas mobil itu, dia duduk tepat di depan Pelangi. Menutupi mukanya dengan kedua tangannya. Pelangi mulai suka melihatnya, menatapnya dalam-dalam, walaupun dari jauh. Pelangi mulai suka memperhatikannya dengan detail. Raut wajahnya, senyum datarnya. Semua itu terekam dengan baik di ingatan Pelangi. Waktu itu dia memakai baju lengan panjang berwarna hitam dengan garis-garis hijau. Pelangi baru selesai mandi di kamar mandi masjid. MatPelangi terpPelangi pada seseorang yang sedang berdiri menghadap kiblat, laki-laki yang sedang shalat itu. Laki-laki yang tak Pelangi tahu namanya itu. Dan disini, di dada ini, ada degup-degup aneh yang dulu pernah Pelangi rasakan. Falling in Love at first sight? Mungkin, bisa jadi.  Dan laki-laki itu sekarang berada tepat di hadapan Pelangi.

***

Pelangi di Hati Langit Part 5

Jumat, 08 November 2013

"Langit,kita dimana?" tanyaku. Tanganku basah, mata Langit juga terlihat basah. Matanya sembap. sekhawatir itukah Langit?  ah. dimana Kak Izzi.  Hatiku kalut. Apa Langit sudah mengetahuinya? mengetahui bahwa aku menyembunyikan penyakit ini? Aku takut Tuhan. Aku takut Langit terbebani dan justru mengasihaniku. aku takut dia terikat denganku karena penyakit yang ku derita, bukan karena menyayangiku dengan ketulusan. aku takut.

"Sudahlah Pelangi. Harusnya gak ada yang kamu sembunyiin dari aku. gimana aku mau jaga kamu, kalo kamunya gakmau aku jaga." seru Langit sedikit sesenggukan. "Harusnya kamu sadar, harusnya kamu ngeh. aku disini buat kamu Angi, buat kamu. kalo aja kamu bilang, kamu ceritakan ini lebih dulu, aku ga bakal biarin kamu ikut aku kesini, aku ga bakal bikin kamu capek." ucap Langit memandangku. "kamu harus sembuh Angi, harus sembuh yah.janji yah" pintanya dengan memelas. Aku hanya tersenyum. bibirku tak mampu berucap. aku lelah, aku mau tidur,aku mau isitirahat. akupun memejamkan mata, dengan tangan Langit yg mengelusngelus rambutku.

***

Dua minggu stelah Pelangi keluar dari rumah sakit, dia memulai aktivitasnya seperti biasa. Pelangi juga sudah mulai rutin meminum obat penghilang rasa sakitnya. Pelangi tidak minum terlalu banyak obat, karena akan berpengaruh pada jantung Pelangi. Langit juga semakin teratur merawat Pelangi, meski Pelangi suka marah karena merasa dianggap seperti anak kecil. "Ngi. Udah deh, aku bukan anak TK ! jangan bikin risih gini dong Langit. Kamu ngebuat aku makin ngerasa kalo aku ini penyakitan yang cuma bisa di kasihani ! " bentak Pelangi saat Langit tak mengijinkan Pelangi mengikuti seminar menulis di kampus mereka. "Kamu kenapa ngomong gitu Angi? diluar itu mendung, lag bentar hujan. nanti kamu kena hujan Angi. Aku gamau kamu sakit." jawab Langit lembut. "Ngi, hujan gak akan bikin aku mati tau gak. sekali ini aja Langit. Aku cuma pengen datang ke seminar itu. " minta Pelangi. "aku tahu kamu Pelangi, kamu selalu suka hujan, sengaja mencari-cari alasan agar bisa berdiri dibawahnya." jawab Langit. "Terserah kamu deh Langit. kamu gak ngizinin aku bakal tetep pergi. Kamu tau aku sudah lama gak ikut bedah buku, seminar menulis, itu karena waktuku tersita dengan alasan gak boleh capek ! Jadi aku harus ngapain Langit? Diam aja nunggu ajal tiba tanpa ngelakuin apapun? Ha? ", Pelangi mulai marah, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Gak kok Angi, tapi aku gak bisa nganter kamu Angi. Aku ada mata kuliah sebentar lagi, mungkin sampai awal magrib. aku gak mau kamu pergi sendiri,aku takut kalo kamu-- ", "Langit, jangan mulai ! aku bisa pergi sendiri. Okay? aku bakal sms kalo ada apa-apa." Pelangi memotong ucapan Langit. Setelah berf ikir beberapa menit, Langit mengiyakan permintaan Pelangi. Senyum Pelangi langsung mengembang. "Tapi ingat, kalo udah nyampe, kamu langsung sms, kalo mau pulang juga sms. siapa tau mata kuliahku udah selsei pas kamu mau pulang." toyor Langit. " Iyah ih bawel kamu tuh. Aku pergi dulu yah" Pelangi langsung berlari keluar, sementara Langit hanya menatapnya yang semakin jauh. "semoga tidak kenapa-kenapa", batin Langit.

***

Di kampus, Langit berlari-lari kecil melewati tangga, saking terburu-buru, dia menabrak seseorang. Duh, wanita itu tampaknya terjatuh dengan keras, buku yang ia bawa jatuh tercecer. "em, maaf maaf. saya tidak sengaja, lagi buru-buru,maaf yah" kata Langit sembari mengambil buku-buku milik wanita yang tampaknya dua tahun lebih tua darinya. Dia sangat cantik ternyata. Wanita itu hanya tersenyum. Ah, Langit ingat dia sedang buru-buru. "sekali lagi minta maaf yah" , Langitpun berlari meninggalkan wanita itu. Langit masuk terlambat pada mata kuliah hari ini, sekitar lima belas menitan mungkin, tapi tak apa. Langit sudah jadi mahasiswa, dan keuntungannya adalah takkan ada yang menyuruhmu berdiri di tiang bendera hanya karena telat masuk kelas. Dan juga, Kelas masih terlihat ramai, pertanda dosennya belum masuk. Aneh, biasanya mata kuliah ini dosennya sangat disiplin. mungkin ada keperluan penting pikir Langit. Setelah beberapa menit, Dosen yang sedang difikirkan langit masuk ke kelas. dengan seorang wanita di belakangnya.  Wanita yang ditabraknya tadi di dekat tangga. Anak barukah ia? ah, gak tau deh. Langit malas memikirkannya, ingatannya mengarah ke Pelangi. Sedang apa yah gadis yang paling ia cintai itu? Langit sedang membayangkan betapa serius Pelangi menyimak seminar yang di ikutinya, dan juga pasti dengan semangat ia melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang ada dibenaknya. Haha, dasar Pelangi. umurnya sudah 18 tapi kelakuan masih anak anak. "Maaf saya telat. Saya ingin memperkenalkan seseorang. Mbak di samping saya ini namanya Jingga Prameswari Suryani. Dia mahasiswi yang sedang kkL, sekarang dia menjadi asisten dosen. Dia mahasiswi kedokteran, memang sedikit tidak nyamnbung mengingat kita adalah fakultas ekonomi. Tapi dia sedang meneliti tentang hubungan administrasi dengan duia kedokteran. silahkan mbak" kata Pak dosen dengan sopan. "baik class, mohon bantuannya" senyum wanita itu. 

***

Pelangi tersenyum puas. Seminar hari ini sangat seru. Kepribadian si penulis sangat tersirat dari apa yang ia tulis di buku, dan juga penjelasannya tadi, membuat Pelangi semakin menyukai penulis itu. Masih jam Lima, Pelangi ingin ke toko buku dulu, mencari seri seri lain dari novel yang ditulis oleh penulis yang baru saja menyelenggarakan seminar itu.Luna. Dia mencari-cari, dua novel Luna yang lain sudah ada ditangannya. Pelangi juga ingin mencari buku tentang bahasa pemrograman, karena mulai minggu depan dia akan mengambil mata kuliah tersebut. Resiko anak IT, fikirnya. Saat dia memilih-milih buku di rak bagian pelajaran, matanya terpaku ke seseorang. Sedang berdiri di rak bagian buku pelajaran, dia sedang memegang buku Konselasi Bintang. Laki-laki itu, rambutnya sudah agak panjang, tak seperti waktu itu. Tubuhnya sudah semakin tinggi. tapi, Alis tebalnya yang seperti ulat bulu, hidungnya yang mancung, dan wajah datar tanpa senyum itu masih sama seperti dulu. Sama seperti pertama kali Pelangi melihatnya dulu. Kaki Pelangi kaku, seakan-akan ada yang menahannya disitu. Pelangi tidak tahu harus berbuat apa. kerongkongannya tercekat, dan laki-laki itu menoleh, lalu melihat Pelangi yang sedang berdiri mematung dua meter di sebelahnya. Laki-Laki itu kaget, ia terkejut melihat Pelangi ada disini, "Utty?" panggilnya.


***


 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS