Aji, Kekasihku. - Fiksimini

Sabtu, 14 Desember 2013

Sudah pukul setengah lima subuh, dan aku sedang bersiap-siap. Aku akan pergi ke Bukit Allest, berlari menyusuri jalan menuju bukit bersama kekasihku, Aji. Aku keluar dari rumah, mengenakan kaos hitam kesukaanku. Aku pun berlari dan berlari, di sudut kanan jalan seseorang sudah menatapku dengan suguhan senyum mempesonanya. “Ayok Ji, keburu sunrise nya hilang !” ajakku.  Minggu pagiku hanya teruntuk Aji, juga dengan terbitnya mentari nanti. Dia ikut berlari di sampingku, menatap lurus ke depan. Senyumku takkan pudar, jika ada dia di sisiku. Kami melewati kali yang airnya sangat dingin, terlebih di saat subuh seperti ini. Aku jadi ingat, betapa indahnya kenangan kami dulu, dia menggendongku untuk menyusuri sungai in, agar aku tak kedinginan atau masuk angin katanya. Hingga pada akhirnya, kami sampai di Bukit Allest. Bukit yang jadi saksi cinta kami. Kami duduk di batu tempat kesayangan kami sambil menunggu matahari yang sudah mengintip malu-malu ingin keluar dari peraduannya. Aku memeluk Aji dengan erat, “dia terbit Ji,” kataku. Dia tersenyum menghadapku. Ku gunakan pundaknya tuk menumpahkan tangisku. “Aku kangen kamu Ji, kangen liat ini semua bareng kamu”, aku mulai sesenggukan. “Aku gak mau ini semua tanpa kamu Aji. Aku pengen kamu selalu sama aku, selalu buat aku, bukan Cuma minggu subuh saja.” ,isakku memohon padanya.  Aku hanya menangis sampai lelah, sampai matahari mulai meninggi dn sampai aku sadar bahwa kami harus pulang. Kami turun dari batu yang di bawahnya terukir kecil nama kami, Putry Love Aji, Aji Love Putri. Ukiran itu kami buat saat Aji menyatakan cintanya padaku dua tahun yang lalu, di tempat ini. Kami menyusuri jalan yg subuh tadi kami lewati. Kali, pohon, dan jalan setapak yang tidak berubah. Sama seperti saat terakhir kali kami melihatnya. Langkahku semakin berat saat tempat aku dan Aji harus berpisah lagi. Air mataku mulai turun lagi, aku mengantar Aji hingga sampai di makamnya. Akupun terduduk di samping makam yang batu nisannya tertulis  nama kekasihku itu, “ Denata Aji Pratama”. Aku memeluk nisannya dengan erat, “Minggu depan aku kesini lagi Aji. Tunggu yah Ji,aku sayang kamu”.  Aku pulang dan melambaikan tangan padanya yang sedang tersenyum menatap kepergianku.

Pelangi Di Hati Langit Part 7

Senin, 02 Desember 2013

Dia sedang tersenyum dan melangkahkan kaki mendekati tempatku berpijak. Dia? Masih mengenaliku?
Wajahnya tetap sama, tapi kini tingginya, semakin bertambah. sangat bertambah. "Utty?", dia mengulang lagi. Mmbuyarkan lamunanku. "eh,iyah. Apa kabar?" senyumku gugup. "baik, kenapa bisa disini?" tanyanya. "lagi nyari buku, ini.."jawabku, masih dengan gugup yang sama. "ah, iyah disini nyari buku. Maksud saya, kesini lagi liburan atau..? ". "Nggak,Nggak liburan. Aku lanjut disini." jawabku. "Saya baru tau.aja Kesini sama siapa?" tanyanya sambil celinguk ke kanan kiri ku. "Sendiri aja. Kamu? ". "sendiri juga, o yah, saya pergi dulu yah, masih ada yang harus saya cari, daah", dia tersenyum dan melambaikan tangannya sekilas. Senyumnya cukup membuat Pelangi membeku tertahan di tempat semula. Dia Nata, Denata Rangga. Laki-laki yang sempat menjadi pusat perhatian mata Pelangi selama seminggu penuh. Waktu itu yang Pelangi rasakan mungkin hanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Pelangi mengira itu hanya jatuh cinta sesaat, cinta sebatas rasa kagum. Masih terasa jelas di ingatan Pelangi degup-degup aneh yang Pelangi rasakan. Apalagi setelah Pelangi memperhatikannya terus-terusan dari kejauhan, ada debar menyejukkan saat pertama kalinya Pelangi melihat senyumnya, senyum yang hangat. Yang membuat Pelangi semakin sulit melupakan wajah Nata sampai sekarang. Bahkan setelah Pelangi sudah terikat dengan Langit, bayangan Nata selalu hadir di setiap malam yang Pelangi punya. Pelangi selalu berusaha mengusir rasa kagum yang menjadi-jadi di kepala Pelangi. Nata. Nata benar-benar membuat Pelangi merasa aneh terhadap dirinya sendiri. Pelangi masih ingat dengan jelas, bagaimana setiap hari ia mengunduh semua foto-foto Nata yang ada di facebook. Dia tak pernah lupa membuka profil Nata di facebook, walau hanya untuk melihat-lihat kabar Nata dari dunia maya. Karena di dunia nyata, Pelangi takkan pernah menjangkaunya. Pelangi bahkan tak lupa mengetikkan nama lengkap Nata di google, menelusuri hal-hal yang mungkin akan berkaitan dengan Nata.  Orang pernah bilang, kalo sukanya dalam jangka waktu 4 bulan, itu namanya naksir. Kalo lebih dari itu, tandanya itu sayang. Apa iya? Apa iya Pelangi sayang ? Dengan seseorang yang hanya sering Pelangi  tatap selama seminggu? tak pernah lebih dari itu? Pelangi kadang berpikir semua hal ini gila. Bgaimana mungkin dia menyayangi seseorang yang dengan sangat jelas takkan pernah mampu ia gapai? Ini omong kosong. Semua omong kosong.  Sampai waktu itu Langit  mulai menyentuh hidup Pelangi. Membuat Pelangi merasakan apa rasa sayang yang senyata-nyata-nya. Yang dirasakan oleh keduanya, bukan hanya salah satu dari mereka. Langit melengkapi hidup Pelangi, membuat Pelangi selalu merasa cukup bahkan ketika Langit hanya duduk tersenyum disampingnya. Sampai Pelangi sadar, bahwa setiap hembusan nafas Pelangi sama pentingnya dengan kehadiran Langit di sisinya. Dia sangat amat mencintai Langit. Meski bayangan Nata kadang membayangi dirinya. Nata  memang sudah punya tempat di hati Pelangi, di tempat yang sarat. Di tempat yang tak dapat tergantikan. Pelangi menjaganya baik-baik, meski kosong, Tempat ini milik Nata, di sudut paling dalam bagian hatinya.

"Kenapa masih disini?" tanya suara berat dihadapanku, Nata. "eh, iyah. Ini mau balik. Kamu kenapa kesini lagi?" tanyaku berbalik pada Nata. "Aku gak pergi dari toko ini sedari tadi, aku cuma nyari buku yang lain aja. Kamu? melamun?" tatapnya masih dengan senyumnya. "Mungkin, eh. Iya, maaf yah. Kalo gitu aku pergi dulu" pamitku padanya. Rasanya ingin cepat-cepat kabur dari hadapan Nata, Pelangi tak bisa menahan debar jantungnya yang berirama semakin cepat saat Nata menatapnya. Lagipula sudah terlalu sore, Langit pasti khawatir kalo Pelangi belum kembali. "Aku antar,ya?" Pelangi tak tahu, itu sebuah tawaran, ajakan, atau permintaan. Dulu Pelangi tak pernah berbincang dengan Nata, ia hanya mendengar diam-diam saat Nata berbicara dengan temannya. "Kosku dekat sini ok, gak perlu di antar Nat." tolakku halus. "Justru karena dekat itu saya anter,ndakpapa ayok." Pelangi hanya menurutinya. Mereka berjalan menuju parkiran. Pelangi dan Nata sama-sama bungkam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Di atas motorpun mereka hanya berbicara seperlunya, sampai tiba di kos Pelangi, Pelangi turun dan mengucapkan terima kasih kepada Nata. "Iya,sama-sama. Saya balik dulu,Assalamualaikum". Natapun melaju dengan MX nya. Sampai dia berlalu, dan Pelangipun masuk ke kosnya. Ternyata didalam ada Langit.

"Dengan siapa Angi?" tanyanya mendelik. "Teman lamaku dulu Langit. Teman PMR waktu ada lomba disini." jawab Pelangi sekedar. "siapa Angi?" tanyanya lagi. "Dia Nata.."

Langit hanya diam. Dia tau Nata. Langit tau siapa Nata. Laki-Laki impian Pelangi. Laki-laki yang disimpan rapi foto-fotonya oleh Pelangi. Laki-laki yang selalu Pelangi ceritakan kepadaa teman-temannya semasa sekolah dulu. Dan sekarang mereka bertemu. Nata? Mendengar Nata membuat Langit merasa aneh. Bukan, bukan rasa cemburu yang biasa ia rasakan. Ada rasa yang seperti dicabut dari dadanya secara paksa. Langit sperti diancam akan kehilangan perempuan yang dicintainya.

Kepada Ibu Bapak yang di Hatinya Ada Surga

Jumat, 29 November 2013


Teruntuk dua pasang mata, saksi atas tumbuhnya aku hingga mendewasa.
Teruntuk dua pasang lengan, penyangga saat aku kehilangan arah.
Teruntuk dua pasang kaki, penopang sendi saat jejak tak dapat berpijak. Teruntuk dua kepala, teladan saat aku tak tahu harus berbuat apa.
Kepada ibu dan bapak yang di hatinya ada surga.

Aku ingin bercerita betapa luka mengarungi hidup dalam sepi dan tiada
Tentang kegetiran melanda saat merasa lapar di tengah malam
Tentang beku tubuh saat hujan mendekap dengan dingin paling gigil
Tentang dahaga kerongkongan saat mentari menyengat dan membakar
Tentang pening yang mengetuk kepala pelan-pelan saat datang ujian demi ujian
Tentang sarapan telur mata sapi buatanmu yang tak lagi kutemui
Tentang ketiadaan genggam tangan menarik selimut untuk menghangatkan
Tentang ketiadaan teh hangat yang kau bubuhi dua sendok gula
Tentang ketiadaan senyummu saat berkata, “Nak, Engkau pasti bisa.”

Tapi bagi cinta
Segala nestapa hanya cara
Menyuruhku berbenah untuk selalu tabah
Untuk setiap bulir peluh yang jatuh
Untuk setiap rinai air mata berderai di kedua pelupuk matamu
Untuk setiap beban berat yang kau tanggung di balik punggung
Untuk setiap langkah kaki yang goyah menapak tilasi segala daya dan upaya
Untuk setiap belai manja jemarimu yang kau usap di setiap helai anak rambutku
Untuk setiap nyala semangat yang kau percik di dalam dadaku
Untuk setiap keteguhan yang kau ajarkan perlahan
Untuk setiap ketegasan yang terukir dari urat menyembul di lenganmu
Untuk setiap kesabaran yang kau tunjukkan
Untuk setiap syukur yang meninggi meski hidupmu kian lamur
Untuk setiap tangis doa yang sesenggukan di setiap malam
Untuk setiap gelak gemetar bibirmu saat berkata, “Maaf nak, sabarlah dahulu. Minggu depan uang saku akan segera kami kirimkan. Kau pinjam dulu dengan sahabatmu, nanti akan segera kami ganti. Kami sedang berusaha di rumah.”
Untuk setiap hal yang kau lakukan untuk memperjuangkan aku.
Percayalah,
Aku; anakmu
Mencintaimu dengan sungguh

Maka
Kupersembahkan untukmu;
Sebuah toga
Dari jerih dan air mata
Bukan untuk apa-apa
Selain ingin membuatmu bahagia
Saat kau berteriak bangga
Kepada siapa saja
“Perkenalkan, ini anak saya.”

Galih Hidayatullah
Depok, 22 November 2013
___________________
Puisi ini ditulis dan dibacakan untuk Wisuda 8 STEI SEBI.
Source : http://mas-aih.blogspot.ca/2013/11/kepada-ibu-bapak-yang-di-hatinya-ada_22.html

Pelangi di Hati Langit Part 6

Senin, 18 November 2013

   "Duh, Pelangi mana yah. janjinya mau sms kalo udah pulang. Hampir magrib gini kok smsnya gak masuk juga, mana nomornya gak aktif", erang Langit sambil berulang kali menelfon Pelangi. Hari sudah semakin gelap, hujan yang tadinya hanya gerimis sekarang sudah mulai terasa deras. Langit baru saja sampai di apotik, dia ingin membeli obat Pelangi yang stoknya hampir habis. Saat hendak keluar dari apotik, Langit menabrak seseorang, plastik obat yang Langit bawa jatuh tercecer di lantai. Wanita yang ditabrak Langit langsung membantu Langit mengambil obat-obat itu. "eh, Mbak Jingga? ", sapa Langit dengan muka kaget. "eh,iyah. Ini.. obat kamu? " tanya Jingga dengan raut muka takut. "iyah mbak, ada apa?" jawab Langit sembari mengulurkan tangn kepada Jingga yang masih terduduk di lantai. aneh,pikir Langit. Kenapa Jingga terlihat begitu terkejut? . "eh,hemm.. gapapa. kamu Langit kan?" tanya Jingga. "iyah Mbak,saya Langit. mbak Jingga asdos yag masuk kelas tadi kan?" senyum Langit. "Iyah.. Hehe.. Hujannya masih deras ya, kamu mau langsung pulang?" tanya Jingga. "enggak mbak, kayaknya berteduh disini dulu. Lagian kalo maksain jalan malah gak bisa liat apa yang ada didepan mata lagi.." canda Langit. "iyah yah. kalo gitu dudu disini dulu yuk. oyah, gak usah panggil Mbak, Jingga aja. Kita sama besar kok.",senyum Jingga kepada Langit. Mereka pun duduk di bangku yang tersedia di apotik tersebut. "Itu obat kamu Langit?" tanya Jingga. "eh, kenapa Ingga? ini punya pacar saya. Saya cuma beliin",jawab Langit. Raut muka Jingga terlihat tak tentu, dia sedang berpikir keras. "Pacar kamu, punya kanker?" tanya Jingga. "Iyah. Kanker Jaringan lunak. Tapi belum parah kok" Langit tersenyum pahit menjawab pertanyaan dari Jingga. "Udah berapa lama? Udah kemo? " tanya Jingga. "eh,maaf. aku banyak tanya yah?". "gapapa Ingga. Berapa lamanya aku gak tau, aku juga belum sebulan tau dia ngidap ini. Dan dia gak mau kemo. Dia bilang dia gak mau rambutnya rontok. hehe " jawab Langit. "pacarku dulu juga ngidap kanker. kanker jaringan lunak juga.". "hah? serius? terus sekarang dia dimana Ingga?" tanya Langit. "Dia meninggal 2 bulan lalu. " sahut Jingga lesu. "Maaf.saya gak tau.. saya turut berduka.." . "Gapapa Langit. Oh iyah, pacar kamu sekarang dimana?" JLEB. Raut muka Langit langsung berubah. Dia segera mencari-cari telpon genggamnya. dia lalu menelfon Pelangi. "Hpnya gak aktif. Aduh,mana hujan lagi." sungut Langit. "oh ya Langit, boleh minta nomor hp kamu?" minta Jingga. "boleh, ini.." "okey, makasih. Aku duluan yah Langit,aku bawa mobil. Kamu mau ikut?" tawar Jingga. "Gak usah Ngga,saya bawa motor kok" tolak Langit halus. "iyadeh kalo gitu. Bye". Pikiran Langit kembali pada kekhawatirannya terhadap Pelangi yang sedang tanpa kabar.

***

Ingatan Pelangi kembali kepada dua tahun lalu, tepatnya saat Pelangi liburan kenaikan kelas. Saat itu Pelangi naik ke kelas 3, dan sedang mengikuti perlombaan. Saat itu Pelangi tak mengenalnya. Yang Pelangi tahu hanya namanya, dan juga muka dinginnya. Begitu juga alis tebalnya dan juga hidungnya. Wajah tanpa senyum yang membuat Pelangi jatuh cinta. . . . Mulanya, Pelangi hanya melihatnya dari atas bus. Laki-laki dengan seragam putih abu-abu dan  almamater yang juga berwarna abu-abu itu sedang mengantri untuk menaiki bus yang akan membawa kami ke tempat tujuan kami untuk mempersentasikan karya tulis kami. Sekilas ia terlihat seperti seseorang yang Pelangi kenal.

Langit. Dia mirip Langit. Alis tebalnya, dan hidung mancungnya. Pelangi sadar itu setelah menatapnya lekat-lekat , meski dari jauh. Saat dia maju untuk memulai persentasi, mata Pelangi tak lepas dari sosoknya. Dia menjelaskan dengan detail, rinci, atau apapun sebutannya. Dia terlihat sangat mengerti dengan apa yang sedang ia jelaskan. Calon juara, batin Pelangi. Dan setelah lama memandangnya, ternyata dia tidak sama dengan Langit.  Tak seramah Langit, tak sehangat senyuman yang dimiliki Langit. 
Hari itu sudah mulai menjelang sore. Masih ada beberapa kelompok yang belum maju. Kami makan siang disana. Akan tetapi, dua anggota kelompok Pelangi sudah balik ke tenda terlebih dahulu. Ada yang akan mengikutii lomba lain, dan yang seorang lagi sudah balik karena pingsan. Yang tersisa hanya Pelangi dan kedua adik kelas Pelangi. Jenuh sekali berada diruangan itu, Pelangipun keluar untuk menghirup udara segar.  Dan Pelangi melihatnya lagi,laki-laki itu. Pelangi tak tahu namanya,belum tahu tepatnya. Dia sedang duduk di depan bersama seorang temannya, yang juga tak Pelangi tahu namanya. Pelangi lekas berbalik kembali ke ruangan lomba. Hingga tiba saatnya kami pulang, bus yang kami tunggu tak kunjung datang. Supirnya tidak bisa dihubungi. Alhasil, kami kembali ke tenda menaiki mobil pick-up.  Disana, di atas mobil itu, dia duduk tepat di depan Pelangi. Menutupi mukanya dengan kedua tangannya. Pelangi mulai suka melihatnya, menatapnya dalam-dalam, walaupun dari jauh. Pelangi mulai suka memperhatikannya dengan detail. Raut wajahnya, senyum datarnya. Semua itu terekam dengan baik di ingatan Pelangi. Waktu itu dia memakai baju lengan panjang berwarna hitam dengan garis-garis hijau. Pelangi baru selesai mandi di kamar mandi masjid. MatPelangi terpPelangi pada seseorang yang sedang berdiri menghadap kiblat, laki-laki yang sedang shalat itu. Laki-laki yang tak Pelangi tahu namanya itu. Dan disini, di dada ini, ada degup-degup aneh yang dulu pernah Pelangi rasakan. Falling in Love at first sight? Mungkin, bisa jadi.  Dan laki-laki itu sekarang berada tepat di hadapan Pelangi.

***

Pelangi di Hati Langit Part 5

Jumat, 08 November 2013

"Langit,kita dimana?" tanyaku. Tanganku basah, mata Langit juga terlihat basah. Matanya sembap. sekhawatir itukah Langit?  ah. dimana Kak Izzi.  Hatiku kalut. Apa Langit sudah mengetahuinya? mengetahui bahwa aku menyembunyikan penyakit ini? Aku takut Tuhan. Aku takut Langit terbebani dan justru mengasihaniku. aku takut dia terikat denganku karena penyakit yang ku derita, bukan karena menyayangiku dengan ketulusan. aku takut.

"Sudahlah Pelangi. Harusnya gak ada yang kamu sembunyiin dari aku. gimana aku mau jaga kamu, kalo kamunya gakmau aku jaga." seru Langit sedikit sesenggukan. "Harusnya kamu sadar, harusnya kamu ngeh. aku disini buat kamu Angi, buat kamu. kalo aja kamu bilang, kamu ceritakan ini lebih dulu, aku ga bakal biarin kamu ikut aku kesini, aku ga bakal bikin kamu capek." ucap Langit memandangku. "kamu harus sembuh Angi, harus sembuh yah.janji yah" pintanya dengan memelas. Aku hanya tersenyum. bibirku tak mampu berucap. aku lelah, aku mau tidur,aku mau isitirahat. akupun memejamkan mata, dengan tangan Langit yg mengelusngelus rambutku.

***

Dua minggu stelah Pelangi keluar dari rumah sakit, dia memulai aktivitasnya seperti biasa. Pelangi juga sudah mulai rutin meminum obat penghilang rasa sakitnya. Pelangi tidak minum terlalu banyak obat, karena akan berpengaruh pada jantung Pelangi. Langit juga semakin teratur merawat Pelangi, meski Pelangi suka marah karena merasa dianggap seperti anak kecil. "Ngi. Udah deh, aku bukan anak TK ! jangan bikin risih gini dong Langit. Kamu ngebuat aku makin ngerasa kalo aku ini penyakitan yang cuma bisa di kasihani ! " bentak Pelangi saat Langit tak mengijinkan Pelangi mengikuti seminar menulis di kampus mereka. "Kamu kenapa ngomong gitu Angi? diluar itu mendung, lag bentar hujan. nanti kamu kena hujan Angi. Aku gamau kamu sakit." jawab Langit lembut. "Ngi, hujan gak akan bikin aku mati tau gak. sekali ini aja Langit. Aku cuma pengen datang ke seminar itu. " minta Pelangi. "aku tahu kamu Pelangi, kamu selalu suka hujan, sengaja mencari-cari alasan agar bisa berdiri dibawahnya." jawab Langit. "Terserah kamu deh Langit. kamu gak ngizinin aku bakal tetep pergi. Kamu tau aku sudah lama gak ikut bedah buku, seminar menulis, itu karena waktuku tersita dengan alasan gak boleh capek ! Jadi aku harus ngapain Langit? Diam aja nunggu ajal tiba tanpa ngelakuin apapun? Ha? ", Pelangi mulai marah, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Gak kok Angi, tapi aku gak bisa nganter kamu Angi. Aku ada mata kuliah sebentar lagi, mungkin sampai awal magrib. aku gak mau kamu pergi sendiri,aku takut kalo kamu-- ", "Langit, jangan mulai ! aku bisa pergi sendiri. Okay? aku bakal sms kalo ada apa-apa." Pelangi memotong ucapan Langit. Setelah berf ikir beberapa menit, Langit mengiyakan permintaan Pelangi. Senyum Pelangi langsung mengembang. "Tapi ingat, kalo udah nyampe, kamu langsung sms, kalo mau pulang juga sms. siapa tau mata kuliahku udah selsei pas kamu mau pulang." toyor Langit. " Iyah ih bawel kamu tuh. Aku pergi dulu yah" Pelangi langsung berlari keluar, sementara Langit hanya menatapnya yang semakin jauh. "semoga tidak kenapa-kenapa", batin Langit.

***

Di kampus, Langit berlari-lari kecil melewati tangga, saking terburu-buru, dia menabrak seseorang. Duh, wanita itu tampaknya terjatuh dengan keras, buku yang ia bawa jatuh tercecer. "em, maaf maaf. saya tidak sengaja, lagi buru-buru,maaf yah" kata Langit sembari mengambil buku-buku milik wanita yang tampaknya dua tahun lebih tua darinya. Dia sangat cantik ternyata. Wanita itu hanya tersenyum. Ah, Langit ingat dia sedang buru-buru. "sekali lagi minta maaf yah" , Langitpun berlari meninggalkan wanita itu. Langit masuk terlambat pada mata kuliah hari ini, sekitar lima belas menitan mungkin, tapi tak apa. Langit sudah jadi mahasiswa, dan keuntungannya adalah takkan ada yang menyuruhmu berdiri di tiang bendera hanya karena telat masuk kelas. Dan juga, Kelas masih terlihat ramai, pertanda dosennya belum masuk. Aneh, biasanya mata kuliah ini dosennya sangat disiplin. mungkin ada keperluan penting pikir Langit. Setelah beberapa menit, Dosen yang sedang difikirkan langit masuk ke kelas. dengan seorang wanita di belakangnya.  Wanita yang ditabraknya tadi di dekat tangga. Anak barukah ia? ah, gak tau deh. Langit malas memikirkannya, ingatannya mengarah ke Pelangi. Sedang apa yah gadis yang paling ia cintai itu? Langit sedang membayangkan betapa serius Pelangi menyimak seminar yang di ikutinya, dan juga pasti dengan semangat ia melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang ada dibenaknya. Haha, dasar Pelangi. umurnya sudah 18 tapi kelakuan masih anak anak. "Maaf saya telat. Saya ingin memperkenalkan seseorang. Mbak di samping saya ini namanya Jingga Prameswari Suryani. Dia mahasiswi yang sedang kkL, sekarang dia menjadi asisten dosen. Dia mahasiswi kedokteran, memang sedikit tidak nyamnbung mengingat kita adalah fakultas ekonomi. Tapi dia sedang meneliti tentang hubungan administrasi dengan duia kedokteran. silahkan mbak" kata Pak dosen dengan sopan. "baik class, mohon bantuannya" senyum wanita itu. 

***

Pelangi tersenyum puas. Seminar hari ini sangat seru. Kepribadian si penulis sangat tersirat dari apa yang ia tulis di buku, dan juga penjelasannya tadi, membuat Pelangi semakin menyukai penulis itu. Masih jam Lima, Pelangi ingin ke toko buku dulu, mencari seri seri lain dari novel yang ditulis oleh penulis yang baru saja menyelenggarakan seminar itu.Luna. Dia mencari-cari, dua novel Luna yang lain sudah ada ditangannya. Pelangi juga ingin mencari buku tentang bahasa pemrograman, karena mulai minggu depan dia akan mengambil mata kuliah tersebut. Resiko anak IT, fikirnya. Saat dia memilih-milih buku di rak bagian pelajaran, matanya terpaku ke seseorang. Sedang berdiri di rak bagian buku pelajaran, dia sedang memegang buku Konselasi Bintang. Laki-laki itu, rambutnya sudah agak panjang, tak seperti waktu itu. Tubuhnya sudah semakin tinggi. tapi, Alis tebalnya yang seperti ulat bulu, hidungnya yang mancung, dan wajah datar tanpa senyum itu masih sama seperti dulu. Sama seperti pertama kali Pelangi melihatnya dulu. Kaki Pelangi kaku, seakan-akan ada yang menahannya disitu. Pelangi tidak tahu harus berbuat apa. kerongkongannya tercekat, dan laki-laki itu menoleh, lalu melihat Pelangi yang sedang berdiri mematung dua meter di sebelahnya. Laki-Laki itu kaget, ia terkejut melihat Pelangi ada disini, "Utty?" panggilnya.


***


Pelangi di Hati Langit Part 4

Kamis, 10 Oktober 2013

Braakkk.
Tiba tiba pintu kamar kost ku terbuka lebar. Ternyata Langit. Tatapannya penuh amarah. ah, pasti masalah tadi sore. Pasti dia marah karena aku pergi dengan kak Izzi. Mungkin sekarang ia akan mengajakku berdebat, mungkin dia bertanya-tanya siapa kak izzi, kemana aku pergi dengannya, kenapa aku tak minta ijin pada Langit. sungguh, aku terlalu lelah untuk menjawab semuanya malam ini. hasil check up tadi sore membuatku benar-benar jenuh, benar-benar membuatku terpuruk. Andai saja aku bisa berubah wujud, ingin rasanya aku mengecil seperti semut, masuk ke lubang semut dan bersembunyi dari semua hal ini. Aku benar-benar lelah, sementara Langit dengan tatapan tajamnya mulai mendelik meminta penjelasan.

"kenapa Ngi? ",tanyaku. Dia hanya diam. tetap menatap tajam kearahku. Aku memegang tangannya dan berusaha menggenggamnya. Tapi dia menepis tanganku dengan keras. "Dia bukan siapa-siapa Langit. Dia kakak tingkat kita, kami hanya mencari buku bersama". Aku berbohong, ya. Tak mungkin aku bilang kepada langit yang sebenarnya, bahwa Kak Izzi adalah kakakk sepupuku, bahwa kak Izzi tadi mengantarku untuk check  up. "Kenapa kamu tak bilang? Pelangi, aku disini untuk kamu. kenapa mesti mencari buku bersama dia? atau paling tidak, kenapa tidak dengan Rere?" tanyanya dengan bentakan yang membuat airmata mulai menggenang dipelupuk mataku. Aku tak suka dibentak. Tak ada yag suka dibentak. Terlebih lagi hatiku mulai lelah, sudah lelah, benar-benar lelah. Aku semakin tak sanggup menghadapi dan menutup semuanya ini. "Rere pergi sama ibunya,Ngi. Aku gak tega liat kamu tidur pulas banget. gak tega aku bangunin". 

"Kamu bohong Pelangi ! Mana buku yang kamu cari? Hah?". aku mulai tergagap. aku lupa, aku tak ke toko buku. aku ke dokter, jadi bagaimana mungkin buku baru itu ada di aku. aku hanya bisa diam, menangis. aku lelah Langit. Langit mulai terlihat lunak, dia menarik kepalaku dibahunya, mengelus-ngelus rambutku. "Maaf Pelangi. aku cuma takut kamu kenapa-napa kalo ga sama aku. kamu tau kan Angi, Aku sayang sama kamu.Aku gak mau kamu sakit. Aku gak mau kamu pergi sama orang lain, apalagi cowok lain.". Aku semakin pusing,mual ini juga datang lagi. Jangan sekarang tolong tuhan, jangan datangkan ini sekarang. Kepalaku semakin berputar, aku hanya bisa diam di  dada Langit. "Assalamualaikum. Pelangii, ini obat kamu ketinggalan.." Kak Izzi masuk dan diam ketika melihat Pelangi di pelukan Langit. Langit menoleh seketika ketika Kak Izzi datang. Aku semakin pusing, pandanganku semakin kabur, lalu semua menjadi gelap. 

***

Pelangi masih tertidur di ruangan tindakan. Dan Langit sedang duduk di samping tempat tidurnya. Mata Langit memerah menahan tangis. Langit sudah tahu semuanya. Bahwa Kak Izzi adalah kakak sepupu Pelangi, keponakan dari mamanya Pelangi. Lagit juga tahu, kalo mereka tidak pergi ke toko buku, tetapi ke dokter, dan Langit juga tahu, Pelangi sudah tahu penyakitnya, lebih tahu tentang penyakitnya, dan hampir setahun lebih ini dia menyembunyikan penyakitnya dengan rapat. Aku tak mengerti bagaimana dia begitu kuat menghadapi semua ini sendiri. Bahkan kak Izzi bilang, Pelangi baru mau jujur ke Kak Izzi sebulan yang lalu, saat Kak Izzi memaksanya untuk memeriksakan diri ke dokter. Kak Izzi kuliah kedokteran, jadi ia tahu gejala apa yang sedang dialami oleh Pelangi. Terpaksa Pelangi jujur. Dan sekarang, Langit sudah tahu semua itu. Langit tak dapat menahan air matanya lagi. 

"Pelangi, aku sayang sama kamu. Jangan pernah tinggalin aku. Kita harus sama-sama Angi. Ingat janji kamu? Ingat janji kamu yang bakalan ngasih tau letak bintang venus dimana? Kamu ingat kan kamu janji bakal hidup 200tahun lagi sama aku, biar bisa liat bintang venus itu sama-sama Angi. Kamu gak boleh ingkar janji." isak Langit. Ia larut pada hujan yang ia buat sendiri. Langit tak tahu harus bagaimana. Melihat perempuan yang begitu ia cintai dengan tulus, harus terbaring lemah dengan selang infus dan dan berbagai macam kabel yang sekarang menopang badannya. Langit syok. Terlebih karena Langit kini tahu, bukan hanya kanker jaringan lunak yang sedang mengancam nyawa gadis manisnya, tetapi gagal jantung pun telah menghantui gadis ini. Bagaimana bisa Pelangi begitu sabar dan terlihat baik-baik saja? Tuhan. Langit tak tahu rencana apa yang sedang Tuhan buat untuknya dan kekasihnya,Pelangi. 

Tiba-tiba jari-jari kecil yang sedang digenggam oleh langit bergerak, mata sang gadis terbuka perlahan. Langit segera menghapus cucuran airmata yang membasahi wajanya."Langit. Kita dimana?" tanyanya terbata-bata.

Pelangi di Hati Langit Part 3

Minggu, 29 September 2013

   "ohh.. Aku ganggu ya sayang?" tanyaku sambil duduk di kasur Langit. Langit terlihat gugup, salah tingkah. "sayang kenapa? kok gugup gitu ? " tanyaku manja. "Gak apa-apa sayang. Sudah makan?", jawab Langit mengalihkan pembicaraan. "Udah, kamu udah?"jawabku. Langit menatapku dengan tatapan aneh. Dia duduk disampingku dan merangkulku, menarikku ke dadanya yang tidak cukup bidang itu. Aku suka saat dia memperlakukanku seperti itu. Karena kadang aku butuh sosok sepertinya untuk mengisi hidupku yang sempat kosong dari kasih sayang ayah. Akupun tak punya kakak Laki-laki yang dapat ku jadikan tempat bermanja. Makanya, aku begitu menyayangi Langit. Langit itu sangat berarti untukku. Aku bahkan tak pernah menyangka, hubungan semu yang kami jalani dulu itu akan berbuah manis seperti ini. Aku tak menyangka saat dulu aku uring-uringan karena hanya dapat bertemu sekali dalam rentan waktu dua bulan, ternyata sekarang setiap hariku, setiap waktu yang aku punya tak pernah terlewatkan tanpa bersama dia,Langitku :)

Kami berdua tertidur pulas. Siang itu sangat panas, kipas angin di kamar kost Langit tetap saja tak bisa menahan gerahnya panas siang itu. Aku pun terbangun dan menyetel kipas angin agar berputar lebih kencang. Ah, Laptopnya belum dimatikan, dasar Langit. Akupun segera membereskan laptopnya, kulihat materi tugas apa yang sedang ia cari. Kanker jaringan Lunak. Langit,Langit. Aku hanya tersenyum dan mematikan laptop itu dan meletakkannya di atas meja. Aku duduk dan memperhatikan isi kamar kost kekasihku ini. Semuanya tertata tdengan rapi. Dia memang tidak suka kotor, diaa tidak suka ada barang-barang yang tidak  diletakkan pada tempatnya. Jam sudah menunjukan pukul empat sore. Aku pun segera pulang menuju ke kosku. Ada tempat yang harus ku kunjungi sore ini. aku meninggalkan Langit yang masih tertidur dengan pulasnya.

***

Aku ada jadwal check-up hari ini. yah. Aku mengidap kanker jaringan lunak di bagian kepala. Sejak dulu aku merasakan sakitnya. Mual,pusing yang keterlaluan, dan tangisan yang tak henti ku alirkan selama ini ternyata karena penyakit itu. Aku hanya berusaha menutupinya. Semula aku hanya iseng mencari tahu di  Google. ditempat semua sumber informasi tersimpan didalamnya. ku ketikkan gejala penyakit yang kuderita. Dan di daftar yang paling atas muncul "KANKER JARINGAN LUNAK:" .
Aku tahu kanker jaringan lunak  itu apa. aku pernah menontonnya disalah satu film yang laris waktu itu. Aku cemas. tapi tak apa. Itu hanya dugaan. Aku mencoba tenang hingga pada akhirnya aku menerima hasil tes laboratorium yang kulakukan saat duduk di kelas 3. aku melakukan check-up untuk seluruh tubuhku. Ternyata Aku positif mengidap kanker jaringan lunak, dan juga penyakit gagal jantung. aku berusaha menyimpan semua sendiri. biar saja. Aku hanya ingin menikmati rasa sakit ini sendiri, sampai nanti tangan tuhan yang menghentikannya. Akan tetapi, Beberapa hari yang lalu Langit mengajakku untuk memeriksa kan kepalaku. aku menolak dengan halus, tetapi dia tetap memaksa. Aku takut dia semakin curiga. Jadi ku biarkan saja. Mungkin hasil test itu sudah keluar. Mungkin saja Rere yang telah mengantarkan hasil test itu. Mungkin itu yang membuat Rere menangis dan membuat langit terlihat sangat marah. Entahlah. Aku tak ingin bertanya hasilnya. Aku sudah tau, aku lebih dulu tahu. Aku tak ingin Langit mengasihaniku. Aku tak ingin terlihat lemah. Anggap saja aku tak tahu apa-apa. Langit juga berusaha menyembunyikan semua ini.
ah,tak apa. Semua sudah terlanjur. aku tak mau Langit terlalu lelah karena aku.

TiinTiiinn...
ah,suara motor Kak Izzi. Kak Izzi yang akan menemaniku checkup hari ini. aku bilang hanya test kesehatan biasa. aku juga tak mau dia khawatir. "iyaa kaak. aku tutup pintu kost dulu",teriakku. akupun naik, dan kami melangkah ke rumah sakit. Dan tanpa sepengetahuanku, ternyata Langit melihatku dibalik jendela kamarnya. Matanya tajam menatapku. Langit tak kenal Kak Izzi. Aku juga tak bilang mau keluar,apalagi dengan laki-laki lain. sudahlah. Mungkin nanti dia akan mengerti.

Pelangi di Hati Langit Part 2

Senin, 09 September 2013

Keesokan harinya, di tempat kuliah..

"Lama sekali sih Langit keluar. Dia bertelur kali di kelas" omelku sambil menunggu di depan koridor kelas Langit. "Pelangii !", teriak seseorang. Ternyata Rere, aku kira siapa fikirku. "Udah mendingan kamu Angi' ? kalok capek gak usah datang, nanti makin drop.". "gapapa, Liat udah cantik gini udah sehat ginii kok. Haha.. Kamu kemarin kenapa Re'?" tanyaku. Dia diam mematung, lalu gelagapan " eh, gapapa. Hehe..". jawabnya salah tingkah. "Hoyy, ngomongnya berduaan tapi ributnya sekampung ", sahut Zevan yang tiba-tiba muncul sambil merangkul Rere."cieeh, udah baikan nih, Makanya Re jangan galau terus!" kataku. "Baikan? maksudnya?" tanya Zevan dengan muka linglung."Hehe, gak kok Angi'. Langit mana ngi'? Belum keluar? Lama banget" ceplos Rere cepat. "iyanih, dari tadi di tungguin, katanya balik bareng". Panjang umur, Langit yang sedang kita bicarakan ternyata baru saja keluar dari kelas. Akupun berlari kecil menghampirinya. Braak. tiba-tiba aku jatuh sebelum sampai ketempat langit. Sakit, kakiku tiba-tiba lemas dan jatuh. Sial sekali. Lalu Langit membantuku berdiri dan mengomel, "gak tau pelan-pelan. Padahal kita juga jalan kok kesana."
"Hehe, Kan aku kangen Langit."jawabku iseng. "duileeh, ini cewek ngerayu aja bisanya. Pacar siapa sih gombal gini?". Hahaha, kami hanya tertawa bersama dan berjalan ke tempat parkir. Tanpa ku sadari ternyata dibelakang Rere sudah menangis lagi sambil memeluk Zevan. Zevan kebingungan dan hanya mendekap Rere. Rere kenapa? Lalu Rere mulai bercerita. Zevan pun ikut merasa lemas, dia bingung harus berbuat apa. Dia tidak menyangka hal seperti ini bisa terjadi di sekitarnya. Terjadi kepada  orang yang disayanginya.

***

"Ini Rhabdomyosarcoma. Kamu mungkin pernah dengar ini di film. Tapi kamu harus tahu Ngi'. Penyakit ini bukan cuma ada di film. Ini bisa terjadi dimana saja, bisa menyerang siapa saja. namanya kanker jaringan Lunak. dia bisa menyerang otak, leher, vagina. Penyebabnya banyak, seperti mengonsumsi makanan yang mengandung berbagai zat kimia berbahaya, mengonsumsi rokok dan alkohol, terpapar radiasi dari gelombang elektromagnetik dan logam berat, serta faktor genetik.  Jika kanker ditemukan di jaringan kepala, biasanya akan menimbulkan gejala neurologis seperti ganggaun keseimbangan tubuh, pusing, dan mual." 
Langit kembali mengingat kata-kata temannya yang ada di fakultas kedokteran. Diapun sekarang sedang browsing ke internet. Mencari-cari apa penyebab penyakit ini bisa menyerang seseorang, bagaimana penyakit ini tumbuh dan berkembang, bagaimana penyakit ini berusaha menyakiti satu-satunya Cinta yang Langit jaga selama ini. Dia tak menyangka ketika Rere datang ke kost pelangi, dia tidak menyangka akan mendengar kenyataan sesungguhnya yag sedang terjadi pada Pelangi. Ini alasan kenapa Pelangi selalu suka jatuh tiba-tiba, ini alasan kenapa pelangi terkadang mual tiba-tiba. Inilah alasan mengapa air mata Pelangi jatuh tanpa henti tatkla rasa pusing datang menggerogoti kepala Pelangi. Langit berfikir selama ini Pelangi hanya terlalu lelah, terlalu banyak berfikir keras. Langit fikir Pelangi hanya sedang stres karena jauh dari mamanya. Ternyata Pelangi yang ada dihatinya harus mengalami kesakitan seperti ini. Kenapa harus Pelangi? Kenapa harus Pelanginya Langit? Satu-satunya perempuan yang membuat Langit menjadi orang paling berharga. Pelangi menjadikan Langit satu-satunya Cinta yang ada di hatinya. Dan ketika penyakit itu datang menghampiri kekasihnya, Langit tak bisa berbuat apa-apa. Langit tak tahu harus bagaimana. Langit tak bisa menahan kesedihannya. Air matanya turun perlahan melawan ketegarannya. Jangan Pelangiku tuhan..
"sayang?" Langitpun menoleh kebelakang, kearah Pelangi yang sedang mengamatinya sejak tadi. "Kamu kenapa nangis?" Tanya pelangi sambil memperhatikan layar monitor yang tadi diperhatikan Langit. "Ini.. browsing apa? ini apa sayang?" tanyanya heran. "ii.. ini.. " Langit tergagap. Matanyapun terlihat sembap. "ini tugas sayang" jawab Langit sambil Tersenyum.

