“PENGAMATAN VISUAL TERHADAP IKLAN POLITIK PILKADA SUMBAWA 2015”

Rabu, 13 Januari 2016

Beberapa bulan yang lalu 260 kabupaten di Indonesia sedang mengalami euforia Pilkada serentak tahun 2015, tak terkecuali Kabupaten Sumbawa. Pilkada yang berlangsung secara serentak pada 9 Desember itu tentunya menjadi ajang penentuan siapa yang akan menempati posisi EA 1. Dan untuk terpilih dan menempati posisi tersebut, dibutuhkan banyak usaha dari para pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati  di Sumbawa untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat, misalnya adalah melakukan kampanye dan memasang iklan luar ruang. Namun, seperti yang kita tahu, untuk melakukan kampanye seperti dialog di ruang terbuka, debat calon, semuanya diatur dan dijadwalkan oleh KPU, sehingga kurang efektif dari segi waktu. Selain itu, kampanye akan berdampak langsung hanya pada orang yang mendatangi kampanye tersebut, sehingga orang-orang yang tidak tahu atau tidak mengikuti kampanye tidak akan tahu mengenai pasangan calon bupati tersebut.

Berbeda dengan kampanye, iklan memiliki efektivitas lebih tinggi dibanding kampanye dialog atau tatap muka. Iklan yang saya maksud disini adalah iklan politik yang berupa spanduk, billboard, baliho, poster, umbul-umbul, dan iklan cetak lainnya yang dapat digunakan di ruang publik. Mengapa lebih efektif ? Karena iklan cetak yang memuat konten-konten visual seperti foto, nomor urut, jargon dan pesan dari pasangan calon bupati tersebut dapat dilihat secara leluasa oleh publik (baik pendukung paslon ataupun yang bukan), pesan yang disampaikan akan bertahan lama (karena dilihat berulang kali), dan tentunya menjadi sarana yang amat baik bagi pasangan calon untuk memperlihatkan citra diri dan karakter mereka.

Pada saat tahap awal KPU melaunching Pilkada 2015 di Sumbawa, yaitu pasangan calon belum mendaftar bahkan belum memiliki pasangan, iklan politik orang yang mencalonkan diri sudah banyak bertebaran di daerah Sumbawa. Dan pada waktu itu, mayoritas yang saya lihat adalah iklan visual luar ruang dari Pak Saat Abdullah dan Pak Jack Morsa Abdullah. Menurut pengamatan saya, iklan visual yang tampak pada baliho di belokan Perusda atau poster di pohon-pohon jalan di Lempeh milik Pak Saat Abdullah menunjukan karakter beliau yang tegas. Background merah yang digunakan serta pengambilan foto dengan raut muka yang tegas mempertajam hal itu. Tidak banyak kata yang tertera disana, hanya nama dan sedikit kata. Dan mungkin ini menunjukan  visi dan misi beliau yang lebih banyak bekerja dibanding bicara. Bertolak belakang dengan baliho dan poster Jack Morsa Abdullah yang saya lihat di depan Pasar Seketeng dan di simpangan Boak. Yang saya tangkap dari iklan visual tersebut adalah karakter ramah-tegas-patriot yang terlihat dari gestur tubuhnya didalam iklan tersebut. Pemilihan warna putih juga mungkin menunjukan kenetralannya, atau mungkin ingin menunjukan “bersih” nya dalam berpolitik. Hal-hal tersebutlah yang dapat saya simpulkan dari iklan luar ruang yang nampak saat tahap awal pilkada 2015.

Akan tetapi, memasuki tahap dimana pasangan calon dan nomor urutnya telah terbentuk dan iklan luar ruang sebagai alat peraga kampanye sudah boleh digunakan, KPU mempunyai aturan berbeda  dari pilkada sebelumnya yaitu segala alat peraga kampanye dan titik peletakan alat peraga dibuat dan ditentukan oleh KPU. Sehingga menurut apa yang saya amati, baliho ataupun spanduk, ataupun iklan lain yang tersebar memiliki rupa dan konsep yang sama antara paslon satu dengan paslon lainnya. Yaitu dengan latar bendera merah putih, jargon paslon, dan nomor urut serta nama pasangan calon. Yang membedakan adalah pakaian yang digunakan oleh paslon. Paslon urut 1 menggunakan pakaian serba putih, paslon urut 2 menggunakan setelan jas dan dasi hitam, sementara paslon urut 3 menggunakan kemeja panjang berwarna merah muda dengan motif istana dalam loka. Dan lagi mungkin tujuannya adalah menunjukan karakter dari pasangan calon tersebut.

Meskipun aturan titik pemasangan atribut kampanye sudah ditentukan oleh KPU, masih saja banyak orang yang memasang iklan politik secara sembarangan misalnya memaku iklan di pohon, memasang baliho dan menancapkannya di ruang terbuka hijau, bahkan memasangnya dari tiang listrik satu ke tiang listrik lainnya. Hal ini membuat banyaknya iklan visual yang justru mengganggu keindahan Sumbawa. Menurut sumber yang saya baca, orang-orang menyebut ini sebagai “Sampah Visual”. Peletakan iklan visual di ruang publik memang diperbolehkan, tetapi jelas dengan aturan yang berlaku dan tidak sembarangan. Para simpatisan atau bahkan para tim sukses dari paslon bahkan berlomba-lomba meletakkan poster di pohon. Saya pernah melihat, di bundaran adipura depan Rumah Sakit Umum Sumbawa ditempelkan spanduk yang besar dari salah satu paslon. Selain menutupi dan mengganggu keindhaan, spanduk yang dipasang juga illegal alias tidak dari KPU. Di Bukit Permai, saya juga pernah melihat baliho salah satu paslon yang dibuat menggunakan kayu, dan ditancapkan di lapangan tempat anak-anak bermain bola. Dan baliho itu, sudah rusak karena tengahnya robek lumayan besar, dan menjadi tidak berfungsi. Kita bisa mengganggap bahwa iklan visual ini telah rusak dan mengganggu pandangan dan juga dapat membahayakan anak-anak yang bermain disekitarnya jika baliho itu terjatuh.

Peletakan iklan-iklan politik di tempat yang tidak semestinya ini harusnya ditindak secara tegas karena mengganggu keindahan kota Sumbawa. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah dan masyarakat (termasuk simpatisan atau timses paslon) mengenai pentingnya kesadaran untuk mematuhi aturan yang berlaku untuk kepentingan semua orang, mengingat pemerintah telah menyediakan ruang publik yang mana saja yang boleh digunakan. Dan menurut pengamatan saya, pemerintah Sumbawa, beserta KPU dan Panwaslu telah bekerja sangat baik di Pilkada 2015 ini. Karena beberapa waktu lalu, saat minggu tenang memasuki 9 Desember, sempat masih ada paslon yang masih memasang iklan visual kampanye nya sementara KPU sudah melarang. KPU dan Panwaslu bertindak tegas sehingga setelah itu Sumbawa benar-benar bersih dari iklan visual pilkada 2015 yang lalu. Sehingga, saat ini iklan politik yang dapat kita lihat di Sumbawa adalah baliho atau billboard dari Husni-Mo paslon nomor urut 3, yang menyatakan terima kasih atas terpilihnya mereka dan permintaan untuk dikawal oleh masyarakat sebagai Bupati da Wakil Bupati Sumbawa nantinya. Iklan visual tersebut dapat kita lihat di baliho di belokan Jalan Hijrah dan di billboard jembatan penyebrangan yang telah disediakan pemerintah. Dan yang menarik menurut saya, salah satu iklan visual Husni-Mo yang menggunakan Line art sebagai pengganti foto mereka sangat menarik mata kami khususnya anak-anak muda di Sumbawa. Penggunaan line art ,meanambah cantiknya iklan tersebut dan tidak memuat kami merasa bosan dengan gaya iklan visual yang “itu-itu saja”. Dan juga karena letak iklan visual yang meraka gunakan memang pada tempat yang semestinya. Dan saya berharap, semoga perkara sampah visual di daerah Sumbawa dan di daerah lain dapat diselesaikan dengan tindakan tegas pemerintah dan penyebaran informasi mengenai iklan visual dan ruang pubik yang bermanfaat. 

“ANALISA PROGRAM MATA NAJWA DI METRO TV”

Televisi merupakan salah satu media massa sebagai penyalur informasi dan hiburan. Televisi  merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi masyarakat di era moderen seperti ini. Selain sebagai sarana penyampaian informasi, edukasi, dan hiburan, televisi juga bahkan digunakan sebagai propaganda dalam politik. Banyak sekali jenis program acara yang ditawarkan televisi, salah satunya yang saya sukai adalah Program talk show “Mata Najwa” yang disiarkan di Metro Tv. Sebagai salah satu televisi nasional di Indonesia yang memiliki mayoritas program berbentuk informai dan edukasi dan minim hiburan, talk show Mata Najwa merupakan program yang menjadi gebrakan yang baik untuk metro tv.  Segmentasi pemirsa yang cenderung berasal dari kalangan atas, membuat Mata Najwa menjadi salah satu tayangan edukasi yang elegan dan bermanfaat bagi para penggiat infomasi dan politik.
Mata Najwa merupakan talk show yang pertama kali disiarkan pada 25 November 2009 dan dibawakan oleh seorang jurnalis senior di Metro Tv, yaitu Najwa Shihab. Najwa Shihab yang notabenenya adalah anchor dari program berita lain di Metro tv, mendapat tantangan untuk membawakan program menggunakan namanya sendiri, dan menciptakan karakter di dalam sebuah program sebagai identitas program tersebut. Program tersebut mengangkat isu-isu terkait dengan fenomena sosial, budaya, ekonomi dan politik yang sedang hangat diperbincangkan di tengah masyarakat dengan menghadirkan beberapa narasumber untuk diwawancarai pendapatnya mengenai kasus tertentu. Sejumlah narasumber yang pernah hadir di Mata Najwa, diantaranya adalah BJ Habibie,  Jusuf Kalla, Menteri BUMN Dahlan Iskan, dan Joko Widodo semasa masih menjadi gubernur DKI Jakarta. Dan program ini sudah banyak mendapatkan berbagai penghargaan dan award dari dalam bahkan luar negeri. Menurut saya, hal ini membuktikan kredibilitas acara ini tidak diragukan lagi.
Mata Najwa yang ditayangkan setiap Rabu, dari jam 8 malam hingga setengah sepuluh malam ini dianggap telah sukses dalam menayangkan setiap episodenya. Hal ini dikarenakan karakter Najwa yang dibawakan pada program ini menjadi menarik untuk disimak, misalnya sikap dan tampilan yang elegan dari Najwa, kelugasan, sikap kritis, cara bicara yang cepat,dan  tajam dalam mengulik informasi dari narasumber  membuat kita akan betah berlama-lama untuk diam di depan televisi dan menyimak tayangan tersebut. Tapi kesuksesan acara tersebut tidak hanya dari karakter acara yang dibawakan oleh Najwa, tapi juga dari pengemasan acara yang dinamis dan dibuat sesuai dengan topik yang sedang hangat diperbincangkan di masyarakat. Karena hal itulah, Mata Najwa mampu bertahan menghadapi persaingan dari program acara sejenis yang bahkan diikuti oleh televisi-televisi lain. 
            Selain itu, alasan saya menyukai program Mata Najwa adalah bagaimana Najwa membawakan berita politik yang berat menjadi ringan untuk dibahas. Sebagai orang yang tergolong anak muda, minat saya terhadap berita atau politik  atau talkshow politik tidaklah begitu tinggi dibanding minat saya acara atau program tv hiburan lainnya. Misalnya saja program acara talkshow pada pagi hari di TV One atau semacam Indonesia Lawyer Club. Mata Najwa berbeda karena karakter dari Najwa sebagai prsenter dan pemandu acara amat sangat ditonjolkan. Menurut saya sendiri, Najwa adalah jurnalis senior yang sangat menginspirasi dan membuat saya tertarik dan membuat saya lebih melek terhadap politik. Apalagi, saat sesi talkshow dengan narasumber, terkadang Najwa Shihab dengan amat spontan bertanya dan membuat nrasumber menjadi salah tingkah.
            Namun seperti yang kita tahu, televisi juga dapat dijadikan propaganda politik oleh tangan-tangan penguasa kita.  Sering kali program acara seperti ini bahkan dianulir sebagai sarana pembentuk opini publik yang sangat besar kekuatannya. Apalagi dengan jumlah penonton yang tergolong banyak, Mata Najwa menjadi alat propaganda poltik yang pas jika ada “idealisme” lain yang ikut campur didalam talkshow tersebut—selain idealisme untuk sarana edukasi tentunya. Bahkan, saya pernah berpikir saat Pemilihan Presiden tahun lalu, bagaimana acara Mata Najwa memilih perspektif untuk diangkat. Mengingat saat itu Metro tv dan Tv One sedang mengalami perang media yang sama-sama memegang kuat idealis pemiliknya, yaitu Surya Paloh dan Abu Rizal Bakri.  Apakah acara Mata Najwa akan ikut menjadi media dengan tuntutan idealisme pemiliknya ? Ternyata tidak. Hal itu membuat saya lega. Karena saat itu, Mata Najwa menghadirkan berbagai narasumber dari dua kubu dan sama-sama seimbang tanpa memojokan satu pihak. Lagi-lagi ini membuktikan bahwa kredibilitas  Mata Najwa dapat diacungi jempol. Karena pada saat yang sama,saat euforia pemilihan presiden,  program acara di televisi lain hanya akan menghadirkan narasumber dari satu pihak saja atau kadang narasumber dari kedua pihak tapi dialog yang dibuat akan memojokkan pihak yang satunya saja. Dan saya berharap, semoga saja Mata Najwa akan terus mengedepankan misinya, sebagai sarana edukasi dan alat untuk membuat masyarakat sadar akan politik tidak digunakan tangan penguasa nakal untuk melakukan propaganda politik. Saya rasa mungkin setiap orang akan memiliki pandangan yang berbeda, tetapi seperti yang saya jelaskan diatas, itulah beberapa hal yang mebuat saya menyukai program acara Mata Najwa. Dan semoga program acara tv lain akan ikut mempertimbangkan kredibilitas dan membawa amanat dan sudut pandang rakyat dalam mengupas masalah politik yang ada dan tidak terlalu keras menganut idealisme pemiliknya. Sekian.


“Transparansi dan Kerja Cerdas, Kunci Kepercayaan Publik Terhadap KPU dan Panwaslu”

Pada 9 Desember lalu, Sumbawa juga ikut melaksanakan Pilkada untuk memilih Bupati dan Calon Bupati Sumbawa periode selanjutnya. Pada hari itu rakyat berbondong-bondong berpartisipasi untuk  menyukseskan Pilkada serentak tersebut. Akan tetapi, berlangsungnya Pilkada yang aman dan tertib tersebut tidak lepas dari peran Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu)  yang telah melakukan tugas dan fungsinya dengan baik. Kedua lembaga tersebut memang memiliki tugas dan fungsi yang berbeda, tapi pada dasarnya kedua lembaga tersebut memilik satu tujuan yaitu menciptakan Pilkada yang “luberjurdil” seperti keinginan semua orang. Meski demikian, untuk mencapai tujuan tersebut tidaklah mudah, diperlukan banyak sekali usaha dari KPU dan Panwaslu sendiri.

Panitia Pengawas Pemilu atau yang biasa kita kenal dengan Panwaslu, adalah orang-orang yang dipilih oleh Badan Pengawas Pemilu untuk mengawasi pelaksanaan pemilu. Jalannya pemilu yang diawasi panwaslu bukan hanya dari segi pelaksanaan pemilu, tapi juga pra dan pasca pemilu dan juga mengawasi  para kandidat, para pemilih, kpu, dan juga tim sukses penyelenggara kampanye. Panwaslu menekankan bahwa panwaslu dalah lembaga yang berdiri sendiri, sehingga tidak akan ada keberpihakkan pada salah satu kandidat yang ada. Ketidakberpihakan tersebut dijamin pada saat mereka terpilih menjadi panitia pengawas pemilu. Ketua Panwaslu Kabupaten Sumbawa, Mahyuddin Soud,S.Pd mengatakan bahwa selain jaminan dan sumpah saat mereka terpilih, transparansi dalam mengawasi pelaksanaan pemilu menjadi syarat utama mereka dalam melaksanaan tugas dan mengusut pelanggaran dalam pemilu. Misalnya pada saat ada perkara dugaan black campaign, ada perkara mengenai pemilih, Panwaslu haruslah objektif dalam mengusut perkara yang ada. Sehingga, dengan adanya transparansi tersebut, kepercayaan publik terhadap kinerja Panwaslu menjadi baik. Hal itulah yang membuat panwaslu dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, dapat kita lihat dari berjalannya pemilu di Kabupaten Sumbawa yang aman, tertib, dan juga perkara-perkara mengenai pelanggaran pemilu dapat diselesaikan tanpa menimbulkan perkara yang lebih besar.

Tidak jauh berbeda dengan panwaslu, KPU sebagai komisi atau badan yang menyelenggarakan pemilu, KPU juga tidak boleh berpihak kepada siapapun. KPU memiliki tugas menyelenggarakan pemilu, melakukan sosialisasi, menerima pendaftaran calon kandidat, dan lain sebagainya. Dalam lembaga KPU, rentan sekali adanya pandangan negatif terhadap KPU sendiri, karena terkadang akan tetap ada sebagian orang yang tidak mempercayai KPU. Hal itu, diungkapkan oleh ketua KPU Kabupaten Sumbawa, Syukri Rahmat, S.Ag, bahwasanya yang dapat dilakukan KPU adalah tetap menjalankan fungsinya sesuai dengan apa yang ditugaskan kepada mereka. Sebisa mungkin KPU melaksanakan semua hal tanpa melakukan penyimpangan, sehingga publik akan mengetahui dengan sendirinya mengenai kinerja KPU.

Kerja cerdas adalah kunci untuk menggaet kepercayaan publik terhadap KPU. Selain itu, transparansi dalam KPU juga sangatlah dijunjung tinggi, terbukti dari pengelolaan informasi di website KPU dan juga apikasi-aplikasi online yang dibuat oleh KPU sebagai media penyampaian infomasi yang dapat di akses oleh masyarakat, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Kepala Sub Teknis Penyelenggaraan Pemilu, Pak Ismail Mude. Bahkan, KPU sudah banyak membuat produk untuk sosialisasi pemilu dan KPU seperti buku, Lomba jingle KPU, dan lain sebagainya. KPU berusaha memelihara kepercayaan publik dengan sangat baik, mengingat bahwa kepercayaan adalah sesuatu yang susah untuk didapatkan. Misalnya seperti kasus di KPU Jember tahun 2014 lalu yang terbukti melakukan kesalahan, masyarakat Jemberpun  mengalami krisi kepercayaan terhadap lembaga KPU disana. Ketua KPU Kabupaten Sumbawa mengatakan bahwa jika ada kasus atau perbuatan yang menyimpang terjadi di KPU Sumbawa,  maka KPU akan menindak tegas hal tersebut, memecat pelaku penyimpangan, melakukan konfrensi kepada masyarakat dan bersedia memperbaiki kinerja KPU agar menjadi lebih baik. Maka dari itu, saya menyimpulkan bahwa transparansi dan kerja cerdas oleh KPU dan Panwaslu menjadi kunci mendapatkan kepercayaan publik dalam melaksanakan pemilukada. (Arini/Fikom).



Explore Singapore : My Wonderful Trip—Goes To Singapore

Sabtu, 09 Januari 2016

Ruang berkaca itu menampakan puluhan manusia yang sedang duduk di dalamnya. Ada yang sedang berbicara dengan temannya, ada yang berbicara dengan telpon genggamnya, ada yang sedang menikmati cemilan, ada juga yang sedang sibuk dan bingung mengisi kartu keberangkatannya—aku salah satunya. Ini kali pertama aku melakukan penerbangan internasional. Tentunya pun ini pertama kalinya pasporku mendapat cap dari petugas imigrasi. Penerbangan ke Singapura bersama rombongan mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa dan para peserta Gong Traveling lainnya ini akan boarding pada pukul 10.30 dengan pesawat Lion Air JT 0154. Berhubung kami harus boarding lima menit lagi, aku berhenti mengisi kartu keberangkatan dan mulai mengecek barang yang akan kami bawa ke pesawat. Paspor, boarding pass, tas yang akan dimasukan ke kabin, dan juga dompet beserta isinya, and just for information,kita dilarang membawa air atau benda yang berbentuk cair seperti minuman dan parfum lebih dari 100 ml kedalam kabin pesawat. Dan tak lupa sebelum check in tadi, aku dan rombongan telah menukar pundi-pundi rupiah kami menjadi dolar Singapura.
Aku mendapat tempat duduk di seat 8b. Seperti biasa, semesta kembali berkonspirasi—memaksa bibir mengucap syukur, membuatku terpekur. Aku berada di atas awan. Di bawahku hanya ada hamparan warna biru-putih yang menyejukkan-menenangkan. Tak terasa 1 jam 21 menit terlewat dan pesawat akan landing di Changi Airport

di Welcome-wall Chagi Airport.



Yap, Changi ! Bandara Internasional yang di nobatkan sebagai bandara terbaik di dunia pada tahun 2015 untuk yang ketiga kalinya ini membuat aku dan semuanya terpukau. Begitu selesai melalui tahap imigrasi dan mengambil peta Singapore, tak lupa aku mengabadikan moment penting ini.  Setelah itu, aku dan rombongan yang lain berkumpul di sebelah ticket office. Kami akan membeli tiket STP (Singapore Tourist Pass) seharga 30 dollar Singapura yang akan kami gunakan untuk menaiki MRT. MRT adalah transportasi utama yang digunakan secara mass untuk tertib al oleh penduduk Singapura. Untuk menaiki MRT ini, kita dapat menggunakan standart ticket yang dibeli di mesin tiket, atau menggunakan EZ-Link kartu yang dapat diisi ulang jika saldonya habis. Tapi untuk kami yang melancong ke Singapura hanya 3 hari, dapat menggunakan STP 3 day pass tersebut. Dan jika kartu itu dikembalikan, maka akan ada refund sebesar 10 dollar sebagai deposit kartu tersebut. Nah, setelah itu akupun menuju stasiun MRT di Changi, men-tap kartu STP ke mesin yang ada lalu menuju ke stasiun Tanah Merah untuk berganti kereta ke tujuan Aljuned. Dan saat mengantri kereta yang datang, mereka benar-benar memenuhi tata tertib yang berlaku. Mengantri dan mendahulukan orang yang keluar dari kereta. Didalam keretapun sangat kentara betapa penumpang menghargai orang-orang yang di “prioritaskan”. Mereka akan memberikan tempat duduk lebih dahulu kepada orang lanjut usia, difabel, ibu hamil, dan orang tua yang membawa anak mereka. Di dalam MRT pun tidak boleh  makan, minum, merokok, dan membawa gas yang mudah terbakar, karena jika dilanggar, akan mendapat denda sekitar 500-5000 dolar, kira-kira lima juta sampai lima puluh juta rupiah. Pantas saja negara ini disebut negara denda. Setelah hampir sepuluh menit, kami sampai di stasiun Aljuned. Kami turun ke lantai bawah dan men-tap kembali kartu kami. Kami diarahkan untuk berkumpul di lapangan. Di pinggir lapangan, terlihat sepeda yang bagus sampai sepeda butut berbaris rapi di bawah Sign yang bertuliskan Park Here. Di sampingnya, ada sebuah pohon besar yang rindang yang kemudian menjadi tempat kami berkumpul.

Parkiran Sepeda di dekat stasiun Al-juned

di dalam MRT (Mass Rapid Transportation)


Tak terasa perutku mulai bernyanyi—meneriakan rasa lapar yang semakin menjadi-jadi. Jarum jam sudah menunjukan pukul setengah empat sore dan kami bahkan belum makan siang. Aku dan teman-temanpun bergegas ke Mufiz cafe.Mufiz cafe—tempat makan yang menyediakan muslim food yang berada di  daerah Geylang ini cukup ramai didatangi pengunjung. Dan rata-rata, pengunjungnya adalah orang Melayu dan orang India. Disini memesan makanan pun cukup mudah karena semua pelayannya merupakan orang India dan menggunakan bahasa Melayu. Akupun memesan Nasi Briyani dengan lauk daging kambing seharga $6 dan ice lemon tea seharga $1,8. Satu porsi nasi Briyani ini sungguh membuat perut kenyang. Jika ingin makan disini, harga makanan yang ditawarkan berkisar antara $3 sampai $6. Dijamin kenyang dan halal, meskipun cukup menguras kantong mahasiswa seperti kami.  Memang makanan di Singapura jauh lebih mahal daripada di Indonesia, itu dikarenakan lahan di Singapura yang tidak begitu luas membuat sumber daya alam di negara ini sangat terbatas. Sehingga negara ini perlu meng-impor bahan pangan dari negara-negara tetangga. Hal itulah yang membuat makanan dan biaya hidup di Singapura sangat tinggi sampai membuat Singapura berada pada peringkat pertama negara kota termahal di dunia. Di Singapura, disarankan untuk membawa botol kosong. Karena disini air kemasan sangat mahal, kita dapat menggunakan botol kosong untuk menampung air. Setelah puas makan di Mufiz cafe, aku dan yang lain melanjutkan perjalanan ke hostel tempat kami menginap. Kami segera check in di WOW Hostel 67B 98SG di Lorong 27 Geylang ini. Hostel ini cocok untuk para backpacker yang ingin menginap dengan murah meriah di Singapura. Dalam satu kamar terdapat ranjang tingkat yang dapat ditempati oleh 4 sampai 6 orang beserta loker. Hostel kami bahkan dilengkapi dengan AC, air panas untuk menyeduh, dan empat kamar mandi yang dipakai bersama. Kamipun segera mandi dan beristirahat sejenak sebelum memulai kembali perjalan kami.



Mufiz Cafe

***  
Sore menjelang petang, kami disuguhi oleh pemandangan kampung yang masih bernuansa klasik dan terkesan jadul. Namanya Kampong Glam, tapi banyak yang menyebutnya Kampong Arab karena sebagian besar penduduknya merupakan Melayu-India muslim. Disana terdapat dinding batu yang dilukis dengan bermacam gambar. Selain nuansanya yang bersifat klasik dan historis, disini juga terdapat Masjid Sultan yang merupakan masjid tertua di Singapura dan satu-satunya masjid yang boleh menggunakan pengeras suara disini. Pemerintah mengambil kebijakan tersebut untuk menghargai penduduk lain yang non muslim. Mengingat bahwa 77% penduduk Singapura adalah etnis China, 14% Melayu dan 7%ya adalah orang India. Tapi sayang aku tak dapat menikmati pesona masjid yang historis ini dikarenakan Masjid Sultan ini sedang dilakukan perawatan. Meskipun Masjid Sultan tetap dirawat tiap tahunnya, tak ada satupun dari struktur dari masjid yang boleh dirubah. Sama halnya seperti semua rumah yang ada di Kampong Glam, pemerintah tidak memperbolehkan mereka merubah eksterior rumah yang mereka tempati karena itu merupakan salah satu tampilan wisata yang dapat dijual kepada para turis yang datang. Di Kampong Glam terdapat banyak toko souvenir dengan harga murah meriah, dri harga 50 cent sampai $5 dapat kita temukan di sini. Selesai magrib, kami melanjutkan perjalanan ke China Town dengan menaiki MRT. China Town—seperti namanya, wilayah ini merupakan pemukiman orang Cina. Disana terdapat banyak sekali tempat belanja seperti Kampong Glam, tetapi ada stand-stand yang khusus menjual souvenir Cina. Jika berjalan sedikit ke ujung, kita akan melewati banyak stand penjual makanan, souvenir, sampai peramal dan penjual hewan-hewan yang katanya membawa hoki. Jika sampai di ujung, kita akan melihat sebuah Temple yang sangat arsitektural. Sebuah pemandangan yang menakjubkan apalagi ditambah dengan gemerlapnya cahaya lampu yang menambah indahnya pesona temple itu dimalam hari. Puas berjalan-jalan, kamipun kembali ke hostel pada pukul 10 kurang. Aku langsung merebah lelah di ranjangku, menyalakan AC dan mulai menutup mata. Lumayan, perjalanannya indah.
***
Dingin menyeruak di dalam kamar. Padahal AC sudah ku atur sampai menunjuk angka 25 derajat celsius, tapi dinginnya membuatku meggigil. Jam sudah menunjukan pukul 5 kurang. Akupun segera bangun dan langsung mandi. Aku mandi lebih cepat karena takut mengantri terlalu lama. Sehabis mandidan bersiap-siap, kami diberi waktu untuk sarapan lalu berkumpul di lapangan Aljuned sebelum jam 9. Pagi ini aku sarapan dengan noodle cup yang aku beli di Seven-Eleven. Dan sama sekali tidak mengenyangkan. Setelah sarapan, aku segera menyusul ke lapangan Aljuned. Tujuan kami hari ini adalah Nanyang Technological University ! Aku dan teman-teman memulai perjalanan dari MRT Aljuned menuju ke Jurong. Saat melihat map di stasiun, stasiun Jurong akan ditempuh melalui 14 stasiun yang tentunya akan memakan waktu sangat lama. Hampir sekitar 45 menit kami habiskan di dalam MRT hingga sampai ke Jurong lalu bertukar kereta untuk sampai ke stasiun Bukit Batok. Sesampainya di Bukit Batok, kami menaiki bus tingkat untuk pergi ke Nanyang. Untuk membayar bus, kita hanya perlu men-tap STP ke mesin yang ada di pintu masuk lalu men-tap kembali saat keluar melalu mesin yang ada di pintu keluar bus. Kami pun menikmati pemandangan yang dsuguhkan kepada kami. Jalanan tanpa macet, pohon-pohon yang tertata rapi, tata kota yang baik membuatku berpikir dan mulai membanding-bandingkannya dengan Jakarta, ibukota Indonesia. Betapa macetnya, tidak tertata, penuh dan sesak serta riuh ramainya yang berbanding terbalik dengan apa yang sedang aku lihat. Satu nilai plus lagi buat Singapura. Saat memasuki wilayah Nanyang, bus melewati bangunan yang disebut China Herritage, asrama mahasiswa NTU, dan masih banyak lagi gedung-gedung yang tertata dengan rapi disana. Kami turun di Bus Stop yang dekat dengan parkiran mobil. Aku berjalan sambil melihat-lihat, mahasiswa disini bebas memakai baju apapun yang mereka inginkan Pemandangan disini agak berbeda, jika di MRT atau di tempat-tempat lain di Singapura orang-orang akan sibuk dengan gadgetnya dan tidak memperdulikan orang lain, tetapi disini lebih manusiawi, orang-orang terlihat saling berinteraksi satu sama lainnya.
Dimsum Building—akupun berfoto ria bersama teman-teman di depan Dimsum Building ini. Bangunan ini mempunyai bentuk yang lucu dan membuat mataku agak pusing melihatnya. Aku dan yang lain segera beranjak, kami singgah untuk melihat Lee Kong Chian Lecture Theare, Nanyang Auditorium, Lee Wee Nam Library , dan berkeliling disekitar. Dan yang paling amazing adalah perpustakaannya. Yah, Lee Wee Nam Library ini sangat besar dan tertata. Benar-benar suasana perpustakaan yang seharusnya. Selain dipenuhi buku yang tersusun rapi, perpustakaan ini dilengkapi dengan wifi dan berpuluh-puluh pc yang dapat digunakan oleh mahasiswa untuk mengerjakan tuganya. Siapa yang tidak betah berlama-lama disana ?  Setelah menyadari perut kami mulai berkaraoke ria, kami diajak ke foodcourt disana. Kami membeli kartu terlebih dahulu yang digunakan untuk membayar ke stand makanan yang kita beli. Dan kartu itu seperti EZ Link card, yang dapat di top up atau isi ulang ketika kita ingin berbelanja lagi disana.

Lee Wee Nam Library, Nanyang Technological University




Dimsum Building.


Saat jam sudah menunjukan pukul 13.10 , kami segera menuju bus stop untuk menaiki bus lagi ke Bukit Batok, lanjut ke Jurong samapi ke stasiun Outarm Park. Dari Outram Park, kami berganti kereta menuju Harbour Front. Yap, tujuan selanjutnya adalah Harbour bay, Sentosa Island ! Sesampainya di Harbour Front, kami menuju Vivo City dan membeli tiket untuk menaiki mono rail ke Sentosa Island. Satu tiket pulang pergi dipatok seharga $4 untuk satu orang. Sesampainya di Sentosa Island, dari kereta kita dapat melihat pelabuhan dan kapal-kapal yang sedang berlabuh. Sesampainya di stasiun, kami langsung menuju Globe Universal Studio untuk berfoto-foto. Dan lagi-lagi semesta tak henti menunjukan keagungan pencipta-Nya. Pengalaman tak terlupakan, meskipun belum berkesempatan masuk ke USS dan bermain di wahananya. Kami beristirahat sebentar dan berkumpul sambil mendengarkan cerita Kak Arif. Harga barang-barang dn makanan di sini memang jauh lebih mahal dari biasanya karena di sini merupakan pulau wisata. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Patung Merlion di Sentosa yang sering dianggap sebagai Merlion ‘ayah’ . kami berkeliling melewati Merlion Walk, Merlion Plaza, dan juga melewati Lake of Dream. Aku sempat mencuci tanganku di Lake of Dreams tersebut, alhasil tanganku berbau seperti durian—entah kenapa. Setelahnya, kamipun kembali ke Vivo City dan melanjutkan perjalanan dari stasiun MRT harbourFront menuju ke stasiun Farrer Park di kawasan Little India. Disana aku dan teman-teman singgah untuk sholat di masjid dan berkeliling sebentar di Mustafa Center yang terkenal dengan toko-toko yang buka 24 jam dan kelengkapannya. Tapi kami hanya sebentar karena kami langsung menuju ke Merlion Park. Dari stasiun Farrer Park, kami menuju stasiun MRT Dhoby Gaut. Di stasiun Dhoby Gaut, kami harus berkeliling agak lama karena kebingungan. Disini terdapat dua interchange stasiun, tapi akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Raffless Place. Karena tujuan selanjutnya adalah Merlion Park, kami melewati pintu exit H. Kemudian jalan menuju Singapore River dan belok kanan ke arah Fullerton Hotel. Kemudian menyeberangi Fullerton Road dan turun ke jalanan di sisi sungai, di bawah jembatan Esplanade. Dan akupun merinding. Lagi-lagi, untuk kesekian kalinya. Semesta berkonspirasi memamerkan keindahannya—pesonanya. Aku mengambil beberapa foto di dekat Merlion, dan juga mengambil beberapa foto dilatarbelakangi dengan pemandangan Marina Bay dari kejauhan. Selebihnya, aku duduk di tangga dekat patung Merlion sembari mengagumi keindahan yang sedang disuguhkan semesta,Singapura malam hari. Dari tempat kami duduk, terlihat dari kejauhan Gedung Esplanade, Singapore Flyer, Marina Bay Sands, Helix Bridge, sampai art science museum terlihat menggoda untuk dikunjungi. Tapi karena waktu semakin malam, kamipun beranjak untuk pulang. Dan semoga saja, aku bisa kembali kesini suatu saat nanti. Kami sampai di hostel jam 9 malam, bersamaan dengan perut kami yang kelaparan, kami membeli chicken burger di Seven-Eleven dan menikmatinya sebelum tidur. Melelahkan,tapi menakjubkan.







***


Seperti kemarin, aku mengambil antrian pertama untuk mandi. Karena selain malas menunggu, aku ingin segera membereskan barang-barang karena kami akan meninggalkan hostel pada jam 8 pagi. Aku hanya makan sedikit rotii sebagai pengganjal perut hari ini. Setelah semua berkumpul, kami akan mengunjungi sebuah mental terapi yang bernama Club Heal,di Bukit Batok East. Mungkin akan mebosankan pikirku, mengingat kunjungan ini lebih tepat diagendakan untuk mahasiswa psikologi, bukan untuk mahasiswa komunikasi seperti aku. Tapi ternyata tidak seburuk apa yang aku pikirkan. Meskipun sedikit mengantuk, aku sangat tertarik dengan video salah satu pasien yang mereka rawat, yang bernama Putri. Yah, meskipun agak rancu memahaminya karena menggunakan bahasa Melayu. Disana juga kami disuguhi cemilan-cemilan. Dan yang tak kalah menarik, pembahasan-pembahasan mengenai psikologi seseorang beserta penyakit-penyakit seperti Skizofernia dibahas dengan apik dan mudah kami mengerti. Jam telah menunjukan pukul 12 siang, saatnya kami berpisah dan berfoto-foto bersama. Kami melanjutkan perjalanan ke Clementi. Di Clementi, kami diperbolehkan berkeliling dahulu untuk berbelanja. Tapi Aku dan ketiga temanku—Puji,Rifki,dan Habib memilih untuk menunggu di Changi. Tapi sebelumnya, kami singgah kembali di Aljuned untuk makan siang di Mufiz Cafe untuk yang terakhir kalinya. Aku akan rindu ini semua. Aku hanya makan Nasi Padang dengan bermacam lauk, sedangkan mereka memilih untuk menyantap Nasi Briyani. Karena kami diharuskan berkumpul di Changi pada jam 3 sore, kami segera menuju stasiun Aljuned dan menaiki MRT dengan tujuan Changi Airport. Sesampainya disana, aku mengembalikan STP card dan mendapat refund sebesar $10 meski sempat bingung dimana letak ticket office karena Changi yang begitu luas ini. Kamipun  Check in di counter Lion Air, tapi pesawat yang akan aku dan yang lain naiki yang seharusnya flight pukul 20.00 delay hingga pukul 21.00. Sementara menunggu, aku dan teman-teman turun ke foodcourt untuk makan. Aku membeli ayam penyet seharga $3,80 yang cukup mengenyangkan. Sehabis makan, kami menuju ke ruang tunggu yang terletak sangat jauh. Kamipun menggunakan Skytrain untuk sampai ke ruang tunggu kami. Sesampainya di Gate yang telah ditentukan, kami kembali disuguhi fasilitas bandara yang amat sangat membuat kita merasa dimanja. Sofa, tempat bermain anak, televisi, hingga beberapa komputer dengan free accsess internet tersedia untuk kita gunakan. Terlihat betapa Singapura sangat memanjakan para turis yang berkunjung ke Singapura. Betapa usaha untuk meningkatkan pariwisata dan perdagangannya terkelola dengan sangat qw baik. Semua yang indah,disuguhkan dengan indah. Tak henti-hentinya Singapura membuatku takjub, dan membuatku tertarik untuk datang kesini lagi suatu saat nanti. Bagaimana dengan anda? Tertarik ? J

Kebahagiaan Ina

“Ina, ayok bangun. Sudah subuh nak, ayo jamaah sama ayah.” Ditepuknya pipiku,hangat. “Bangun Ina, nanti subuhnya terlewat”, sambung ayah. “Iya ayah..”, sahutku dengan mata masih tepejam. Akupun bangun dan segera mengambil wudhu. Ngantuk sekali rasanya, dingin pula. Tapi aku tahu, kewajibanku tak boleh dilewatkan. Ayah bilang Solat itu tiang agama, kalau aku gak solat, berarti imanku gak kuat. Kulihat ayah menungguku sendirian. “Ibu mana yah ? Gak solat ?”, tanyaku. “Ibu sedang tidak bisa, ayok kita mulai sholat”. Aku mengangguk dan mulai menggunakan mukenah, dan segera solat dan diimami ayah. Ayah dan Ibu membiasakanku untuk solat sedari kecil, mengajarkanku betapa pentingnya agama dan beribadah, mengajariku membaca dan mencintai Al-Quran. Bukan, mereka bukan guru agama apalagi ustad, hanya saja mereka memang orang-orang yang taat. Tapi bukan berarti segalanya baik-baik saja. Kadang Ayah dan Ibu bertengkar karena masalah mereka, saling mendiamkan adalah senjatanya. Jika sudah seperti itu, tidak berapa lama mereka akan merasa rindu, dan baikan. Ya, secepat itu. Kadang aku tertawa meihat tingkah mereka. Meskipun aku anak tunggal, aku tak pernah sendirian. Ayah dan Ibu selalu ada untukku. Kapanpun. Dimanapun. Dan aku selalu merasa bahagia, disetiap harinya.

***
Tapi, itu dulu. Semuanya berubah, saat ujian itu datang.
Saat itu umurku menginjak 14 tahun. Dan aku sudah mulai mengenakan jilbab. Yah, meskipun aku tetap menggunakan celana saat berpergian. Kata Ibu itu tak masalah, Ibu bilang semua ada waktunya.  Aku percaya pada Ibu, suatu saat aku akan mendapat hidayah-Nya. Asalkan aku juga berusaha memperbaiki diri. Hari itu, aku mengajak ibu untuk membelikanku baju baru. Teman sekelasku mengadakan syukuran ulang tahun, dan aku mulai merasa baju-bajuku sudah mulai mengecil. Ayah juga ikut. Kami pergi bertiga malam itu, sekalian jalan-jalan kata ayah. Kami sangat senang malam itu, seperti biasa, aku selalu merasa bahagia. Ibu menyalakan radio di mobil, dan terdengar lantunan musik Seventeen- hal terindah. Hehe, aku menyukai lagunya.  Aku dan Ibu menyanyikannya bersama. Kami tertawa, bahagia. Sampai saat ada sinar lampu yang begitu terang sedang menuju mobil kami, tepat menuju mobil kami. Ayah tak sempat banting setir, dan BRAKKK!! Yang kulihat hanya cahaya terang yang menyilaukan dan suara bising yang membuat pening. Dan semua menjadi gelap.
***
Mataku bengkak. Aku tak bisa berhenti menangis. Sakit sekali rasanya. Mereka bilang Ibu pergi. Sudah pergi. Mereka bilang Ibu ada di tempat yang baik, mereka bilang aku tak perlu khawatir. Mereka mengatakan bahwa aku harus baik-baik saja,meski ibu tiada. Mereka terlalu banyak berbicara. Mereka tidak tahu ini luka apa. Ibu pergi, meninggalkanku dan Ayah. Tak seharusnya Ibu begitu. Aku tidak mau Ibu begitu. Aku merasa sangat lelah... Aku tak percaya Ibu pergi begitu saja. Ayah,kulihat ia diam saja. Tak mengeluarkan airmata. Ayah.. Ina mau ibu Ina yah.. teriakku dalam hati. Sulit sekali menerima semuanya. Aku memeluk ayah. Menangis terisak di dadanya. Ayah. Kenapa ibu pergi ? Aku masih bertanya-tanya. Sebenarnya aku tahu, ini ujian. Ini takdir Allah SWT. Tapi hanya saja begitu sulit menerima ini semua. Rasanya seperti Ibu direnggut paksa dari aku dan Ayah. Seperti kebahagiaan kami tiba-tiba menguap begitu saja. Dan menyisakan hamparan gelap yang membuat kami sesak. Kami kehilangan. Sangat kehilangan.
Dan kini.. aku jauh lebih kehilangan. Ayah lebih sering melamun. Menatap kursi Ibu di meja makan, melihat foto ibu, atau sekedar mencium wangi parfum Ibu yang tersisa di meja riasnya. Kadang aku mendengar isakan dari kamarnya. Hatiku nyeri. Hatiku jadi semakin sakit melihat ayah yang seperti ini. Kami bahkan jadi jarang berbicara. Ibu, aku juga kehilangan Ayahku bu.. Aku ingin semua kembali seperti dulu.. Kebahagiaanku. Kebahagiaan kami. Meski aku tahu ibu takkan kembali, aku percaya bahagiaku pasti kembali.
Keesokan harinya, aku masak pagi-pagi sekali. Aku memasak sop ayam kesukaan Ayah. Mungkin tak seenak ibu, tapi aku ingin Ayah kembali lagi seperti dulu. “Ayah. Ina masak nih.Sarapan samaan yuk”, ajakku pada Ayah. Ayahpun duduk di meja, beliau sudah berpakaian rapi, siap untuk berangkat kerja. “Buat sop yah Ina ? wah. Kayaknya enak nak”, senyum Ayah. Aku mengisi piring nasi ayah dan mengambilkan sop untuknya, seperti yang biasa Ibu lakukan. Ayah hanya tersenyum.. “Ini yah, makan ya. Ayah antar Ina sekolah yah, Ina malas bawa motor.”,kataku. “Iya nak”, kata Ayah. Ayah pun mulai makan. UHUK. Ayah terbatuk. “Kenapa yah, panas ? pelan dong ayah. Hehe”, tawaku. “Ina ini asin banget sopnya.. “,kata Ayah. “Masa sih yah ? Coba Ina rasa..”, aku mencicipi sop dan ueeek. Asin sekali. Hahaha.. kami berdua tertawa bersama. “Hehe, maafin Ina ya yah. Ina gatau takarannya. Tadi gak cicip juga. Maaf ya Ayah..” , sahutku. “Iya Ina, ntar sarapan diluar aja”, ayah masih tertawa. Senang melihat Ayah tertawa. Andai Ibu ada disini..
Segalanya membaik. Aku dan Ayah bersama-sama mengerjakan pekerjaan rumah, yah sekali-kali Kakak ayah, Bude Indri membantu aku dan mengajariku masak.  Ayah juga mulai membaik, meskipun murung diwajahnya dan isakan di kamarnya ku dengar sesekali. Hari-hari kami berjalan seperti biasa. Kadang kami makan diluar, atau sesekali aku mengajak temanku menginap. Kadang aku merasa kesepian. Kenangan Ibu dirumah ini juga begitu banyak, sehingga sering mengingatkanku pada Ibu. Aku hanya bisa mengiriminya doa. Dan berharap ia mengecup keningku disetiap tidur malamku.
***
“Ayaaaaah!!!!!!!!”, teriakku panik. Jam 3 pagi. Ayah berlari menaiki tangga ke kamarku. Kudengar suara kakinya begitu keras. “Ina kenapa nak ?”,tanya ayah dengan muka yang juga panik. “Ayah, Ina berdarah..”, aku bergidik ngeri memandangi kasurku yang terdapat bercak kemerahan. “Astaga.. Ayah kira apa. Sebentar.”, ayah turun dan kembali lagi ke kamarku membawa sesuatu, milik Ibu. Oh. Aku tahu sekarang.. Aku mengambilnya dan bertanya pada Ayah bagaimana cara memakainya. Ayah melenguh.. Ayah bilang tidak tahu dan menyuruhku mencarinya di google. Ayah bilang akan menungguku dibawah.
Setelah selesai, akupun turun kebawah dan duduk di depan Ayah. Kulihat matanya memerah. “Ina.. Ina sekarang sudah besar. Maafin Ayah ya Ina.. Ayah tidak becus menjaga Ibu.. Ina, seharusnya Ibu yang ada disini, bukan Ayah. Maafin Ayah nak..”, tangis Ayah pecah. Aku pun tak kuat , tangisku juga pecah. “Ayah jangan begitu.. Ina sayang sama Ayah sama Ibu.. Ayah bilang itu takdir yang di atas kan yah. Jadi kita harus ikhlas. Ina sudah ikhlas yah.. “,isakku. Ayah menangis sesenggukan. “Ayah rindu sekali sama Ibu.. Harusnya Ibu yang jagain Ina disini. Ayah tidak bisa apa-apa tanpa Ibu. Kasihan Ina harus tinggal sama Ayah..,”. Aku tidak setuju dengan kata-kata Ayah. “Ayah, Ina sayang sama kalian berdua. Siapapun yang ada sama Ina sekarang,sama Ayah.. Ina sangat bersyukur. Ayah sudah jadi ayah yang baik untuk Ina.. Ibu pasti senang disana .. Ina juga kangen Ibu yah.. Tapi ayah gak bisa terus menerus menyalahkan diri ayah. Ina sayang sama Ayah.. “, aku menangis.. Menangis hingga lelah.. Aku tahu. Sangat berat harus kehiangan orang yang amat kita sayangi. Tapi Ibu bilang, semua pasti ada waktunya. Mungkin sudah waktunya Ibu pergi. Mungkin sudah waktunya aku diuji untuk ikhlas. Aku sadar, ketetapan Allah tak ada yang dapat mengubah. Makanya, aku bersyukur masih ada Ayah. Ayah. Terima kasih. Ina sayang Ayah. Ina bahagia, selalu. Ibu pasti disana sedang senyum lihat kita. Ina percaya itu. Ina harus tetap kuat dan tabah.


***
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS