Pelangi di Hati Langit Part 6

Senin, 18 November 2013

   "Duh, Pelangi mana yah. janjinya mau sms kalo udah pulang. Hampir magrib gini kok smsnya gak masuk juga, mana nomornya gak aktif", erang Langit sambil berulang kali menelfon Pelangi. Hari sudah semakin gelap, hujan yang tadinya hanya gerimis sekarang sudah mulai terasa deras. Langit baru saja sampai di apotik, dia ingin membeli obat Pelangi yang stoknya hampir habis. Saat hendak keluar dari apotik, Langit menabrak seseorang, plastik obat yang Langit bawa jatuh tercecer di lantai. Wanita yang ditabrak Langit langsung membantu Langit mengambil obat-obat itu. "eh, Mbak Jingga? ", sapa Langit dengan muka kaget. "eh,iyah. Ini.. obat kamu? " tanya Jingga dengan raut muka takut. "iyah mbak, ada apa?" jawab Langit sembari mengulurkan tangn kepada Jingga yang masih terduduk di lantai. aneh,pikir Langit. Kenapa Jingga terlihat begitu terkejut? . "eh,hemm.. gapapa. kamu Langit kan?" tanya Jingga. "iyah Mbak,saya Langit. mbak Jingga asdos yag masuk kelas tadi kan?" senyum Langit. "Iyah.. Hehe.. Hujannya masih deras ya, kamu mau langsung pulang?" tanya Jingga. "enggak mbak, kayaknya berteduh disini dulu. Lagian kalo maksain jalan malah gak bisa liat apa yang ada didepan mata lagi.." canda Langit. "iyah yah. kalo gitu dudu disini dulu yuk. oyah, gak usah panggil Mbak, Jingga aja. Kita sama besar kok.",senyum Jingga kepada Langit. Mereka pun duduk di bangku yang tersedia di apotik tersebut. "Itu obat kamu Langit?" tanya Jingga. "eh, kenapa Ingga? ini punya pacar saya. Saya cuma beliin",jawab Langit. Raut muka Jingga terlihat tak tentu, dia sedang berpikir keras. "Pacar kamu, punya kanker?" tanya Jingga. "Iyah. Kanker Jaringan lunak. Tapi belum parah kok" Langit tersenyum pahit menjawab pertanyaan dari Jingga. "Udah berapa lama? Udah kemo? " tanya Jingga. "eh,maaf. aku banyak tanya yah?". "gapapa Ingga. Berapa lamanya aku gak tau, aku juga belum sebulan tau dia ngidap ini. Dan dia gak mau kemo. Dia bilang dia gak mau rambutnya rontok. hehe " jawab Langit. "pacarku dulu juga ngidap kanker. kanker jaringan lunak juga.". "hah? serius? terus sekarang dia dimana Ingga?" tanya Langit. "Dia meninggal 2 bulan lalu. " sahut Jingga lesu. "Maaf.saya gak tau.. saya turut berduka.." . "Gapapa Langit. Oh iyah, pacar kamu sekarang dimana?" JLEB. Raut muka Langit langsung berubah. Dia segera mencari-cari telpon genggamnya. dia lalu menelfon Pelangi. "Hpnya gak aktif. Aduh,mana hujan lagi." sungut Langit. "oh ya Langit, boleh minta nomor hp kamu?" minta Jingga. "boleh, ini.." "okey, makasih. Aku duluan yah Langit,aku bawa mobil. Kamu mau ikut?" tawar Jingga. "Gak usah Ngga,saya bawa motor kok" tolak Langit halus. "iyadeh kalo gitu. Bye". Pikiran Langit kembali pada kekhawatirannya terhadap Pelangi yang sedang tanpa kabar.

***

Ingatan Pelangi kembali kepada dua tahun lalu, tepatnya saat Pelangi liburan kenaikan kelas. Saat itu Pelangi naik ke kelas 3, dan sedang mengikuti perlombaan. Saat itu Pelangi tak mengenalnya. Yang Pelangi tahu hanya namanya, dan juga muka dinginnya. Begitu juga alis tebalnya dan juga hidungnya. Wajah tanpa senyum yang membuat Pelangi jatuh cinta. . . . Mulanya, Pelangi hanya melihatnya dari atas bus. Laki-laki dengan seragam putih abu-abu dan  almamater yang juga berwarna abu-abu itu sedang mengantri untuk menaiki bus yang akan membawa kami ke tempat tujuan kami untuk mempersentasikan karya tulis kami. Sekilas ia terlihat seperti seseorang yang Pelangi kenal.

Langit. Dia mirip Langit. Alis tebalnya, dan hidung mancungnya. Pelangi sadar itu setelah menatapnya lekat-lekat , meski dari jauh. Saat dia maju untuk memulai persentasi, mata Pelangi tak lepas dari sosoknya. Dia menjelaskan dengan detail, rinci, atau apapun sebutannya. Dia terlihat sangat mengerti dengan apa yang sedang ia jelaskan. Calon juara, batin Pelangi. Dan setelah lama memandangnya, ternyata dia tidak sama dengan Langit.  Tak seramah Langit, tak sehangat senyuman yang dimiliki Langit. 
Hari itu sudah mulai menjelang sore. Masih ada beberapa kelompok yang belum maju. Kami makan siang disana. Akan tetapi, dua anggota kelompok Pelangi sudah balik ke tenda terlebih dahulu. Ada yang akan mengikutii lomba lain, dan yang seorang lagi sudah balik karena pingsan. Yang tersisa hanya Pelangi dan kedua adik kelas Pelangi. Jenuh sekali berada diruangan itu, Pelangipun keluar untuk menghirup udara segar.  Dan Pelangi melihatnya lagi,laki-laki itu. Pelangi tak tahu namanya,belum tahu tepatnya. Dia sedang duduk di depan bersama seorang temannya, yang juga tak Pelangi tahu namanya. Pelangi lekas berbalik kembali ke ruangan lomba. Hingga tiba saatnya kami pulang, bus yang kami tunggu tak kunjung datang. Supirnya tidak bisa dihubungi. Alhasil, kami kembali ke tenda menaiki mobil pick-up.  Disana, di atas mobil itu, dia duduk tepat di depan Pelangi. Menutupi mukanya dengan kedua tangannya. Pelangi mulai suka melihatnya, menatapnya dalam-dalam, walaupun dari jauh. Pelangi mulai suka memperhatikannya dengan detail. Raut wajahnya, senyum datarnya. Semua itu terekam dengan baik di ingatan Pelangi. Waktu itu dia memakai baju lengan panjang berwarna hitam dengan garis-garis hijau. Pelangi baru selesai mandi di kamar mandi masjid. MatPelangi terpPelangi pada seseorang yang sedang berdiri menghadap kiblat, laki-laki yang sedang shalat itu. Laki-laki yang tak Pelangi tahu namanya itu. Dan disini, di dada ini, ada degup-degup aneh yang dulu pernah Pelangi rasakan. Falling in Love at first sight? Mungkin, bisa jadi.  Dan laki-laki itu sekarang berada tepat di hadapan Pelangi.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS