Ruang berkaca
itu menampakan puluhan manusia yang sedang duduk di dalamnya. Ada yang sedang
berbicara dengan temannya, ada yang berbicara dengan telpon genggamnya, ada
yang sedang menikmati cemilan, ada juga yang sedang sibuk dan bingung mengisi
kartu keberangkatannya—aku salah satunya. Ini kali pertama aku melakukan
penerbangan internasional. Tentunya pun ini pertama kalinya pasporku mendapat cap
dari petugas imigrasi. Penerbangan ke Singapura bersama rombongan mahasiswa
Universitas Teknologi Sumbawa dan para peserta Gong Traveling lainnya ini akan boarding pada pukul 10.30 dengan pesawat
Lion Air JT 0154. Berhubung kami harus boarding lima menit lagi, aku berhenti
mengisi kartu keberangkatan dan mulai mengecek barang yang akan kami bawa ke
pesawat. Paspor, boarding pass, tas
yang akan dimasukan ke kabin, dan juga dompet beserta isinya, and just for information,kita dilarang
membawa air atau benda yang berbentuk cair seperti minuman dan parfum lebih dari
100 ml kedalam kabin pesawat. Dan tak lupa sebelum check in tadi, aku dan
rombongan telah menukar pundi-pundi rupiah kami menjadi dolar Singapura.
Aku mendapat
tempat duduk di seat 8b. Seperti
biasa, semesta kembali berkonspirasi—memaksa bibir mengucap syukur, membuatku
terpekur. Aku berada di atas awan. Di bawahku hanya ada hamparan warna biru-putih
yang menyejukkan-menenangkan. Tak terasa 1 jam 21 menit terlewat dan pesawat
akan landing di Changi Airport.
 |
| di Welcome-wall Chagi Airport. |
Yap, Changi ! Bandara Internasional yang di nobatkan
sebagai bandara terbaik di dunia pada tahun 2015 untuk yang ketiga kalinya ini
membuat aku dan semuanya terpukau. Begitu selesai melalui tahap imigrasi dan
mengambil peta Singapore, tak lupa aku mengabadikan moment penting ini. Setelah itu, aku dan rombongan yang lain
berkumpul di sebelah ticket office.
Kami akan membeli tiket STP (Singapore Tourist Pass) seharga 30 dollar
Singapura yang akan kami gunakan untuk menaiki MRT. MRT adalah transportasi
utama yang digunakan secara mass untuk tertib al oleh penduduk Singapura. Untuk
menaiki MRT ini, kita dapat menggunakan standart ticket yang dibeli di mesin
tiket, atau menggunakan EZ-Link kartu yang dapat diisi ulang jika saldonya
habis. Tapi untuk kami yang melancong ke Singapura hanya 3 hari, dapat
menggunakan STP 3 day pass tersebut. Dan jika kartu itu dikembalikan, maka akan
ada refund sebesar 10 dollar sebagai deposit kartu tersebut. Nah, setelah itu
akupun menuju stasiun MRT di Changi, men-tap
kartu STP ke mesin yang ada lalu menuju ke stasiun Tanah Merah untuk berganti
kereta ke tujuan Aljuned. Dan saat mengantri kereta yang datang, mereka
benar-benar memenuhi tata tertib yang berlaku. Mengantri dan mendahulukan orang
yang keluar dari kereta. Didalam keretapun sangat kentara betapa penumpang menghargai
orang-orang yang di “prioritaskan”. Mereka akan memberikan tempat duduk lebih
dahulu kepada orang lanjut usia, difabel, ibu hamil, dan orang tua yang membawa
anak mereka. Di dalam MRT pun tidak boleh
makan, minum, merokok, dan membawa gas yang mudah terbakar, karena jika
dilanggar, akan mendapat denda sekitar 500-5000 dolar, kira-kira lima juta
sampai lima puluh juta rupiah. Pantas saja negara ini disebut negara denda.
Setelah hampir sepuluh menit, kami sampai di stasiun Aljuned. Kami turun ke
lantai bawah dan men-tap kembali
kartu kami. Kami diarahkan untuk berkumpul di lapangan. Di pinggir lapangan, terlihat
sepeda yang bagus sampai sepeda butut berbaris rapi di bawah Sign yang bertuliskan Park Here. Di sampingnya, ada sebuah
pohon besar yang rindang yang kemudian menjadi tempat kami berkumpul.
 |
| Parkiran Sepeda di dekat stasiun Al-juned |
 |
| di dalam MRT (Mass Rapid Transportation) |
Tak terasa
perutku mulai bernyanyi—meneriakan rasa lapar yang semakin menjadi-jadi. Jarum
jam sudah menunjukan pukul setengah empat sore dan kami bahkan belum makan
siang. Aku dan teman-temanpun bergegas ke Mufiz cafe.Mufiz cafe—tempat makan
yang menyediakan muslim food yang
berada di daerah Geylang ini cukup ramai
didatangi pengunjung. Dan rata-rata, pengunjungnya adalah orang Melayu dan
orang India. Disini memesan makanan pun cukup mudah karena semua pelayannya
merupakan orang India dan menggunakan bahasa Melayu. Akupun memesan Nasi
Briyani dengan lauk daging kambing seharga $6 dan ice lemon tea seharga $1,8. Satu porsi nasi Briyani ini sungguh
membuat perut kenyang. Jika ingin makan disini, harga makanan yang ditawarkan
berkisar antara $3 sampai $6. Dijamin kenyang dan halal, meskipun cukup
menguras kantong mahasiswa seperti kami. Memang makanan di Singapura jauh lebih mahal
daripada di Indonesia, itu dikarenakan lahan di Singapura yang tidak begitu
luas membuat sumber daya alam di negara ini sangat terbatas. Sehingga negara ini
perlu meng-impor bahan pangan dari negara-negara tetangga. Hal itulah yang
membuat makanan dan biaya hidup di Singapura sangat tinggi sampai membuat
Singapura berada pada peringkat pertama negara kota termahal di dunia. Di
Singapura, disarankan untuk membawa botol kosong. Karena disini air kemasan
sangat mahal, kita dapat menggunakan botol kosong untuk menampung air. Setelah puas
makan di Mufiz cafe, aku dan yang lain melanjutkan perjalanan ke hostel tempat
kami menginap. Kami segera check in di WOW Hostel 67B 98SG di Lorong 27 Geylang
ini. Hostel ini cocok untuk para backpacker
yang ingin menginap dengan murah meriah di Singapura. Dalam satu kamar terdapat
ranjang tingkat yang dapat ditempati oleh 4 sampai 6 orang beserta loker.
Hostel kami bahkan dilengkapi dengan AC, air panas untuk menyeduh, dan empat
kamar mandi yang dipakai bersama. Kamipun segera mandi dan beristirahat sejenak
sebelum memulai kembali perjalan kami.
 |
| Mufiz Cafe |
***
Sore menjelang
petang, kami disuguhi oleh pemandangan kampung yang masih bernuansa klasik dan
terkesan jadul. Namanya Kampong Glam,
tapi banyak yang menyebutnya Kampong Arab karena sebagian besar penduduknya
merupakan Melayu-India muslim. Disana terdapat dinding batu yang dilukis dengan
bermacam gambar. Selain nuansanya yang bersifat klasik dan historis, disini
juga terdapat Masjid Sultan yang merupakan masjid tertua di Singapura dan
satu-satunya masjid yang boleh menggunakan pengeras suara disini. Pemerintah
mengambil kebijakan tersebut untuk menghargai penduduk lain yang non muslim.
Mengingat bahwa 77% penduduk Singapura adalah etnis China, 14% Melayu dan 7%ya
adalah orang India. Tapi sayang aku tak dapat menikmati pesona masjid yang
historis ini dikarenakan Masjid Sultan ini sedang dilakukan perawatan. Meskipun
Masjid Sultan tetap dirawat tiap tahunnya, tak ada satupun dari struktur dari masjid
yang boleh dirubah. Sama halnya seperti semua rumah yang ada di Kampong Glam,
pemerintah tidak memperbolehkan mereka merubah eksterior rumah yang mereka
tempati karena itu merupakan salah satu tampilan wisata yang dapat dijual
kepada para turis yang datang. Di Kampong Glam terdapat banyak toko souvenir
dengan harga murah meriah, dri harga 50 cent sampai $5 dapat kita temukan di
sini. Selesai magrib, kami melanjutkan perjalanan ke China Town dengan menaiki
MRT. China Town—seperti namanya, wilayah ini merupakan pemukiman orang Cina.
Disana terdapat banyak sekali tempat belanja seperti Kampong Glam, tetapi ada
stand-stand yang khusus menjual souvenir Cina. Jika berjalan sedikit ke ujung,
kita akan melewati banyak stand penjual makanan, souvenir, sampai peramal dan
penjual hewan-hewan yang katanya membawa hoki. Jika sampai di ujung, kita akan
melihat sebuah Temple yang sangat
arsitektural. Sebuah pemandangan yang menakjubkan apalagi ditambah dengan
gemerlapnya cahaya lampu yang menambah indahnya pesona temple itu dimalam hari. Puas berjalan-jalan, kamipun kembali ke
hostel pada pukul 10 kurang. Aku langsung merebah lelah di ranjangku,
menyalakan AC dan mulai menutup mata. Lumayan, perjalanannya indah.
***
Dingin menyeruak
di dalam kamar. Padahal AC sudah ku atur sampai menunjuk angka 25 derajat
celsius, tapi dinginnya membuatku meggigil. Jam sudah menunjukan pukul 5
kurang. Akupun segera bangun dan langsung mandi. Aku mandi lebih cepat karena
takut mengantri terlalu lama. Sehabis mandidan bersiap-siap, kami diberi waktu
untuk sarapan lalu berkumpul di lapangan Aljuned sebelum jam 9. Pagi ini aku
sarapan dengan noodle cup yang aku
beli di Seven-Eleven. Dan sama sekali tidak mengenyangkan. Setelah sarapan, aku
segera menyusul ke lapangan Aljuned. Tujuan kami hari ini adalah Nanyang Technological
University ! Aku dan teman-teman memulai perjalanan dari MRT Aljuned menuju ke
Jurong. Saat melihat map di stasiun, stasiun Jurong akan ditempuh melalui 14
stasiun yang tentunya akan memakan waktu sangat lama. Hampir sekitar 45 menit
kami habiskan di dalam MRT hingga sampai ke Jurong lalu bertukar kereta untuk
sampai ke stasiun Bukit Batok. Sesampainya di Bukit Batok, kami menaiki bus
tingkat untuk pergi ke Nanyang. Untuk membayar bus, kita hanya perlu men-tap STP ke mesin yang ada di pintu masuk
lalu men-tap kembali saat keluar
melalu mesin yang ada di pintu keluar bus. Kami pun menikmati pemandangan yang
dsuguhkan kepada kami. Jalanan tanpa macet, pohon-pohon yang tertata rapi, tata
kota yang baik membuatku berpikir dan mulai membanding-bandingkannya dengan
Jakarta, ibukota Indonesia. Betapa macetnya, tidak tertata, penuh dan sesak
serta riuh ramainya yang berbanding terbalik dengan apa yang sedang aku lihat.
Satu nilai plus lagi buat Singapura. Saat memasuki wilayah Nanyang, bus
melewati bangunan yang disebut China
Herritage, asrama mahasiswa NTU, dan masih banyak lagi gedung-gedung yang
tertata dengan rapi disana. Kami turun di Bus Stop yang dekat dengan parkiran
mobil. Aku berjalan sambil melihat-lihat, mahasiswa disini bebas memakai baju
apapun yang mereka inginkan Pemandangan disini agak berbeda, jika di MRT atau
di tempat-tempat lain di Singapura orang-orang akan sibuk dengan gadgetnya dan
tidak memperdulikan orang lain, tetapi disini lebih manusiawi, orang-orang
terlihat saling berinteraksi satu sama lainnya.
Dimsum
Building—akupun berfoto ria bersama teman-teman di depan Dimsum Building ini.
Bangunan ini mempunyai bentuk yang lucu dan membuat mataku agak pusing melihatnya.
Aku dan yang lain segera beranjak, kami singgah untuk melihat Lee Kong Chian
Lecture Theare, Nanyang Auditorium, Lee Wee Nam Library , dan berkeliling
disekitar. Dan yang paling amazing
adalah perpustakaannya. Yah, Lee Wee Nam Library ini sangat besar dan tertata.
Benar-benar suasana perpustakaan yang seharusnya. Selain dipenuhi buku yang
tersusun rapi, perpustakaan ini dilengkapi dengan wifi dan berpuluh-puluh pc
yang dapat digunakan oleh mahasiswa untuk mengerjakan tuganya. Siapa yang tidak
betah berlama-lama disana ? Setelah
menyadari perut kami mulai berkaraoke ria, kami diajak ke foodcourt disana. Kami membeli kartu terlebih dahulu yang digunakan
untuk membayar ke stand makanan yang kita beli. Dan kartu itu seperti EZ Link
card, yang dapat di top up atau isi
ulang ketika kita ingin berbelanja lagi disana.
 |
| Lee Wee Nam Library, Nanyang Technological University |
 |
| Dimsum Building. |
Saat jam sudah
menunjukan pukul 13.10 , kami segera menuju bus stop untuk menaiki bus lagi ke
Bukit Batok, lanjut ke Jurong samapi ke stasiun Outarm Park. Dari Outram Park,
kami berganti kereta menuju Harbour Front. Yap, tujuan selanjutnya adalah
Harbour bay, Sentosa Island ! Sesampainya di Harbour Front, kami menuju Vivo
City dan membeli tiket untuk menaiki mono rail ke Sentosa Island. Satu tiket
pulang pergi dipatok seharga $4 untuk satu orang. Sesampainya di Sentosa
Island, dari kereta kita dapat melihat pelabuhan dan kapal-kapal yang sedang
berlabuh. Sesampainya di stasiun, kami langsung menuju Globe Universal Studio
untuk berfoto-foto. Dan lagi-lagi semesta tak henti menunjukan keagungan pencipta-Nya.
Pengalaman tak terlupakan, meskipun belum berkesempatan masuk ke USS dan
bermain di wahananya. Kami beristirahat sebentar dan berkumpul sambil
mendengarkan cerita Kak Arif. Harga barang-barang dn makanan di sini memang
jauh lebih mahal dari biasanya karena di sini merupakan pulau wisata. Setelah
itu, kami melanjutkan perjalanan ke Patung Merlion di Sentosa yang sering
dianggap sebagai Merlion ‘ayah’ . kami berkeliling melewati Merlion Walk,
Merlion Plaza, dan juga melewati Lake of Dream. Aku sempat mencuci tanganku di
Lake of Dreams tersebut, alhasil tanganku berbau seperti durian—entah kenapa.
Setelahnya, kamipun kembali ke Vivo City dan melanjutkan perjalanan dari
stasiun MRT harbourFront menuju ke stasiun Farrer Park di kawasan Little India.
Disana aku dan teman-teman singgah untuk sholat di masjid dan berkeliling
sebentar di Mustafa Center yang terkenal dengan toko-toko yang buka 24 jam dan
kelengkapannya. Tapi kami hanya sebentar karena kami langsung menuju ke Merlion
Park. Dari stasiun Farrer Park, kami menuju stasiun MRT Dhoby Gaut. Di stasiun
Dhoby Gaut, kami harus berkeliling agak lama karena kebingungan. Disini
terdapat dua interchange stasiun, tapi akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke
Raffless Place. Karena tujuan selanjutnya adalah Merlion Park, kami melewati
pintu exit H. Kemudian jalan menuju Singapore River dan belok kanan ke arah
Fullerton Hotel. Kemudian menyeberangi Fullerton Road dan turun ke jalanan di
sisi sungai, di bawah jembatan Esplanade. Dan akupun merinding. Lagi-lagi,
untuk kesekian kalinya. Semesta berkonspirasi memamerkan
keindahannya—pesonanya. Aku mengambil beberapa foto di dekat Merlion, dan juga
mengambil beberapa foto dilatarbelakangi dengan pemandangan Marina Bay dari
kejauhan. Selebihnya, aku duduk di tangga dekat patung Merlion sembari
mengagumi keindahan yang sedang disuguhkan semesta,Singapura malam hari. Dari
tempat kami duduk, terlihat dari kejauhan Gedung Esplanade, Singapore Flyer, Marina
Bay Sands, Helix Bridge, sampai art science museum terlihat menggoda untuk
dikunjungi. Tapi karena waktu semakin malam, kamipun beranjak untuk pulang. Dan
semoga saja, aku bisa kembali kesini suatu saat nanti. Kami sampai di hostel
jam 9 malam, bersamaan dengan perut kami yang kelaparan, kami membeli chicken
burger di Seven-Eleven dan menikmatinya sebelum tidur. Melelahkan,tapi
menakjubkan.



***
Seperti kemarin,
aku mengambil antrian pertama untuk mandi. Karena selain malas menunggu, aku
ingin segera membereskan barang-barang karena kami akan meninggalkan hostel
pada jam 8 pagi. Aku hanya makan sedikit rotii sebagai pengganjal perut hari
ini. Setelah semua berkumpul, kami akan mengunjungi sebuah mental terapi yang
bernama Club Heal,di Bukit Batok East. Mungkin akan mebosankan pikirku,
mengingat kunjungan ini lebih tepat diagendakan untuk mahasiswa psikologi,
bukan untuk mahasiswa komunikasi seperti aku. Tapi ternyata tidak seburuk apa
yang aku pikirkan. Meskipun sedikit mengantuk, aku sangat tertarik dengan video
salah satu pasien yang mereka rawat, yang bernama Putri. Yah, meskipun agak
rancu memahaminya karena menggunakan bahasa Melayu. Disana juga kami disuguhi
cemilan-cemilan. Dan yang tak kalah menarik, pembahasan-pembahasan mengenai
psikologi seseorang beserta penyakit-penyakit seperti Skizofernia dibahas
dengan apik dan mudah kami mengerti. Jam telah menunjukan pukul 12 siang,
saatnya kami berpisah dan berfoto-foto bersama. Kami melanjutkan perjalanan ke
Clementi. Di Clementi, kami diperbolehkan berkeliling dahulu untuk berbelanja.
Tapi Aku dan ketiga temanku—Puji,Rifki,dan Habib memilih untuk menunggu di
Changi. Tapi sebelumnya, kami singgah kembali di Aljuned untuk makan siang di
Mufiz Cafe untuk yang terakhir kalinya. Aku akan rindu ini semua. Aku hanya
makan Nasi Padang dengan bermacam lauk, sedangkan mereka memilih untuk
menyantap Nasi Briyani. Karena kami diharuskan berkumpul di Changi pada jam 3
sore, kami segera menuju stasiun Aljuned dan menaiki MRT dengan tujuan Changi
Airport. Sesampainya disana, aku mengembalikan STP card dan mendapat refund
sebesar $10 meski sempat bingung dimana letak ticket office karena Changi yang begitu luas ini. Kamipun Check in di counter Lion Air, tapi pesawat yang akan aku dan yang lain naiki yang
seharusnya flight pukul 20.00 delay hingga pukul 21.00. Sementara menunggu, aku
dan teman-teman turun ke foodcourt untuk makan. Aku membeli ayam penyet seharga
$3,80 yang cukup mengenyangkan. Sehabis makan, kami menuju ke ruang tunggu yang
terletak sangat jauh. Kamipun menggunakan Skytrain untuk sampai ke ruang tunggu
kami. Sesampainya di Gate yang telah ditentukan, kami kembali disuguhi
fasilitas bandara yang amat sangat membuat kita merasa dimanja. Sofa, tempat
bermain anak, televisi, hingga beberapa komputer dengan free accsess internet
tersedia untuk kita gunakan. Terlihat betapa Singapura sangat memanjakan para
turis yang berkunjung ke Singapura. Betapa usaha untuk meningkatkan pariwisata
dan perdagangannya terkelola dengan sangat qw baik. Semua yang indah,disuguhkan
dengan indah. Tak henti-hentinya Singapura membuatku takjub, dan membuatku
tertarik untuk datang kesini lagi suatu saat nanti. Bagaimana dengan anda?
Tertarik ? J