***

Pelangi di Hati Langit Part 1

"Kamu kenapa?", tanyanya sembari berusaha memelukku yang sedang terduduk dipojokan kos dekat pintu. "Kamu kenapa nangis? Sakit lagi? Kita ke dokter aja yah?", tanyanya dengan nada khawatir. Seperti biasa, dia memang pengertian. Dialah yang selalu ada untukku selama hampir tujuh bulan kami duduk di bangku kuliah kami. Dia mengambil salah satu jurusan di Fakultas Ekonomi sedangkan aku di Fakultas Teknik Informatika di kota seberang yang tidak terlalu jauh dari kota kami. Dia Kekasihku sejak kelas 3 Sma, Hampir sisa masa Sma kami habiskan untuk menjalin hubungan jarak jauh dan akhirnya kami melanjutkan kuliah di kota dan di universitas yang sama. Kos kami sangat dekat, kami hanya perlu berjalan kaki untuk saling menemui. Dan saat pagi ini dia datang menjemputku,dia melihatku terduduk dipojokan. Aku menangis, terisak. Semakin lama aku semakin merasa sakit di kepalaku semakin hebat. Dia terlihat sangat khawatir, dia memelukku begitu erat, membenamkan kepalaku didadanya, seakan dia ingin merasakan apa yang aku rasakan. Aku menangis cukup lama hingga aku mulai terlelap di dekapannya.  aku sayang dia.

***

"iyah, titip absen yah Re, Pelangi kambuh lagi nih. Iyah,makasih ya, assalamualaikum.". Samar-samar ku dengar suara kekasihku sedang menutup pembicaraan di telfon. Ah, pasti Langit menelfon Rere. Iyah, namanya Langit. Kekasihku yang berkumis tipis dan menyebalkan itu bernama Langit. Mungkin orang tuanya mennggntung harapan agar anak laki-laki satu-satunya yang merka punya ini bisa seperti Langit. Menjulang setinggi-tingginya, seluas-luasnya. "Ngi'?" panggilku. Diapun menoleh dan segera menghampiriku. "iya sayang. Gimana kepalanya? masih sakit?" tanyanya sembari mengelus rambutku. Dia memang laki-laki lembut. Aku selalu merasa nyaman berada disampingnya. "nggak kok ngi'. Kamu gak kuliah? ". Dia langsung mendelik kearahku, "kuliah? terus ngebiarin kamu sendiri? sakit kayak gini? jangan aneh-anehlah sayang. jangan bertanya hal yang harusnya sudah kamu tahu jawabannya" sahutnya. Aku hanya tersenyum, dulu dia memang berjanji, dia akan melindungiku jika memang kami berkuliah di satu tempat. "Kami itu susah sekali dibilangin ! Jangan makan mie kan aku bilang. kalo kamu malas masak, biar aku yang pergi beli makanan buat kamu. jangan makan kayak gini-gini. Dasar! Gak pernah sayang sama diri sendiri", omelnya penuh perhatian.

Dia memang begitu. entah mantra apa yang Mama kasih ke dia. Dia kadang jadi secerewet Mama, kadang dia jadi diam seperti diamnya Bapak. Kadang dia menyebalkan seperti Rania,adikku. Entahlah, dia ini pelengkap hidupku. Aku membutuhkannya seperti setengah diriku mencintai setengah diriku yang lain. Dia istimewa. Dia berbeda. Dan aku selalu jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama, Dia. Langitku tercinta.

Tok Tok Tok. Suara pintu kosku yang diketuk seseorang. Kami sedang main PS berdua, dia pemem-pause-kan permainan kami dan membuka pintu. Yang datang  ternyata Rere, dia membawa surat laboratorium hasil rontgenku kemarin.  Matanya sembab, kulihat dia berbicara serius dengan Langit. Pasti soal Zevan,pacar Rere. Akhir-akhir ini Rere sering mengetwiit seakan-akan dia akan ditinggal pergi. Pasti Zevan berubah deh. Zevan teman dekatnya Langit, makanya Rere sering bercerita tentang Zevan kepada aku dan Langit. tapi untuk kali ini Rere tidak bercerita kepadaku, mungkin karena ia tahu aku sedang sakit kepala. Aku lihat dia mulai menangis terisak,dia tak dapat membendung air matanya, dia tidak dapat menahan isak tangisnya. Aku lihat Langit diam saja, Tatapannya kosong, tapi ia seperti menahan marah, kulihat tangannya mengepal dan bergetar seperti geram. Ada apa ini fikirku. Tak lama kemudian Rere pamit pulang, Dia memelukku erat dan menangis tertahan di pundakku. Tapi ia tidak mengtakan sepatah katapun kepadaku. Ah. aku ikut geram. apa yang Zevn lakukan hingga menjatuhkan air mata Rere yang seharusnya paling ceria diantara kami?

Setelah Rere pulang, Langit menghampiriku yang sedang dudu menghadap Tv. "Lanjut mainnya Ngi'? atau udahan aja?" tanyaku padanya. "Kita istirahat aja yah sayang?" jawabnya. Ia pun tidur dikasur depan tv. aku ikut tidur disebelahnya, aku memeluknya erat, mendekapkan diri padanya. Aku juga ingin tidur. Ingin istirahat. Kami sudah seperti kakak-beradik, hanya saja Cinta yang kami punya berbeda. "Pelangi, aku sayang kamu", gumamnya.


***

Percakapan dengan Teman Lama, yang Masih Setia Menunggu Perempuannya

Selasa, 05 Februari 2013


Seperti biasa, saat jam-jam ngantor (baca:pkL) kaya gini aku gak pernah lepas dari Laptop kesayanganku. Aku sedang chating dengan seorang teman lama, teman smpku dulu. Iyah, dia laki-laki berkacamata yang mungkin masih sama seperti dulu, yang selalu ingin terlihat gila, menyukai puisi, sering menulis, dan masih menyayangi seorang perempuan bernama ara. Dan yang tak ku sangka, sampai sekarang rasa itu bertahan dan tetap ada, katanya. Percakapan singkat kami di jejaring sosial :

Aku : sering aku mikir gitu. orang bertahan ini hebat atau idiot. satu sih alasannya sebenarnya. ya karena sayang. sederhana tapi rumit

Dia : hahha,hanya sedikit orang-orang yang mikir kayak gitu. Sebagian lainnya mungkin,anggap ini hal bodoh,walaupun karena sayang,tak semua alasan bisa ditermia orang lain

Aku : kalo kamu di sudut pandang orang yang memiliki perasaan lebih, mungkin kamu juga bingung kamu itu tolol atau hebat. tapi saat posisi mu di sudut yang tidak bisa menerima hati, kamu mungkin berfikir itu benar bodoh, tolol, idiot. bagaimana mungkin kamu masih bertahan ketika yang kamu sayangi sama sekali tidak memperdulikan mu ? menyakiti diri sendiri, pembodohan diri.

Dia : haha,mungkin karena aku gak pernah jadi orang lain dan orang lain gak pernah jadi aku. Hingga sudut pandang orang selalu terbentuk secara semena-mena.
Sebenarnya ada hal yang tidak dimengerti sebagian orang tentang bagaimana bertahan dan menunggu,seperti menuggu kado yang akan datang dan menuggu orang tua yang pulang kerja. Sebenarnya menyenangkan,bukan?

Aku : seperti katamu. tidak semua orang merasa itu menyenangkan. kembali ke teori pembodohan tadi, apa yang menyenangkan dari segala keacuhan yang kau dapatkan ? menunggu ? apa yakin bahagia itu untukmu ? tapi seperti katamu juga, aku merasa itu menyenangkan, menyayangi dalam diam. menunggu ketidak pastian. ada rasa yang berbeda. kau jadi tahu arti berjuang sesungguhnya.

Dia : iya-iya. intinya semua orang mempunyai pemahamannya masing-masing,mungkin. Atau bahkan tak memahami tentang masalh hati sama sekali. Entah kenapa hingga sekarang aku masih menyayanginya,bahkan bahkan sampai saat ini,aku pun tak memahaminya.

Aku : itulah perasaan dhy, sapa yang bisa mengaturnya ? setiap orang berbeda. ada yang lebih memilih diam dalam selimut hangat di kamar yang pengap, ada yg memilih diam memperhatikan indahnya laut malam hari meski mereka tahu hanya gigil yang mereka rasakan. kau termasuk yang mana ?

Dia : Mungkin,aku lebih sering jadi yang pertama. Tapi jadi yang kedua bukan tak mungkin aku lakukan

Aku : apapun itu, waktumu akan terus berjalan. meski yang kau tunggu tak pernah jadi kenyataan, setidaknya kau pernah menikmati kesakitan yang kau buat sendiri. setidaknya dia tetap jadi bagian penting di sela hatimu. mungkin kenangan namanya, dan pastinya di sertai rindu nanti-nanti. jalani saja , ikuti saja langkah kaki. semoga hati mau mengerti .

Dia : Nice,semoga saja. Aku harap pun begitu. Semoga hati mengerti dan dia sadar bahwa aku lebih mencintai.

Tapi aku tak membalas chatnya yang terakhir. Aku me log-out akun ku. Menutup laptopku. Sudah jam 4, bel kantor sudah berbunyi. Ini waktunya pulang, karena bel di perutku tak kalah kencang dengan bel yang barusan.

Kerusuhan Sumbawa - Bali

Kamis, 24 Januari 2013

TAK APA, ITU KATA MEREKA

Saat ricuh itu terjadi, kekhawatiran melanda di dada kami. Teman kami, sahabat kami, terancam kehilangan apa yang mereka punya. Karena Satu alasan yang sebenarnya tidak benar-benar ada sangkut pautnya dengan mereka.

Sms masuk di Hp ku, dari adik kelasku, sebut saja Ayu. “doakan kami. Doakan ayu sama keluarga Ayu selamat yah.”
Ku balas dengan sedikit rasa cemas, “iyah Ayu, semoga diberi ketabahan ya, semoga semua cepat selesai”.
Yah, mungkin semua orang berharap begitu. Mereka yang tertimpa musibah tetap sabar dan tabah. Dan kepada mereka-mereka yang menjarah dan mengamuk, diberi kesadaran.
Berbagai isu , berbagai konflik dan permasalahan muncul. Terserahlah apapun masalah itu, haruskah tana Samawa kehilangan kedamaiannya ?

Tidak terpungkiri, kami menangis. Saat melihat bara api yang marah melalap habis kediaman mereka. Saat massa mulai menjarah, menghancurkan, dan memporak-porandakan tempat mereka. Memusnahkan tempat mereka beribadah , tempat mereka menyembah kepada tuhan mereka. Hati kami mengiris pilu. Betapa tidak, Mungkin saja mereka tak tahu apa-apa. Tak kenal dengan si pembuat masalah. Lalu mereka terkena imbasnya? Memangnya MEREKA salah apa !

Polos wajah mereka, atau wajah-wajah tua dan renta, yang bahkan tak mengerti apa-apa harus rela bersakitan dalam perasaan takut dan terkecam. Tabahkan mereka ya tuhan :/

Bukakan hati mereka yang mungkin sedang khilaf. Hentikan mereka dari perbuatan dosa yang tak terhingga.berikan mereka kesadaran agar mereka tau cara mereka salah. Menyakiti sesama manusia itu berdosa kan Tuhan ? Tidakkah mereka takut akan azabmu ? Karena semua orang tau tuhan, Semua itu, apapun itu, pasti ada pembalasannya kan Tuhan ?

Kami tengok teman kami di pengungsian sana yang sedang harap-harap cemas tentang hari esoknya. “hai, kamu gimana?” tanyaku pada nya. “yah beginilah, apa yang bisa kami perbuat ? “ jawabnya sembari tersenyum padaku, dengan tatapan kosongnya. Jujur perih yang kurasa saat melihatnya, mungkin tak sebanding dengan perih yang sedang ia rasakan. “Rumahmu bagaimana? Selamatkah? “.
“ jangan tanyakan aku put, tanyakan pada mereka. Disini kami sedang bingung dengan apa yang terjadi, kenapa kami bisa disini, dan apa hubungannya semua itu dengan kami ? ah, aku tak tahu bagaimana dengan rumahku. Karena yang kami fikirkan adalah bagaiman kami bisa bertahan dan tetap dekat dengan keluarga kami.”.
Aku hanya tersenyum getir melihatnya. “maaf yah Luh”.
‘maaf untuk apa put? Kalian tidak salah, tapi kami juga tidak salah put. Kalian itu orang Sumbawa, sama seperti kami. Kami juga Orang SUMBAWA. Bukankah itu berarti ini Tana kami juga? Bukannya kita ini bersaudara kann put? Bukannya bersaudara dalam perbedaan itu menyenangkan ?  Kami lahir, tinggal, tumbuh dan beribadah disini, di Sumbawa. Kami merasa menyatu dengan Sumbawa. Kami sangat MENCINTAI SUMBAWA !. Tidakkah Sumbawa mencintai kami put? “.

“aku mengerti luh,kita memang saudara,makanya aku meminta maafmu. Karena mungkin saudara kita sedang khilaf dan tidak berfikir panjang tentang semua ini.” Jawabku.
“sudahlah put, kami juga ingin Sumbawa ini damai. Ini Sumbawa kita besama kan? Kami mencintai Sumbawa put, raga kami menyatu disini. Tidak sayangkah kalian dengan Sumbawa sampai rela membuatnya terlihat tidak damai lagi ?”. Aku mencerna kata-katanya dengan baik. Di berbicara padaku, tapi tatapannya hanya menghadap kebawah.

 Dia tersenyum padaku. “Pulang dari sini kamu mengaji yah? Doakan saudara-saudar mu disini. Kami butuh doa kalian, semoga Tuhan mu mendengar tangisan kami juga. Berdoalah. Kami Tidak apa begini. Ini ujian untuk kami. Tak apa J . semoga semuanya cepat selesai yah. Semoga Sumbawa kita damai lagi. Semoga keselamatan tetap bersama kita. Untuk kami, juga untuk kaLian. Tak apa, Kita ini saudara kan? Tak usah minta maaf lagi. Kami memaafkan kalian. Kami juga minta maaf untuk kesalah apapun itu yang mungkin menjadi pemicu kami bisa berada disini. Sampaikan salam untuk teman yang lain. Beribadahlah dan Doakan kami disini yah”.

Hatiku miris mendengarnya. Akku memeluknya tanpa bisa menahan air mataku. Aku terisak di pundaknya. Tak tahan melihat ketegarannya. Tak sangka mereka masih bisa bilang mereka semua bersaudara setelah apa yang telah orang itu lakukan. Dia hanya mengelus bahuku, dengan kelembutan, sesak yang kurasa saat melihat betapa kesengsaraan dan kecemasan itu tak membuat mereka marah atau dendam. “TAK APA” itu kata mereka :’(


 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS