Pelangi di Hati Langit Part 3

Minggu, 29 September 2013

   "ohh.. Aku ganggu ya sayang?" tanyaku sambil duduk di kasur Langit. Langit terlihat gugup, salah tingkah. "sayang kenapa? kok gugup gitu ? " tanyaku manja. "Gak apa-apa sayang. Sudah makan?", jawab Langit mengalihkan pembicaraan. "Udah, kamu udah?"jawabku. Langit menatapku dengan tatapan aneh. Dia duduk disampingku dan merangkulku, menarikku ke dadanya yang tidak cukup bidang itu. Aku suka saat dia memperlakukanku seperti itu. Karena kadang aku butuh sosok sepertinya untuk mengisi hidupku yang sempat kosong dari kasih sayang ayah. Akupun tak punya kakak Laki-laki yang dapat ku jadikan tempat bermanja. Makanya, aku begitu menyayangi Langit. Langit itu sangat berarti untukku. Aku bahkan tak pernah menyangka, hubungan semu yang kami jalani dulu itu akan berbuah manis seperti ini. Aku tak menyangka saat dulu aku uring-uringan karena hanya dapat bertemu sekali dalam rentan waktu dua bulan, ternyata sekarang setiap hariku, setiap waktu yang aku punya tak pernah terlewatkan tanpa bersama dia,Langitku :)

Kami berdua tertidur pulas. Siang itu sangat panas, kipas angin di kamar kost Langit tetap saja tak bisa menahan gerahnya panas siang itu. Aku pun terbangun dan menyetel kipas angin agar berputar lebih kencang. Ah, Laptopnya belum dimatikan, dasar Langit. Akupun segera membereskan laptopnya, kulihat materi tugas apa yang sedang ia cari. Kanker jaringan Lunak. Langit,Langit. Aku hanya tersenyum dan mematikan laptop itu dan meletakkannya di atas meja. Aku duduk dan memperhatikan isi kamar kost kekasihku ini. Semuanya tertata tdengan rapi. Dia memang tidak suka kotor, diaa tidak suka ada barang-barang yang tidak  diletakkan pada tempatnya. Jam sudah menunjukan pukul empat sore. Aku pun segera pulang menuju ke kosku. Ada tempat yang harus ku kunjungi sore ini. aku meninggalkan Langit yang masih tertidur dengan pulasnya.

***

Aku ada jadwal check-up hari ini. yah. Aku mengidap kanker jaringan lunak di bagian kepala. Sejak dulu aku merasakan sakitnya. Mual,pusing yang keterlaluan, dan tangisan yang tak henti ku alirkan selama ini ternyata karena penyakit itu. Aku hanya berusaha menutupinya. Semula aku hanya iseng mencari tahu di  Google. ditempat semua sumber informasi tersimpan didalamnya. ku ketikkan gejala penyakit yang kuderita. Dan di daftar yang paling atas muncul "KANKER JARINGAN LUNAK:" .
Aku tahu kanker jaringan lunak  itu apa. aku pernah menontonnya disalah satu film yang laris waktu itu. Aku cemas. tapi tak apa. Itu hanya dugaan. Aku mencoba tenang hingga pada akhirnya aku menerima hasil tes laboratorium yang kulakukan saat duduk di kelas 3. aku melakukan check-up untuk seluruh tubuhku. Ternyata Aku positif mengidap kanker jaringan lunak, dan juga penyakit gagal jantung. aku berusaha menyimpan semua sendiri. biar saja. Aku hanya ingin menikmati rasa sakit ini sendiri, sampai nanti tangan tuhan yang menghentikannya. Akan tetapi, Beberapa hari yang lalu Langit mengajakku untuk memeriksa kan kepalaku. aku menolak dengan halus, tetapi dia tetap memaksa. Aku takut dia semakin curiga. Jadi ku biarkan saja. Mungkin hasil test itu sudah keluar. Mungkin saja Rere yang telah mengantarkan hasil test itu. Mungkin itu yang membuat Rere menangis dan membuat langit terlihat sangat marah. Entahlah. Aku tak ingin bertanya hasilnya. Aku sudah tau, aku lebih dulu tahu. Aku tak ingin Langit mengasihaniku. Aku tak ingin terlihat lemah. Anggap saja aku tak tahu apa-apa. Langit juga berusaha menyembunyikan semua ini.
ah,tak apa. Semua sudah terlanjur. aku tak mau Langit terlalu lelah karena aku.

TiinTiiinn...
ah,suara motor Kak Izzi. Kak Izzi yang akan menemaniku checkup hari ini. aku bilang hanya test kesehatan biasa. aku juga tak mau dia khawatir. "iyaa kaak. aku tutup pintu kost dulu",teriakku. akupun naik, dan kami melangkah ke rumah sakit. Dan tanpa sepengetahuanku, ternyata Langit melihatku dibalik jendela kamarnya. Matanya tajam menatapku. Langit tak kenal Kak Izzi. Aku juga tak bilang mau keluar,apalagi dengan laki-laki lain. sudahlah. Mungkin nanti dia akan mengerti.

Pelangi di Hati Langit Part 2

Senin, 09 September 2013

Keesokan harinya, di tempat kuliah..

"Lama sekali sih Langit keluar. Dia bertelur kali di kelas" omelku sambil menunggu di depan koridor kelas Langit. "Pelangii !", teriak seseorang. Ternyata Rere, aku kira siapa fikirku. "Udah mendingan kamu Angi' ? kalok capek gak usah datang, nanti makin drop.". "gapapa, Liat udah cantik gini udah sehat ginii kok. Haha.. Kamu kemarin kenapa Re'?" tanyaku. Dia diam mematung, lalu gelagapan " eh, gapapa. Hehe..". jawabnya salah tingkah. "Hoyy, ngomongnya berduaan tapi ributnya sekampung ", sahut Zevan yang tiba-tiba muncul sambil merangkul Rere."cieeh, udah baikan nih, Makanya Re jangan galau terus!" kataku. "Baikan? maksudnya?" tanya Zevan dengan muka linglung."Hehe, gak kok Angi'. Langit mana ngi'? Belum keluar? Lama banget" ceplos Rere cepat. "iyanih, dari tadi di tungguin, katanya balik bareng". Panjang umur, Langit yang sedang kita bicarakan ternyata baru saja keluar dari kelas. Akupun berlari kecil menghampirinya. Braak. tiba-tiba aku jatuh sebelum sampai ketempat langit. Sakit, kakiku tiba-tiba lemas dan jatuh. Sial sekali. Lalu Langit membantuku berdiri dan mengomel, "gak tau pelan-pelan. Padahal kita juga jalan kok kesana."
"Hehe, Kan aku kangen Langit."jawabku iseng. "duileeh, ini cewek ngerayu aja bisanya. Pacar siapa sih gombal gini?". Hahaha, kami hanya tertawa bersama dan berjalan ke tempat parkir. Tanpa ku sadari ternyata dibelakang Rere sudah menangis lagi sambil memeluk Zevan. Zevan kebingungan dan hanya mendekap Rere. Rere kenapa? Lalu Rere mulai bercerita. Zevan pun ikut merasa lemas, dia bingung harus berbuat apa. Dia tidak menyangka hal seperti ini bisa terjadi di sekitarnya. Terjadi kepada  orang yang disayanginya.

***

"Ini Rhabdomyosarcoma. Kamu mungkin pernah dengar ini di film. Tapi kamu harus tahu Ngi'. Penyakit ini bukan cuma ada di film. Ini bisa terjadi dimana saja, bisa menyerang siapa saja. namanya kanker jaringan Lunak. dia bisa menyerang otak, leher, vagina. Penyebabnya banyak, seperti mengonsumsi makanan yang mengandung berbagai zat kimia berbahaya, mengonsumsi rokok dan alkohol, terpapar radiasi dari gelombang elektromagnetik dan logam berat, serta faktor genetik.  Jika kanker ditemukan di jaringan kepala, biasanya akan menimbulkan gejala neurologis seperti ganggaun keseimbangan tubuh, pusing, dan mual." 
Langit kembali mengingat kata-kata temannya yang ada di fakultas kedokteran. Diapun sekarang sedang browsing ke internet. Mencari-cari apa penyebab penyakit ini bisa menyerang seseorang, bagaimana penyakit ini tumbuh dan berkembang, bagaimana penyakit ini berusaha menyakiti satu-satunya Cinta yang Langit jaga selama ini. Dia tak menyangka ketika Rere datang ke kost pelangi, dia tidak menyangka akan mendengar kenyataan sesungguhnya yag sedang terjadi pada Pelangi. Ini alasan kenapa Pelangi selalu suka jatuh tiba-tiba, ini alasan kenapa pelangi terkadang mual tiba-tiba. Inilah alasan mengapa air mata Pelangi jatuh tanpa henti tatkla rasa pusing datang menggerogoti kepala Pelangi. Langit berfikir selama ini Pelangi hanya terlalu lelah, terlalu banyak berfikir keras. Langit fikir Pelangi hanya sedang stres karena jauh dari mamanya. Ternyata Pelangi yang ada dihatinya harus mengalami kesakitan seperti ini. Kenapa harus Pelangi? Kenapa harus Pelanginya Langit? Satu-satunya perempuan yang membuat Langit menjadi orang paling berharga. Pelangi menjadikan Langit satu-satunya Cinta yang ada di hatinya. Dan ketika penyakit itu datang menghampiri kekasihnya, Langit tak bisa berbuat apa-apa. Langit tak tahu harus bagaimana. Langit tak bisa menahan kesedihannya. Air matanya turun perlahan melawan ketegarannya. Jangan Pelangiku tuhan..
"sayang?" Langitpun menoleh kebelakang, kearah Pelangi yang sedang mengamatinya sejak tadi. "Kamu kenapa nangis?" Tanya pelangi sambil memperhatikan layar monitor yang tadi diperhatikan Langit. "Ini.. browsing apa? ini apa sayang?" tanyanya heran. "ii.. ini.. " Langit tergagap. Matanyapun terlihat sembap. "ini tugas sayang" jawab Langit sambil Tersenyum.

***

Pelangi di Hati Langit Part 1

"Kamu kenapa?", tanyanya sembari berusaha memelukku yang sedang terduduk dipojokan kos dekat pintu. "Kamu kenapa nangis? Sakit lagi? Kita ke dokter aja yah?", tanyanya dengan nada khawatir. Seperti biasa, dia memang pengertian. Dialah yang selalu ada untukku selama hampir tujuh bulan kami duduk di bangku kuliah kami. Dia mengambil salah satu jurusan di Fakultas Ekonomi sedangkan aku di Fakultas Teknik Informatika di kota seberang yang tidak terlalu jauh dari kota kami. Dia Kekasihku sejak kelas 3 Sma, Hampir sisa masa Sma kami habiskan untuk menjalin hubungan jarak jauh dan akhirnya kami melanjutkan kuliah di kota dan di universitas yang sama. Kos kami sangat dekat, kami hanya perlu berjalan kaki untuk saling menemui. Dan saat pagi ini dia datang menjemputku,dia melihatku terduduk dipojokan. Aku menangis, terisak. Semakin lama aku semakin merasa sakit di kepalaku semakin hebat. Dia terlihat sangat khawatir, dia memelukku begitu erat, membenamkan kepalaku didadanya, seakan dia ingin merasakan apa yang aku rasakan. Aku menangis cukup lama hingga aku mulai terlelap di dekapannya.  aku sayang dia.

***

"iyah, titip absen yah Re, Pelangi kambuh lagi nih. Iyah,makasih ya, assalamualaikum.". Samar-samar ku dengar suara kekasihku sedang menutup pembicaraan di telfon. Ah, pasti Langit menelfon Rere. Iyah, namanya Langit. Kekasihku yang berkumis tipis dan menyebalkan itu bernama Langit. Mungkin orang tuanya mennggntung harapan agar anak laki-laki satu-satunya yang merka punya ini bisa seperti Langit. Menjulang setinggi-tingginya, seluas-luasnya. "Ngi'?" panggilku. Diapun menoleh dan segera menghampiriku. "iya sayang. Gimana kepalanya? masih sakit?" tanyanya sembari mengelus rambutku. Dia memang laki-laki lembut. Aku selalu merasa nyaman berada disampingnya. "nggak kok ngi'. Kamu gak kuliah? ". Dia langsung mendelik kearahku, "kuliah? terus ngebiarin kamu sendiri? sakit kayak gini? jangan aneh-anehlah sayang. jangan bertanya hal yang harusnya sudah kamu tahu jawabannya" sahutnya. Aku hanya tersenyum, dulu dia memang berjanji, dia akan melindungiku jika memang kami berkuliah di satu tempat. "Kami itu susah sekali dibilangin ! Jangan makan mie kan aku bilang. kalo kamu malas masak, biar aku yang pergi beli makanan buat kamu. jangan makan kayak gini-gini. Dasar! Gak pernah sayang sama diri sendiri", omelnya penuh perhatian.

Dia memang begitu. entah mantra apa yang Mama kasih ke dia. Dia kadang jadi secerewet Mama, kadang dia jadi diam seperti diamnya Bapak. Kadang dia menyebalkan seperti Rania,adikku. Entahlah, dia ini pelengkap hidupku. Aku membutuhkannya seperti setengah diriku mencintai setengah diriku yang lain. Dia istimewa. Dia berbeda. Dan aku selalu jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama, Dia. Langitku tercinta.

Tok Tok Tok. Suara pintu kosku yang diketuk seseorang. Kami sedang main PS berdua, dia pemem-pause-kan permainan kami dan membuka pintu. Yang datang  ternyata Rere, dia membawa surat laboratorium hasil rontgenku kemarin.  Matanya sembab, kulihat dia berbicara serius dengan Langit. Pasti soal Zevan,pacar Rere. Akhir-akhir ini Rere sering mengetwiit seakan-akan dia akan ditinggal pergi. Pasti Zevan berubah deh. Zevan teman dekatnya Langit, makanya Rere sering bercerita tentang Zevan kepada aku dan Langit. tapi untuk kali ini Rere tidak bercerita kepadaku, mungkin karena ia tahu aku sedang sakit kepala. Aku lihat dia mulai menangis terisak,dia tak dapat membendung air matanya, dia tidak dapat menahan isak tangisnya. Aku lihat Langit diam saja, Tatapannya kosong, tapi ia seperti menahan marah, kulihat tangannya mengepal dan bergetar seperti geram. Ada apa ini fikirku. Tak lama kemudian Rere pamit pulang, Dia memelukku erat dan menangis tertahan di pundakku. Tapi ia tidak mengtakan sepatah katapun kepadaku. Ah. aku ikut geram. apa yang Zevn lakukan hingga menjatuhkan air mata Rere yang seharusnya paling ceria diantara kami?

Setelah Rere pulang, Langit menghampiriku yang sedang dudu menghadap Tv. "Lanjut mainnya Ngi'? atau udahan aja?" tanyaku padanya. "Kita istirahat aja yah sayang?" jawabnya. Ia pun tidur dikasur depan tv. aku ikut tidur disebelahnya, aku memeluknya erat, mendekapkan diri padanya. Aku juga ingin tidur. Ingin istirahat. Kami sudah seperti kakak-beradik, hanya saja Cinta yang kami punya berbeda. "Pelangi, aku sayang kamu", gumamnya.


***

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS