Pelangi di Hati Langit Part 5

Jumat, 08 November 2013

"Langit,kita dimana?" tanyaku. Tanganku basah, mata Langit juga terlihat basah. Matanya sembap. sekhawatir itukah Langit?  ah. dimana Kak Izzi.  Hatiku kalut. Apa Langit sudah mengetahuinya? mengetahui bahwa aku menyembunyikan penyakit ini? Aku takut Tuhan. Aku takut Langit terbebani dan justru mengasihaniku. aku takut dia terikat denganku karena penyakit yang ku derita, bukan karena menyayangiku dengan ketulusan. aku takut.

"Sudahlah Pelangi. Harusnya gak ada yang kamu sembunyiin dari aku. gimana aku mau jaga kamu, kalo kamunya gakmau aku jaga." seru Langit sedikit sesenggukan. "Harusnya kamu sadar, harusnya kamu ngeh. aku disini buat kamu Angi, buat kamu. kalo aja kamu bilang, kamu ceritakan ini lebih dulu, aku ga bakal biarin kamu ikut aku kesini, aku ga bakal bikin kamu capek." ucap Langit memandangku. "kamu harus sembuh Angi, harus sembuh yah.janji yah" pintanya dengan memelas. Aku hanya tersenyum. bibirku tak mampu berucap. aku lelah, aku mau tidur,aku mau isitirahat. akupun memejamkan mata, dengan tangan Langit yg mengelusngelus rambutku.

***

Dua minggu stelah Pelangi keluar dari rumah sakit, dia memulai aktivitasnya seperti biasa. Pelangi juga sudah mulai rutin meminum obat penghilang rasa sakitnya. Pelangi tidak minum terlalu banyak obat, karena akan berpengaruh pada jantung Pelangi. Langit juga semakin teratur merawat Pelangi, meski Pelangi suka marah karena merasa dianggap seperti anak kecil. "Ngi. Udah deh, aku bukan anak TK ! jangan bikin risih gini dong Langit. Kamu ngebuat aku makin ngerasa kalo aku ini penyakitan yang cuma bisa di kasihani ! " bentak Pelangi saat Langit tak mengijinkan Pelangi mengikuti seminar menulis di kampus mereka. "Kamu kenapa ngomong gitu Angi? diluar itu mendung, lag bentar hujan. nanti kamu kena hujan Angi. Aku gamau kamu sakit." jawab Langit lembut. "Ngi, hujan gak akan bikin aku mati tau gak. sekali ini aja Langit. Aku cuma pengen datang ke seminar itu. " minta Pelangi. "aku tahu kamu Pelangi, kamu selalu suka hujan, sengaja mencari-cari alasan agar bisa berdiri dibawahnya." jawab Langit. "Terserah kamu deh Langit. kamu gak ngizinin aku bakal tetep pergi. Kamu tau aku sudah lama gak ikut bedah buku, seminar menulis, itu karena waktuku tersita dengan alasan gak boleh capek ! Jadi aku harus ngapain Langit? Diam aja nunggu ajal tiba tanpa ngelakuin apapun? Ha? ", Pelangi mulai marah, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Gak kok Angi, tapi aku gak bisa nganter kamu Angi. Aku ada mata kuliah sebentar lagi, mungkin sampai awal magrib. aku gak mau kamu pergi sendiri,aku takut kalo kamu-- ", "Langit, jangan mulai ! aku bisa pergi sendiri. Okay? aku bakal sms kalo ada apa-apa." Pelangi memotong ucapan Langit. Setelah berf ikir beberapa menit, Langit mengiyakan permintaan Pelangi. Senyum Pelangi langsung mengembang. "Tapi ingat, kalo udah nyampe, kamu langsung sms, kalo mau pulang juga sms. siapa tau mata kuliahku udah selsei pas kamu mau pulang." toyor Langit. " Iyah ih bawel kamu tuh. Aku pergi dulu yah" Pelangi langsung berlari keluar, sementara Langit hanya menatapnya yang semakin jauh. "semoga tidak kenapa-kenapa", batin Langit.

***

Di kampus, Langit berlari-lari kecil melewati tangga, saking terburu-buru, dia menabrak seseorang. Duh, wanita itu tampaknya terjatuh dengan keras, buku yang ia bawa jatuh tercecer. "em, maaf maaf. saya tidak sengaja, lagi buru-buru,maaf yah" kata Langit sembari mengambil buku-buku milik wanita yang tampaknya dua tahun lebih tua darinya. Dia sangat cantik ternyata. Wanita itu hanya tersenyum. Ah, Langit ingat dia sedang buru-buru. "sekali lagi minta maaf yah" , Langitpun berlari meninggalkan wanita itu. Langit masuk terlambat pada mata kuliah hari ini, sekitar lima belas menitan mungkin, tapi tak apa. Langit sudah jadi mahasiswa, dan keuntungannya adalah takkan ada yang menyuruhmu berdiri di tiang bendera hanya karena telat masuk kelas. Dan juga, Kelas masih terlihat ramai, pertanda dosennya belum masuk. Aneh, biasanya mata kuliah ini dosennya sangat disiplin. mungkin ada keperluan penting pikir Langit. Setelah beberapa menit, Dosen yang sedang difikirkan langit masuk ke kelas. dengan seorang wanita di belakangnya.  Wanita yang ditabraknya tadi di dekat tangga. Anak barukah ia? ah, gak tau deh. Langit malas memikirkannya, ingatannya mengarah ke Pelangi. Sedang apa yah gadis yang paling ia cintai itu? Langit sedang membayangkan betapa serius Pelangi menyimak seminar yang di ikutinya, dan juga pasti dengan semangat ia melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang ada dibenaknya. Haha, dasar Pelangi. umurnya sudah 18 tapi kelakuan masih anak anak. "Maaf saya telat. Saya ingin memperkenalkan seseorang. Mbak di samping saya ini namanya Jingga Prameswari Suryani. Dia mahasiswi yang sedang kkL, sekarang dia menjadi asisten dosen. Dia mahasiswi kedokteran, memang sedikit tidak nyamnbung mengingat kita adalah fakultas ekonomi. Tapi dia sedang meneliti tentang hubungan administrasi dengan duia kedokteran. silahkan mbak" kata Pak dosen dengan sopan. "baik class, mohon bantuannya" senyum wanita itu. 

***

Pelangi tersenyum puas. Seminar hari ini sangat seru. Kepribadian si penulis sangat tersirat dari apa yang ia tulis di buku, dan juga penjelasannya tadi, membuat Pelangi semakin menyukai penulis itu. Masih jam Lima, Pelangi ingin ke toko buku dulu, mencari seri seri lain dari novel yang ditulis oleh penulis yang baru saja menyelenggarakan seminar itu.Luna. Dia mencari-cari, dua novel Luna yang lain sudah ada ditangannya. Pelangi juga ingin mencari buku tentang bahasa pemrograman, karena mulai minggu depan dia akan mengambil mata kuliah tersebut. Resiko anak IT, fikirnya. Saat dia memilih-milih buku di rak bagian pelajaran, matanya terpaku ke seseorang. Sedang berdiri di rak bagian buku pelajaran, dia sedang memegang buku Konselasi Bintang. Laki-laki itu, rambutnya sudah agak panjang, tak seperti waktu itu. Tubuhnya sudah semakin tinggi. tapi, Alis tebalnya yang seperti ulat bulu, hidungnya yang mancung, dan wajah datar tanpa senyum itu masih sama seperti dulu. Sama seperti pertama kali Pelangi melihatnya dulu. Kaki Pelangi kaku, seakan-akan ada yang menahannya disitu. Pelangi tidak tahu harus berbuat apa. kerongkongannya tercekat, dan laki-laki itu menoleh, lalu melihat Pelangi yang sedang berdiri mematung dua meter di sebelahnya. Laki-Laki itu kaget, ia terkejut melihat Pelangi ada disini, "Utty?" panggilnya.


***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS