***
Ingatan Pelangi kembali kepada dua tahun lalu, tepatnya saat Pelangi liburan kenaikan kelas. Saat itu Pelangi naik ke kelas 3, dan sedang mengikuti perlombaan. Saat itu Pelangi tak mengenalnya. Yang Pelangi tahu hanya
namanya, dan juga muka dinginnya. Begitu juga alis tebalnya dan juga hidungnya.
Wajah tanpa senyum yang membuat Pelangi jatuh cinta. . . . Mulanya, Pelangi hanya melihatnya dari atas bus. Laki-laki
dengan seragam putih abu-abu dan
almamater yang juga berwarna abu-abu itu sedang mengantri untuk menaiki
bus yang akan membawa kami ke tempat tujuan kami untuk mempersentasikan karya
tulis kami. Sekilas ia terlihat seperti seseorang yang Pelangi kenal.
Langit. Dia mirip Langit. Alis tebalnya, dan hidung
mancungnya. Pelangi sadar itu setelah menatapnya lekat-lekat , meski dari jauh.
Saat dia maju untuk memulai persentasi, mata Pelangi tak lepas dari sosoknya.
Dia menjelaskan dengan detail, rinci, atau apapun sebutannya. Dia terlihat
sangat mengerti dengan apa yang sedang ia jelaskan. Calon juara, batin Pelangi.
Dan setelah lama memandangnya, ternyata dia tidak sama dengan Langit. Tak seramah Langit, tak sehangat senyuman
yang dimiliki Langit.
Hari itu sudah mulai menjelang sore. Masih ada beberapa kelompok
yang belum maju. Kami makan siang disana. Akan tetapi, dua anggota kelompok Pelangi
sudah balik ke tenda terlebih dahulu. Ada yang akan mengikutii lomba lain, dan
yang seorang lagi sudah balik karena pingsan. Yang tersisa hanya Pelangi dan
kedua adik kelas Pelangi. Jenuh sekali berada diruangan itu, Pelangipun keluar
untuk menghirup udara segar. Dan Pelangi
melihatnya lagi,laki-laki itu. Pelangi tak tahu namanya,belum tahu tepatnya.
Dia sedang duduk di depan bersama seorang temannya, yang juga tak Pelangi tahu
namanya. Pelangi lekas berbalik kembali ke ruangan lomba. Hingga tiba saatnya
kami pulang, bus yang kami tunggu tak kunjung datang. Supirnya tidak bisa
dihubungi. Alhasil, kami kembali ke tenda menaiki mobil pick-up. Disana, di atas mobil itu, dia duduk tepat di
depan Pelangi. Menutupi mukanya dengan kedua tangannya. Pelangi mulai suka
melihatnya, menatapnya dalam-dalam, walaupun dari jauh. Pelangi mulai suka memperhatikannya
dengan detail. Raut wajahnya, senyum datarnya. Semua itu terekam dengan baik di
ingatan Pelangi. Waktu itu dia memakai baju lengan panjang berwarna hitam
dengan garis-garis hijau. Pelangi baru selesai mandi di kamar mandi masjid. MatPelangi
terpPelangi pada seseorang yang sedang berdiri menghadap kiblat, laki-laki yang
sedang shalat itu. Laki-laki yang tak Pelangi tahu namanya itu. Dan disini, di
dada ini, ada degup-degup aneh yang dulu pernah Pelangi rasakan. Falling in
Love at first sight? Mungkin, bisa jadi. Dan laki-laki itu sekarang berada tepat di
hadapan Pelangi.
***



Tidak ada komentar:
Posting Komentar